Studi Kasus #3 : Operator Telekomunikasi di Indonesia

Dari tiga operator papan atas Indonesia berdasarkan harga saham hanya ada satu yang punya kinerja pasar yang baik. Padahal mereka beroperasi di pasar, teknologi, kondisi sosial dan ekonomi yang relatif sama, dan regulasi yang sama, Sebagai gambaran tentang situasi yang sedang dihadapi kunjungi:
 http://www.manajementelekomunikasi.org/2012/07/halo-halo-bandung.html

Pertanyaan :

  1. Tentukan peran kelompok Anda lalu pelajari strategi masing-masing operator saat itu lalu temukan sedikitnya 10 fakta pemicu (5 eksternal dan 5 internal) yang Anda anggap berperan menyebabkan hal tersebut terjadi.
  2. Temukan 3 pemicu yang paling dominan untuk ketiganya yang menyebabkan kinerja mereka seperti tersebut.
  3. Lakukan analisis untuk menentukan langkah2 apa yang perlu dilakukan untuk “mengejar” dan “bertahan” lalu apa dampaknya jika hal tersebut tidak segera dilakukan.
  4. Susun kesimpulan dan saran agar kinerja masing-masing dapat tumbuh pada tingkat yang hampir sama
Tugas :

Susun Laporan Awal dan Laporan Akhir

Pilihan Peran :

 1. Operator; 2. Regulator; 3. Vendor; 4. Investor

Laporan :

Laporan awal (softcopy) : Jum’at (05-Okt-2012)
Laporan akhir  : Selasa  (09-Okt-2012)
(versi tulisan dan upload)


----

Kelompok 5 (membahas dari sisi Investor)
Semua operator di Indonesia bersaing dalam kondisi yang sama baik itu teknologi, kondisi sosial dan ekonomi yang relatif sama serta regulasi yang sama. Tetapi apabila kita melihat kondisi harga saham dari ketiga operator Indonesia maka hanya satu operator yang memiliki pertumbuhan harga saham yang relatif baik yaitu Excelcomindo.

Kelompok 1 (membahas dari sisi Operator)
Industri telekomunikasi saat ini memang sedang mengalami perubahan. Dari refleksi harga saham atas nilai sekarang dan potensi masa depan sebuah perusahaan, maka dari gambar di bawah jelas terlihat ada masalah pada operator telekomunikasi di Indonesia. Hanya ada satu operator yang mencatatkan pertumbuhan yang positif. Lalu apa yang membedakan? Dan, sepatutnya hal ini menjadi masalah di tingkat industri atau makro
Baca Selengkapnya >>

Kelompok 8 (membahas dari sisi Operator)
7 tahun yang lalu, bisnis telekomunikasi menjadi salah satu dari 5 sector bisnis yang paling menggiurkan menurut Bank Indonesia, dimana penetrasi layanan telekomunikasi masih rendah dan ketersediaan handset yang berlimpah, membuat operator telekomunikasi menangguk untung besar dengan pecepatan pertumbuhan yang significant. Bisnis voice dan pesan singkat kala itu menjadi motor penggerak utama pemasukan operator. ARPU masih diatas kisaran 100 ribu per bulan, dan bahkan harga simcard perdana saja masih terbilang mahal. Sedangkan layanan data pada saat itu masih menjadi layanan tambahan sempalan alias Value Added Service dengan teknologi GPRS dan HSCSD nya. Layanan data miskin akan killer application dan terkesan sekedarnya saja digelar, terlebih pipa kecepatan yang ditawarkan dari teknologi yang tersedia yang hanya ~18kbps sehingga membuat pelanggan malas untuk mencobanya.
Baca Selengkapnya >>

Kelompok 2 (membahas dari sisi Regulator)
Saat ini pengguna telepon seluler di Indonesia dilihat secara kasat mata telah tumbuh berkembang dengan pesatnya  bahkan telah menyamai jumlah penduduk di Indonesia. Hal ini juga ditunjang dengan adanya persaingan antar operator untuk mendapatkan jumlah customer bagi keuntungan perusahaan mereka untuk dapat bersaing di industry telekomunikasi. Melihat perkembangan itu, kami mencoba melihat dari sisi regulator seberapa besar perkembangan industry telekomunikasi di Indonesia dapat berkembang dengan regulasi-regulasi yang ada sekarang untuk dapat berkembang. Karena sebenarnya dilihat dari jumlah perkembangan pelanggan di Indonesia seharusnya para operator di Indonesia mempunyai kinerja yang baik. Tetapi pada kenyataannya dari 3 operator besar yaitu PT. Telkomsel, PT. Indosat dan PT XL axiata hanya satu yang punya kinerja yang baik. Padahal mereka beroperasi dengan kondisi persaingan yang sama.
Baca Selengkapnya >>

Kelompok 3 (membahas dari sisi Operator)
Dari tiga operator papan atas Indonesia berdasarkan harga saham hanya ada satu yang punya kinerja pasar yang baik. Padahal mereka beroperasi di pasar, teknologi, kondisi sosial dan ekonomi yang relatif sama, dan regulasi yang sama
Baca Selengkapnya >>

Kelompok 6 (membahas dari sisi Investor)
Industri telekomunikasi Indonesia mulai memasuki masa jenuh. Jumlah pelanggan seluler Indonesia hampir sama dengan jumlah penduduk Indonesia. Namun jika dilihat dari pergerakan saham ke-3 operator besar seluler Indonesia, hanya satu operator yang mengalami peningkatan. Sedangkan ke-2 operator lainnya tidak mengalami peningkatan pertumbuhan harga saham yang signifikan. Jika kita melihat pada sisi teknologi, ke-3 operator menggunakan teknologi yang relative sama dalam market yang sama pula
Baca Selengkapnya >>

Kelompok 7 (membahas dari sisi Operator)
Nilai suatu saham perusahaan sangat terkait dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan pendapatan yang tinggi cenderung mengalami kenaikan saham yang tinggi. Sebaliknya, perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan yang rendah cenderung mengalami kenaikan saham yang relatif rendah. Kinerja saham industri telekomunikasi di Indonesia sedang dalam mengalami pasang surut dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi pada tiga operator telekomunikasi besar di Indonesia (Telkom, XL Axiata, dan Indosat).
Baca Selengkapnya >>

Kelompok 4 (membahas dari sisi Investor)
Untuk melihat kinerja operator telekomunikasi di Indonesia salah satunya dapat dilihat dari pertumbuhan harga saham operator-operator tersebut. Sebagai indikator penilaian para investor atas nilai suatu perusahaan maka nilai saham dapat menggambarkan bagaimana kondisi saat ini dan masa depan dari operator telekomunikasi di Indonesia. Selain itu kinerja operator telekomunikasi juga dapat dilihat dari pertumbuhan pendapatan operasional dari perusahaan.
Baca Selengkapnya >>

54 comments:

  1. Ayo sama-sama kita identifikasi interest dari masing-masing pihak sesuai Peran yang dipilih

    ReplyDelete
  2. Kunjungi
    http://www.informatandm.com/wtfb/

    untuk menambahkan gambaran apa yang sedang terjadi di negara lain.

    ReplyDelete
  3. Penilaian akan diberikan terhadap saran yang akan membantu yang "tertinggal" mengejar ketertinggalannya dan yang "unggul" menjaga keunggulannya.

    Masing-masing kelompok memberikan apa yang diperlukan untuk itu dari sisi eksternal dan internal dengan tujuan akhir adalah agar masing-masing operator dapat mempunyai pertumbuhan yang hampir sama.

    ReplyDelete
  4. Waduh, kalau saya lihat di link ini :
    http://ycharts.com/companies/TLK/return_on_equity

    Telkomsel yang notabene operator terbesar ternyata return nya juga kurang bagus.. ada strategi nggak ya dari operator / vendor / regulator ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai operator, kita tentunya sudah mempunyai road map teknologi masing-masing, dan tentunya pasar Indonesia adalah pasar yg paling menjanjikan. Dari road map teknologi itu, kita sudah dapat "membayangkan" akan "besarnya" keuntungan yg akan diperoleh investor, hal ini tentunya akan tercapai ketika regulasi di Indonesia sudah mengakomodir.

      Thanks.
      Operator (Kelompok 1)

      Delete
    2. @Pak Ferry:
      mungkin jawabannya sama dengan jawaban kami terhadap pak Bangsawan

      Delete
    3. kami dari operator strateginya cuma dua aja, increase revenue dan saving cost.
      untuk increase revenue ada beberapa cara yaitu monetize data traffic dengan deep packet inspection, mobile advertising.
      untuk saving cost kita bisa melakukan manage service

      Delete
    4. Yth

      kel 1 dan 2 : nice, tapi apa strategi anda ? .. apakah turunnya ARPU seperti fakta saat ini merupakan bagian dari roadmap anda ?

      kel 8 : cukup menarik, anda pasti dari excel ya .. kami akan lihat laporan keuangan tahunan dan kesuksesan anda selanjutnya ..

      Delete
    5. Grafik pada link yang diberikan bukan untuk Telkomsel lho...

      Delete
    6. Memang betul link tersebut bukan untuk Telkomsel tapi untuk Telkom secara group. Meski demikian hal tersebut bisa menjadi cerminan dari Telkomsel karena Telkomsel memiliki bagian yang cukup besar dalam Telkom Group. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat Financial Statement PT Telkomsel di link berikut :

      http://www.telkomsel.com/media/upload/annualreport/AR_Telkomsel_2011_ENG_rev.%2021Sept2012_Web%20Version.pdf

      Pada link tersebut (halaman 4) terlihat jelas bahwa RoE Telkomsel terus mengalami penurunan dari tahun 2007 hingga 2011..

      Delete
    7. Makasih infonya.... Anda canggih juga rupanya. Bisa bantu carikan annual reportnya untuk 5 tahun terakhir?

      Delete
  5. Pertanyaan utk investor :
    Kami membutuhkan modal untuk pengembangan SDM sehingga dapat menciptakan SDM dgn kualitas yang unggul dan diakui di tingkat internasional

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dijelaskan , kualitas unggul seperti apa yang anda butuhkan ? ... bagaimana manajemen SDM tersebut.. Tolong yakinkan kami mengenai manajemen SDM yang anda usulkan

      Kel 5 - Investor

      Delete
    2. By the way,

      Apakah SDM merupakan fokus utama anda ? ... wah, saya lebih prefer milih investasi di perusahaan yang fokus di core bisnisnya..

      Delete
    3. Yth

      kel 1 dan 2 : nice, tapi apa strategi anda ? .. apakah turunnya ARPU seperti fakta saat ini merupakan bagian dari roadmap anda ?

      kel 8 : cukup menarik, anda pasti dari excel ya .. kami akan lihat laporan keuangan tahunan dan kesuksesan anda selanjutnya ..

      Delete
    4. @pak Ferry: Pengembangan SDM merupakan hal mutlak yang dilakukan oleh semua perusahaan, sebab karyawan merupakan asset yang sangat penting dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
      pengembangan SDM ini kami perlukan rangka peningkatan kinerja dan efisiensi karyawan yang nantinya diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan sec keseluruhan.

      Salah satu fokus dalam peningkatan SDM di operator adalah menyempurnakan HR (Human Resource) policy.Mengingat berbagai macam isu seperti dibahas dalam kelemahan internal organisasi, dilakukan perbaikan system dan kebijakan di HR, diantaranya adalah:
      a.Man hour system.
      Man hour system bekaitan dengan jam kerja karyawan yang terus menerus dilakukan koreksi dan perbaikan mengenai hak dan kewajiban karyawan yang telah disepakati bersama. Hal ini untuk menghindari terjadinya over load pekerjaan karyawan dan penentuan besarnya bonus yang diterima karyawan berdasarkan kontribusi yang ada di dalam proyek dimana karyawan tersebut terlibat.
      b.Revise overtime regulation.
      Dibutuhkan perbaikan serta koreksi regulasi jam kerja lebih diluar jam kerja normal yang telah disepakati. Agar memberikan timbal balik yang saling menguntungkan antara pihak perusahaan dan karyawan. Hal ini untuk menegetahui tingkat overload pekerjaan dan distribusi rata-rata pekerjaan karyawan sehingga bisa dilakukan perbaikan dalam hal load sharing.
      c.Regulate contract management system.
      Hal ini berkaitan dengan kebijakan rekrutmen karyawan dari pihak outsorcing dan kebijakan dalam hal reimbursement biaya operational ataupun claim dari karyawan outsorcing ketika terjun dan berkecimpung di dalam sebuah proyek.
      d.Regulate HR planning.
      Perlu dilakukan career HR path, yakni mengajarkan karyawan utuk melihat dan mengetahui ke depan status dan posisi dirinya seperti apa. Hal ini berkaitan dengan status, apakah masih junior, senior ataupun gaji yang nantinya akan didapatkan berdasarkan status dan lamanya masa kerja tersebut.
      e.Improve HR regulation and system.
      Sistem yang ada perlu dikoreksi dan dievaluasi, apakah penempatan seorang karyawan sudah sesuai dengan deskripsi posisi yang dibutuhkan, apakah karyawan merasa enjoy dengan pekerjaan yang sekarang, dan lain sebagainya.

      Erfin (Kel 3-Operator)

      Delete
    5. Bisa lebih spesifik? Untuk program pengembangan SDM yang "tertinggal" atau yang satunya lagi? Dan ini dilakukan dalam rangka menjalankan strategi apa? (lihat pilihan strategi di buku)

      Delete
    6. Yth Kelompok 3.

      Saya sepakat bahwa pengembangan SDM adalah hal mutlak yang harus dilakukan. Tapi kita tetap harus ingat bahwa perusahaan adalah sebuah sistem dimana memiliki komponen selain SDM seperti Modal, Teknologi bahkan mungkin Politik.

      Dan perlu diingat ketika terjadi suatu perubahan dimana banyak SDM memiliki skill yang sama, apakah pada saat tersebut SDM masih dianggap sebagai "asset" atau "barang tergantikan". Terlebih ketika industri tersebut padat modal dan berteknologi tinggi tetapi teknologi tersebut mudah dipelajari oleh engineer melalui program training yang diselenggarakan perusahaan tertentu seperti vendor.

      Dalam kasus SDM telah menjadi "aset yang dapat digantikan" dimana "supply SDM" banyak sehingga posisi tawar SDM rendah maka saya selaku investor tidak akan terlalu ketat melakukan manajemen SDM. Karena saya dapat dengan mudah mencari penggantinya.

      -Kel 5-

      Delete
  6. kami dari operator :
    untuk regulator apakah dimungkinkan untuk membuat peraturan yang mengatur tentang minimum harga untuk suatu layanan dibandingkan terhadapkan QOS yang wajib diterapkan bagi kita sebagai operator?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Kelompok 8:
      Hal ini memungkinkan, khususnya untuk layanan data.
      Beberapa operator sudah menerapkan strategi tersebut, misalnya PT XL Axiata sudah menerapkan strategi demikian dengan mengahapus produk unlimited dan mengeluarkan XmartPlan, yaitu kualitas layanannya disesuaikan dengan harga yang dibayarkan.

      Delete
  7. Kondisi persaingin yang 'adu nafas' seperti saat ini hanya menunggu siapa yang bertahan atau membiarkan siapa yang mati. Apakah regulator akan membiarkan hal ini terjadi ? atau ada rencana regulator mengatur dengan menentukan tarif minimum dan insentif lain?
    Azwani, group 3, kelompok operator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentu harus sejalan dengan strategi yang akan dijalankan dan keunggulan kompetitif (jangka panjang) apa yang ingin dicapai karena regulasi berlaku umum (ingat ini bukan era monopoli lagi). Regulasi berlaku bagi Anda dan pesaing anda.

      Delete
  8. untuk pihak regulator :
    turunnya industri telco salah satunya disebabkan karena terlalu banyanya nya operator yang bermain,
    Permen QoS seharusnya ditinggikan kualitasnya sehingga akan berfungsi sebagai filter beautiful contest,, sehingga yang terbaiklah yang akan survive..
    kenapa standar Qos sangat rendah ?

    ReplyDelete
  9. http://techcrunch.com/2011/11/04/zynga-q3-revenue-up-80-percent-to-306-8m-net-income-down-over-50-percent/
    dear operator, sesuai dengan link di atas bisnis konten sangat menguntungkan , apakah operator akan melirik ke bisnis ini......
    kami dari investor butuh info nya ne....:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kedepan bisnis content / IT software akan terus tumbuh, operator pada saat ini operator hanya berjualan pipa.. operator sangat tertarik bisnis ini.. mengembangakn conten juga bisa mengembangkan cluster industri baru.. tapi masing nunggu investor.. ada pendapat investor?

      Delete
    2. strategi seperti apa yang akan operatorjalankan ,sebelum kami berinvestasi dalam bisnis konten ini melihat persaingan bisnis konten lebih ketat.

      Delete
    3. Dear Bu Eka (Investor),
      Jika operator terjun ke bisnis content atau IT, maka operator tidak akan fokus. Tetapi, tidak tertutup kemungkin beberapa operator berkolaborasi untuk membuat aplikasi yang bisa mennggantikan BBM (Blackberry Mesenger) misalnya, untuk menghindari biaya/fee ke Blackberry.

      Delete
    4. dari operator :
      kedepannya bisnis IT semakinke telko dan bisnis telko semakin ke IT. saat ini perusahaan yang paling besar revenuenya adalah yang menggelar layanan konten, seperti google, apple, microsot, dll. telko hanya sebagai dumb pie saja, sudah saatya telko mengambil alih peran tersebut karena telko lebih dekat dengan pelanggan dan berkemampuan lebih untuk itu dari segi traffic manipulation dibanding google apple dan lainnya.

      Delete
    5. terima kasih untuk infonya sama seperti, operator sebelumnya yg memberikan info, sebelum berinvestasi kami para investor butuh tau strategi seperti apa dalam terjun ke bisnis konten ini,

      Delete
    6. Good point from investor perspective :)

      Delete
  10. Yth Bapak Ibu Investor,

    Bila anda adalah investor baru di dunia telekomunikasi Indonesia, anda memiliki dana sebesar XX million Dollar, apakah anda berani menginvestkan semua kapital yang anda miliki ke Excelcomindo? atau
    parsial? beserta alasannya. Terimakasih.

    Salam,
    Kelompok 1 (Operator)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, kalau itu saya akan melihat berdasarkan laporan keuangan yang baik dan strategi yang anda buat serta bussines model ke depan.. kalau semua itu tidak ada ya saya akan melirik bisnis lain yang lebih menguntungkan...

      selain itu saya tidak akan menaruh resiko "in one basket"... i will put in several basket to divide the risk ?

      Delete
    2. Sesuai data yg bapak punya pada http://www.manajementelekomunikasi.org/p/ulasan-studi-kasus-3-oleh-kelompok-5.html , perusahaan excelcomindo mempunyai pertumbuhan saham yg baik, sehingga sangat memungkinkan untuk melanjutkan investasi pada operator tsb.

      Salam,
      Kel 1 operator

      Delete
  11. @Pak Bangsawan: Untuk menjawab semua pertanyaan yang disampaikan kepada Regulator, kami memiliki beberapa strategi sebagai berikut:

    1. Technology driver yang dominan dilakukan oleh Vendor, untuk ke depannya akan ditentukan oleh Regulator, bukan hanya soal technology dasar atau penentuan frekuensi, tetapi sampai ke detail technology itu sendiri.

    2. Regulator telekomunikasi akan bersinergi dengan berbagai departemen terkait (Departemen Perindustrian, Perdagangan, Ristek, dan Keuangan), dengan tujuan untuk meningkatkan industri telekomunikasi dalam negeri.

    3. Mengeluarkan yang jelas dalam pembatasan kepemilikan modal asing di bidang telekomunikasi, misalnya porsi untuk LN maksimal sebesar 40% dan lokal sebesar 60%. Tujuannya untuk melindungi sektor telekomunikasi itu sendiri dari larinya modal asing secara mendadak.

    4. Melakukan standarisasi perangkat jaringan dan handset yang digunakan oleh operator dan ditawarkan vendor/pabrikan, dengan tujuan melindungi standard kualitas layanan yang dirasakan pelanggan. Seperti saat ini banyak sekali handset-handset yang menggunakan signalling sangat banyak, sehingga mengganggu proses komunikasi secara keseluruhan.

    5. Membuat aturan jelas dalam kompetisi antar operator dan vendor telekomunikasi, termasuk dalam hal persaingan harga.

    6. Membuat standarisasi penggunaan frekuensi terhadap jumlah pelanggan dalam suatu satuan kilometer persegi, hal ini berguna untuk mencegah rendahnya standar kualitas layanan yang disebabkan oleh kekurangan frekuensi.

    ReplyDelete
  12. study dari nielson satu orang indonesia punya 1,68 simacard.. salah satunya hal itu karena adanya sistem pra bayar.. easy pay easy go..

    regulator apakah bisa bantu regulasi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Bu Fajar: Untuk case ini, regulator akan mengkaji kecenderungan pelanggan di Indonesia, kenapa cenderung memiliki SIM Card lebih dari 1. Apabila disebabkan oleh harga, maka hal ini perlu dikaji lagi untuk menettukan standar tarif yang bersaing. Namun apabila masalah kualitas jaringan, hal ini merupakan hal yang bagus, karena bisa saja pelanggang tersebut menggunakan lebih dari 1 SIM Card sebagai cadangan, apabila tidak ada coverage dari operator bersangkutan, bisa menggunakan jaringan operator lainnya.

      Delete
    2. Sekarang kan kita tengah dilanda BOOMING telepon selular. Salah satu pemicunya adalah murahnya trend kartu prabayar, jaman itu dalam hitungan sekejap saja pertumbuhannya pelanggannya melonjak pesat. Fenomena ini pasti lah memberikan harapan segar bagi industri, walau di sisi lain akan menimbulkan persoalan baru bagi konsumen. Kebebasan konsumen utk memilih atau berpindah operator harus dilakukan dengan cara pembelian nomor ponsel baru…....dan alhasil konsumen selular seolah menjadi kolektor nomor telepon dari beberapa operator
      Padahal bisa diterapkan cara konsep Mobile Number Portablity (MNP) yang memberikan konsep keleluasaan user utk memilih operator selular mana yang dimau dengan tetap menggunakan nomor ponsel yg sudah dimilikinya…tidak perlu ganti-ganti nomor ponsel baru. Karena belum diterapkan konsep MNP, user/pelanggan tidak bisa melakukan ‘pindah operator lain’ (porting ) utk mendapatkan layanan yg diberikan. Semisal pelanggan telkomsel porting menjadi pelanggan xl agar dapat menikmati paket layanan murah nelpon sepanjang hari yg ditawarkan xl, atau seorang pelanggan IM3 yang porting ke telkomsel karena dia selama beberapa hari akan berada di daerah yang sinyal telkomsel nya lebih kuat. Bisa dibayangkan pasti para pelanngan selular akan semakin dimanjakan, sementara industri seluler tampil lebih kompetitif karena MNP bisa mengeliminir salah satu penghambat interkoneksi. Tentu saja aturan dan perangkat pendukung MNP harus dipenuhi lebih dulu misal perjanjian atau kesepakatan antar operator, bagaimana cara penanganan pola pembayaran pelanggan dari operator lama ke operator baru, agar tidak terjadi kecurangan. Pakistan, negara yang ada di belakang kita saja sudah menerapkan MNP….kapan ya Indonesia ?

      Delete
  13. Pak Ferry (Investor),
    Return yang kurang bagus adalah akibat persaingan yang 'adu nafas' tadi. Disamping itu, OTT seperti Blackberry mendapat porsi terbesar. Operator dibebankan biaya/fee oleh blackberry dan biaya transmisi/backbone. Jika operator seperti telkomsel tidak ikut menurunkan tarif, maka pelanggan akan lari ke operator lainnya. Dilemanya, kalau operator bekerjasam mengatur tarif maka akan dianggap melakukan prakter kartel. Kalaupun tidak kena aturan kartel, dikhawatirkan akan ada operator yang 'mbalelo' untuk menang sendiri.
    Jadi, kesimpulan kami, memang harus ada pengaturan harga minimum. Tapi perlu dipikirkan juga agar tidak membebankan rakyat. Azwani (Operator)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon maaf sebelumnya.. Apakah ini artinya kelompok anda hanya melihat ini semua kesalahan regulator ? ..

      Maksud kami, bisnis harus kreatif mencari celah keuntungan lain kalau memang pasar tersebut sudah jenuh / atau mature ?

      Delete
    2. wah Pak.. saya kurang paham... mungkin ada regulator yang bisa menjelaskan..

      saya menunggu laporan keuangannya saja ya..

      Delete
    3. Yth Pak Azwani (Operator),

      wah, saya kelompok investor Pak.. Saya mau lihat tanggapan kelompok regulator..

      saya tunggu laporan keuangannya saja ya..

      -investor-

      Delete
    4. Coba lihat fenomena low cost carrier di industri penerbangan. Mengapa mereka bisa survive tanpa regulasi harga?

      Delete
  14. teman-teman Operator, Investor dan Vendor,
    Tolong kasih masukan sebenarnya apa yang anda inginkan Regulator lakukan agar
    1. Investor bersedia menanam modal ke perusahaan telko
    2. Dunia telekomunikasi kita tidak mengalami "kiamat"
    3. Kualitas layanan operator dapat terjaga dengan baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. supaya lebih fokus ya....

      Delete
    2. Kami selaku investor membutuhkan kepastian terlebih bila anda dapat memastikan duit kami kembali dan tidak terbuang percuma. Lebih baik lagi apabila anda dapat menetapkannya dalam bentuk aturan tarif batas minimum dan maksimum yang wajar yang dikawinkan dengan aturan QoS. Dengan adanya aturan QoS dan tarif yang jelas maka akan memudahkan kami dalam melakukan investasi berlandaskan perhitungan bisnis yang jelas.

      Delete
    3. Kami investor juga sangat memperhatikan kompetisi yang terjadi, kami paham bahwa dibukanya era kompetisi melalui UU 36 th 1999 adalah untuk meningkatkan penetrasi ICT.

      Tapi perlu diingat bahwa sekarang penetrasi ICT kita sudah cukup bagus (http://www.google.com/publicdata/explore?ds=d5bncppjof8f9_#!ctype=l&strail=false&bcs=d&nselm=h&met_y=it_mlt_main&scale_y=lin&ind_y=false&rdim=region&idim=country:IDN&ifdim=region&hl=in&dl=in&ind=false)

      dan bila dibandingkan dengan penetrasi dunia (dicentang : dunia) kita masih dalam posisi growth

      http://www.google.com/publicdata/explore?ds=d5bncppjof8f9_#!ctype=l&strail=false&bcs=d&nselm=h&met_y=it_mlt_main&scale_y=lin&ind_y=false&rdim=region&idim=country:IDN&ifdim=region&tdim=true&hl=in&dl=in&ind=false

      selain itu teknologi berkembang sedemikian cepat disertai tuntutan pelanggan terhadap harga yang semakin murah.

      Yang ingin saya tanyakan adalah, apakah regulator masih akan terus membuka era kompetisi tersebut ? ataukah sudah cukup dan mendorong konsolidasi serta kolaborasi untuk semua operator sehingga terwujud efektifitas dan efisiensi yang dapat memberikan keuntungan yang menggiurkan ?

      Delete
    4. wahhh.....data yang menarik pak ferry.
      kondisi telekomunikasi di indonesia memang ngeri-ngeri sedap kata orang medan bilang.
      sebenarnya untuk investor cukup melihat good will pemerintah (regulator) untuk menjaga kondisi pasar dalam negri secara kondusif. karena pasar di indonesia punya potensi sangat besar dan sedang bertumbuh.
      makanya kita sebagai investor nunggu langkah2 regulator untuk menjamin investasi kami berputar dengan aman.
      ada tanggapan dari regulator?

      Delete
  15. Dewasa ini persaingan pasar telekomunikasi antar operator sangat ketat,dan yang paling digarisbawahi adalah marketing yg gencar. Sementara sisi marketing dan kepuasan pelanggan acap berbenturan.
    Nah,
    1. Bagaimana para regulator bisa memaksa operator dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas jaringan (QoS), tidak sekedar asal jualan??

    2. Dewasa ini operator lebih gencar menawarkan berbagai bonus dan tarif murah pada pelanggan prabayar dibandingkan pascabayar, dikarenakan mayoritas konsumen seluler di Indonesia merupakan pengguna kartu prabayar yang cenderung lebih beresiko untuk berganti nomor atau berpindah operator, berbeda dengan pengguna kartu pascabayar yang lebih terjamin loyalitasnya. Bagaimana regulasi bisa diterapkan untuk customer pushing dalam hal ini?

    ReplyDelete
  16. Yth semua, mohon info apakah ada yang tahu cara menentukan strategi dari analisa 5 porter ?.. Sebagai contoh ditemukan hasil penilaian sebagai berikut :

    - Bargaining Power of Suppliers : 7
    - Threat of Substitute Product : 5
    - Bargaining Power of Customers : 8
    - Threat of New Entrants : 6
    - Competitive Rivalry within an industry : 6

    Maka untuk menentukan kita menggunakan cost leadership atau diferensiasi atau fokus gimana ya ?
    Atau bebas saja kita memilih dan menggunakan strategi ?
    Sekaligus mohon info juga seandainya ada strategi lain (selain cost leadership atau diferensiasi atau fokus) dengan memanfaatkan hasil analisa 5 porter ?

    Terima kasih sebelumnya atas infonya
    -Kelompok 5-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba masuk ke www.lontar.ui.ac.id
      Disitu banyak karya ilmiah dan beberapa diantaranya menggunakan five forces dari Porter untuk mengembangkan strategi.

      Delete

Membuat Link Pada Komentar Anda
Agar pembaca bisa langsung klik link address, ketik:
<a href="link address">keyword </a>
Contoh:
Info terkini klik <a href="www.manajementelekomunikasi.org"> disini. </a>
Hasilnya:
Info terkini klik disini.

Menambahkan Gambar Pada Komentar
Anda bisa menambahkan gambar pada komentar, dengan menggunakan NCode berikut:

[ i m ] URL gambar [ / i m ]

Gambar disarankan memiliki lebar tidak lebih dari 500 pixels, agar tidak melebihi kolom komentar.

---

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger