Senin, 09 Juli 2012

HALO-HALO BANDUNG .. !!!




Jika harga saham merefleksikan kesepakatan para investor atas nilai sekarang dan potensi masa depan sebuah perusahaan maka kita dengan jelas dapat melihat ada masalah disini. Gambar dibawah ini merupakan pertumbuhan harga saham dari tiga operator utama Indonesia dalam lima tahun terakhir. 




Gambar. Kinerja harga saham tiga operator telekomunikasi terbesar di Indonesia
(sumber : Yahoo! finance)



Saat ini hanya ada satu operator yang mencatatkan pertumbuhan yang positif. Lalu apa yang membedakan? Dan, sepatutnya hal ini menjadi masalah di tingkat industri atau makro.

How long can you go?

Di sisi lain, para operator menggunakan teknologi, layanan, beroperasi di bawah Undang-undang dan peraturan serta pasar yang relatif sama. Perbedaan yang nyata adalah pada sumberdaya manusia yang menjalankan kegiatan, manajemen yang mengelola usaha, proses pembentukan strategi, pemilihan strategi, pelaksanaan strategi, dan gaya kepemimpinan. Pilihan tentang gaya kepemimpinan ini menarik untuk diperhatikan lebih jauh kali ini karena mempunyai kaitan yang erat dengan bidang-bidang lain.

Ada sebuah tulisan dari Stephen J. Wall, seorang spesialis pada bidang managing strategy and leading people. Pada salah satu bukunya, beliau mengemukakan pendapatnya “gathering people involved in the formal strategy process”. Intinya adalah bahwa proses terkait dengan strategi di perusahaan sudah bukan lagi menjadi otoritas penuh para pimpinan. Dalam bukunya disebutkan sejumlah perusahaan terkemuka telah melibatkan semua unsur di setiap tingkat dalam pengelolaan strategi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan yang diharapkan bersama.

Industri telekomunikasi saat ini memang sedang mengalami perubahan. Kita sadari atau tidak, perubahan tersebut tengah berlangsung dan dampaknya dapat kita rasakan bersama. Mengapa pertumbuhan industri menurun di tengah terjadinya pertumbuhan ekonomi? Layanan telekomunikasi yang ada saat ini cenderung menjadi barang komoditas. Layanan tidak lagi menjadi monopoli dari pemilik jaringan seperti yang terjadi di masa lalu. Isu mengenai over the top (OTT) yang diributkan hanya menjadi salah satu bentuk dari dampak perubahan tersebut dan ini seharusnya tidak perlu terjadi jika industri ini mengenalinya sejak awal.

Disini lah letak pentingnya peran sumberdaya manusia yang berkualitas baik dan dididik dengan baik pula. Ilmu yang ada saat ini mungkin sudah usang. Strategi yang baik di masa lalu tidak bisa dihandalkan lagi. Kita semua memahami bahwa kebijakan strategis akan menimbulkan dampak yang luas untuk jangka panjang.


HALO-HALO BANDUNG ! mari bung kita rebut kembali kejayaan industri telekomunikasi Indonesia.

Adakah gaya kepemimpinan ini yang menjadi perbedaannya?

Di sini pendidikan manajemen telekomunikasi seharusnya berperan secara khusus. Apalagi jika kita perhatikan bahwa industri ini sedang bergerak dari bentuk vertikal menuju ke arah horizontal. Mari kita berbagi pengalaman. Dari kita untuk kita.

Yellow Thunder Team

Catatan:
Tulisan ini merupakan yang bagian pertama yang akan diikuti dengan sejumlah tulisan lain yang akan memaparkan fakta-fakta terkait dengan kinerja saat ini dengan tujuan untuk membangun kepedulian (awareness) bersama akan masa depan industri telekomunikasi Indonesia dan berbagai kemungkinannya.


Penulis :
 Fajardhani
fajardhani.alimin@gmail.com
++

PEMIKIRAN ANGKATAN BERIKUTNYA (ME-2013)

oleh:
Lessy Sutiyono Aji, Marthin Rajagukguk, Muhammad Wildan & R. Apip Miptahudin

Secara garis besar kinerja sektor telekomunikasi kurang menggembirakan di sepanjang semester I Tahun 2014. 
XL mencatatkan rugi bersih Rp. 482,52 miliar. 
Pendapatan INDOSAT turun 0,8 persen dibandingkan pada periode sama 2013. 
Hanya TELKOM yang mengalami pendapatan;  naik 8,4 persen menjadi Rp 43,54 triliun dari periode sebelumnya semester I 2013 sebesar Rp 40,16 triliun. 
Melorotnya kinerja dan kondisi finansial operator telekomukasi menekan harga saham mereka di pasar modal. 
Salah satu penting yang ditengarai adalah faktor kepemimpinan dalam memimpin perubahan apalagi sekarang dengan adanya invasi dari OTT (Over The Top).
Sudah seharusnya suatu perubahan memerlukan suatu penyelesaian guna mengatasi segala persoalan yang timbul.
Jika dilihat dari model bisnis operator, saat ini terlihat bahwa bisnis model mereka hampir tidak memiliki perbedaan antara operator yang satu dengan operator lainnya.
Jika sejak sekarang tidak diantisipasi dengan baik maka EBITDA operator telekomunikasi akan terus tergerus sementara dan menekan nilai keekonomian dari investasi-investasi baru yang dilakukan.

Tentunya upaya untuk mempertahankan nilai perusahaan akan menjadi tugas yang lebih sulit bagi manajemen dan jajarannya.
Over the top (OTT) sudah tidak bisa dibendung apalagi dengan platform jejaring sosial populer.

BAHAN DISKUSI 2014

  1. Apakah bisnis operator telekomunikasi di Indonesia saat ini masih menggiurkan bagi para investor? Mohon dijelaskan!
  2. Apa pendapat anda terkait layanan ‘Dump Pipe” di bisnis telekomunikasi?
  3. Apakah yang sebenarnya terjadi? Mengapa OTT bisa begitu perkasa dihadapan para operator? Apakah dari awal tidak ada antisipasi yang dilakukan? Mohon dijelaskan!
  4. Apakah anda setuju dengan pendapat “Naga sudah tidak di Telko”? Mengapa? Mohon dijelaskan!
++

Artikel Terkait

55 komentar:

  1. Baik sekali pak, pemaparannya mengenai kaitan antara kepemimpinan dan kaitannya dengan pertumbuhan bisnis telekomunikasi, dengan menggunakan indikator harga saham yg merupakan indikator bagi investor, dimana bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang membutuhkan investasi yg tidak sedikit dan berkelanjutan.

    Satu hal yang saya kira menjadi faktor utama penentu keberhasilan dalam masa perubahan ini adalah, apakah para pemimpin perusahaan telekomunikasi tersebut sudah siap dengan perubahan, menginginkan perubahan, atau para pemimpin yang hanya terjebak dengan kejayaan masa lalu.

    para pemimpin yang siap berubah inilah yang paling cocok dengan kondisi saat ini, tidak hanya perubahan secara minor, tapi perubahan cepat yang menyentak, serta ekstrim.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengapa anda mengatakan bahwa para pemimpin yang siap berubah inilah yang paling cocok dengan kondisi saat ini, tidak hanya perubahan secara minor, tapi perubahan cepat yang menyentak, serta ekstrim. Boleh dijelaskan dong.

      Hapus
  2. Yth. Pak Fajar

    Menarik sekali blognya, dan memberikan wawasan dan pencerahan bagi kami, termasuk kami yg kerja di birokrasi, yang selama ini lebih berfokus administrasi teknis.

    Sangat baik bilamana kita memahami sudut pandang yg berbeda dari operator, investor, vendor, konsumen, dsb.

    Salam,
    Denny Setiawan

    BalasHapus
  3. Mari kita simak berita di The Wall Street Journal edisi Selasa, 9 Oktober 2012 ini berikut implikasinya

    http://online.wsj.com/article/SB10000872396390443982904578044171574380126.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini tentang rencana kelompok usaha Djarum yang menuangkan jutaan dolar untuk bisnis masa depan terkait ICT di Indonesia

      Hapus
  4. Link untuk perkembangan terkini klik disini.

    BalasHapus
  5. Kinerja baik saham XL dari April 2012 hingga November 2012 hingga mencapai angka 7,300, trend langsung berbalik mengembalikan harga saham XL kebawah hingga 5,300..

    Sementara Telkom dan Indosat yang sharenya lebih besar memiliki trend yang naik..

    [im]https://lh6.googleusercontent.com/-ndjw4UfL74k/USLnojJOhJI/AAAAAAAAFuI/OSI9j3cJ9Eo/s500/mantel.jpg[/im]

    ada apa ini?? apa yang terjadi dengan XL..

    BalasHapus
  6. Bagaimana pendapat kita jika melihat perkembangan harga saham operator dalam negeri saat ini (data per Februari 2013)
    Sumber: BEI
    [im]http://i1357.photobucket.com/albums/q754/ManajemenTelekomunikasi/Hargasaham_zps6608ac09.png [/im]

    BalasHapus
    Balasan
    1. BEI memasukkan sektor telekomunikasi ke dalam kelompok infrastruktur, utilitas, dan transportasi.

      Disini sektor telekomunikasi berada di bawah Jakarta Composite Index (IHSG) dan bahkan kinerjanya berada di bawah kelompoknya. Artinya bisa bermacam-macam.

      Dari gambar di atas hanya ada 1 perusahaan di sektor telekomunikasi dengan kinerja yang tinggi. Memang banyak faktor yang bekerja disini.

      Rasanya ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh sektor telekomunikasi.

      Untuk membantu analisis, financial highlight ketiganya ada di bawah.

      Hapus
  7. Berikut ini kinerja keuangan ISAT (data per Februari 2013)
    sumber: BEI
    Coba lengkapi dengan data produksinya kemudian didiskusikan…
    [im]http://i1357.photobucket.com/albums/q754/ManajemenTelekomunikasi/FinISAT_zps067b4d1c.png [/im]

    BalasHapus
  8. Berikut ini kinerja keuangan TLKM (data per Februari 2013)
    sumber: BEI
    Coba lengkapi dengan data produksinya kemudian didiskusikan…
    [im]http://i1357.photobucket.com/albums/q754/ManajemenTelekomunikasi/FinTLKM_zps61fa5da4.png [/im]

    BalasHapus
  9. Berikut ini kinerja keuangan EXCL (data per Februari 2013)
    sumber: BEI
    Coba lengkapi dengan data produksinya kemudian didiskusikan…
    [im]http://i1357.photobucket.com/albums/q754/ManajemenTelekomunikasi/FinEXCL_zps86d3bb1d.png [/im]

    BalasHapus
  10. Berikut data pembanding kinerja operator luar negeri yang beroperasi di US, Eropa, dan Asia
    - Kinerja Pasar
    [im]http://img836.imageshack.us/img836/452/kuwt.jpg[/im]

    -Kinerja Keuangan
    Verizon
    [im]http://img545.imageshack.us/img545/9601/xd85.jpg[/im]
    Vodafone
    [im]http://http://img819.imageshack.us/img819/3729/ae9t.jpg[/im]
    Docomo
    [im]http://img844.imageshack.us/img844/6412/cwye.jpg[/im]

    -Kinerja Operasional
    [im]http://img11.imageshack.us/img11/3272/7bd0.jpg[/im]
    [im]http://img607.imageshack.us/img607/2036/0bvt.jpg[/im]

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi posting dari Mas Bloko :

      Kinerja Keuangan

      Dari grafik tren saham antara Verizon (USA), Vodafone (Eropa Barat) dan NTT Docomo (Asia Timur) terlihat bahwa Verizon dan Vodafone mengalami tren positif sedangkan NTT Docomo mengalami tren konstan namun cenderung menurun di April 2013.
      Untuk grafik Net Income / Profit cenderung menurun untuk ketiga operator luar negeri tersebut.

      Kinerja Operasional

      Yang menarik dari tren kinerja operasional adalah terjadi penurunan ARPU untuk voice dan terjadi peningkatan ARPU untuk Data yang diringi peningkatan jumlah internet subscriber atau perangkat akses internet.

      Mengutip kalimat dari Pak Fajardhani :

      Mengapa pertumbuhan industri menurun di tengah terjadinya pertumbuhan ekonomi? Layanan telekomunikasi yang ada saat ini cenderung menjadi barang komoditas. Layanan tidak lagi menjadi monopoli dari pemilik jaringan seperti yang terjadi di masa lalu. Isu mengenai over the top (OTT) yang diributkan hanya menjadi salah satu bentuk dari dampak perubahan tersebut dan ini seharusnya tidak perlu terjadi jika industri ini mengenalinya sejak awal.

      Peranan dari OTT yang semakin mendominasi menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para operator telekomunikasi, dibutuhkan model bisnis yang sesuai dengan kondisi yang ada. Dari kinerja keuangan Verizon dan Vodafone, kita bisa belajar dari perusahaan tersebut bagaimana strategi mereka menghadapi perubahan yang sedang terjadi saat ini. Market share yang berubah menjadi indikator terjadi perubahan suatu model bisnis sehingga perlu dilakukan evaluasi mengenai "9 blok bangunan" :

      1. Customer Segments
      - Suatu perusahaan yang melayani satu atau beberapa segmen pelanggan
      2. Value Propositions
      - Mencoba memecahkan masalah-masalah pelanggan dan memuaskan kebutuhan pelanggan
      3. Channels
      - Proporsi nilai sampai ke pelanggan melalui komunikasi, distribusi dan saluran penjualan
      4. Customer Relationships
      - Hubungan pelanggan ditetapkan dan dikelola bersama masing-masing segmen pelanggan
      5. Revenue Streams
      - Arus pendapatan dihasilkan dari proposisi nilai yang dengan sukses ditawarkan kepada pelanggan
      6. Key Resources
      - adalah aset-aset yang diperlukan untuk menawarkan dan memberikan semua elemen sebelumnya
      7. Key Activities
      - dengan melakukan sejumlah Aktivitas Kunci
      8. Key Partnerships
      - Beberapa aktivitas outsource dan beberapa sumber daya diperoleh dari luar perusahaan
      9. Cost Structure
      - Elemen-elemen model bisnis berpengaruh pada struktur biaya

      Hapus
  11. Berikut data kinerja dari beberapa operator luar negeri dari kelompok 2.
    US Cellular (US), China Mobile (Asia Timur) dan KPN (Eropa)

    #Kinerja Saham
    [im]http://i779.photobucket.com/albums/yy74/jerinx3/1763de11-6b8d-45bf-9972-e83b1b1ca996_zps8e3adc29.jpg[/im]

    #Kinerja Keuangan

    *China Mobile
    [im]http://i779.photobucket.com/albums/yy74/jerinx3/f3a8dedf-bb87-4221-8354-5a46e6856ba6_zps1235a1cd.jpg[/im]

    *KPN
    [im]http://i779.photobucket.com/albums/yy74/jerinx3/cb3cb073-5259-4f7f-b778-2293b121fac5_zpsc43c9a12.jpg[/im]

    *US Cellular
    [im]http://i779.photobucket.com/albums/yy74/jerinx3/7dabf8d5-ee75-4ee2-bfe6-56b8b3818fd0_zpse36c8841.jpg[/im]

    #Kinerja Operasional

    *China Mobile
    [im]http://i779.photobucket.com/albums/yy74/jerinx3/9615f613-cc70-4697-b189-a452eb2ff81c_zps70ebd6c5.jpg[/im]

    *KPN
    [im]http://i779.photobucket.com/albums/yy74/jerinx3/4f47d346-6cde-42cd-8f45-597b2facd803_zpsb5323ee6.jpg[/im]

    Warm Regards,
    Kelompok 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berikut adalah analisis untuk KPN Belanda:
      Terlihat dari kinerja keuangan 5 tahun terakhir bahwa revenue, net profit dan asset dari KPN cenderung terus menurun sedangkan liablilities/kewajibannya cenderung naik terutama di 3 tahun terakhir. Terdapat beberapa hal yang menjadi penyebab menurunnya kinerja keuangan KPN di 5 tahun terakhir antara lain yaitu:
      1.Tekanan dari pemegang saham institusional domestik dan internasional dimana dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham dan pembelian kembali saham sejak tahun 2000, memiliki persentase yang jauh lebih besar dari penjualan meskipun penjualan sedang menurun
      2. KPN menghabiskan banyak biaya untuk menghubungkan lebih dari 18 persen rumah tangga Belanda untuk jaringan Broadband melalui serat optik.
      3. Pada Desember 2012, hutang KPN bertambah parah karena harus membayar € 1,4 miliar untuk mendapatkan spektrum siaran untuk layanan 4G
      4. Situasi ekonomi Eropa yang tidak terlalu bagus di beberapa tahun terakhir dan juga persaingan yang semakin sengit operator lain seperti Vodafone dan T-Mobile dan juga aplikasi/OTT yang semakin menurunkan revenue yang didapat oleh KPN.

      Sebagai salah satu upaya KPN untuk memperbaiki kinerjanya adalah dengan menjajaki kemungkinan akuisisi dengan Movil America (Meksiko)

      Hapus
  12. Berikut data perusahaan telekomunikasi di USA (CenturyLink), West Europe (Portugal Telecom) dan East Asia (SK Telecom) :

    Kinerja Pasar :

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/7d1bcedb-414f-4361-9c6d-ef6e21244dc7_zps587a2924.jpg[/im]

    Kinerja Keuangan & Operasional :

    CenturyLink

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/44ce6a04-5d09-471e-899c-50e8065615fe_zpse2853151.jpg[/im]

    Portugal Telecom

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/PortugalTelecom-All_zps707bd4c1.jpg[/im]

    SK Telecom

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/SKTelecom-All_zps0d07b483.jpg[/im]

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/SKTelecom-Subscriber_zpsc397e197.jpg[im]

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/SKTelecom-ARPU_zps8ab17f51.jpg[/im]

    Sumber : Annual Report 2008 - 2012

    oleh Kelompok 1

    BalasHapus
  13. Berikut data kinerja Operator Luar Negeri (US, Eropa Barat dan Asia Timur) dari Kelompok 5 :

    -Perbandingan Kinerja Operator
    [im]http://img545.imageshack.us/img545/9601/xd85.jpg[/im]

    - Kinerja Keuangan
    T-Mobile US
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/kinerja_keuangan_tmobile.JPG[/im]

    Telefonica Spain
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/kinerja_keuangan_telefonica.JPG[/im]

    Softbank Japan
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/kinerja_keuangan_softbank.JPG[/im]

    - Kinerja Operasional
    T-Mobile US
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/kinerja_operasional_tmobile.JPG[/im]

    Telefonica Spain
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/kinerja_operasional_telefonica.JPG[/im]

    Softbank Japan
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/kinerja_operasional_softbank.JPG[/im]

    BalasHapus
  14. -Perbandingan Kinerja Saham Operator
    [im]http://fadlizf.pusku.com/kuliah/perbandingan_kinerja.JPG[/im]

    BalasHapus
  15. Berikut adalah Data dari Operator AT&T(T) US, DTE (DTE.DE) Belanda dan KDDI (KDDIY) Jepang dari Kelompok 3

    Perbandingan Kinerja Saham
    [im]http://img801.imageshack.us/img801/5034/xzem.jpg[/im]

    Perbandingan Kinerja Net Income
    DTE dalam Mio. €
    KDDI dalam Million ¥
    AT&T dalam Million $
    [im]http://img801.imageshack.us/img801/6564/vl7s.jpg[/im]

    Kinerja Operasional dari AT&T
    [im]http://img27.imageshack.us/img27/2/06n0.jpg[/im]

    Kinerja Operasional dari KDDI
    Total Subscriber KDDI
    [im]http://img580.imageshack.us/img580/7512/15rn.png[/im]

    ARPU KDDI
    [im]http://img856.imageshack.us/img856/6869/ivkb.png[/im]

    MOU KDDI
    [im]http://img62.imageshack.us/img62/7204/q2ux.png[/im]

    Best Regards
    Kelompok 3
    (Wendhy, Hery, Renni)

    BalasHapus
  16. Q1.2014
    Apakah bisnis operator telekomunikasi di Indonesia saat ini masih menggiurkan bagi para investor? Mohon dijelaskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya masih sangat menggiurkan, teknologi2 seperti LTE, M2M, dan digital advertising masih dapat dimanfaatkan oleh para operator untuk menarik minat investor. Operator dapat memberikan ide-ide yang baik kepada investor terhadap teknologi dan produk tersebut dengan membuat bisnis model yang berbeda juga tepat dan diversifikasi produk yang dapat meningkatkan profit kedepan nya. Investor sendiri dalam bidang telekomunikasi dan teknologi masih dapat menggunakannya untuk mencari keuntungan karena telekomunikasi merupakan hal yang sangat penting walaupun saat ini semua sudah open sistem, tetapi pasti ada jalan berkat teknologi yang sudah ada untuk berkembang.

      Hapus
    2. Saya setuju Bro Marthin, karena hal ini sejalan prediksi Frost and Sullivan Indonesia (NN, 2012, Indonesia – Go Online, Frost and Sullivan) dimana penetrasi kartu SIM di masyarakat akan meningkat terus hingga tahun 2015. Jumlah penetrasi kartu SIM yang terus meningkat pada masyarakat membuat Indonesia berpotensi menjadi negara digital. Potensi ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan ladang subur untuk investasi pada di sektor industri telekomunikasi.

      Hapus
    3. Trend profit layanan convensional menurun dalam beberapa tahun terakhir, hal ini menyebabkan kurang tertariknya para investor.
      Beberapa operator di Indonesia masih terus berinvestasi dengan harapan adanya satu model bisnis baru yang dapat meningkatkan profit kembali.
      Seiring perkembangan technologi, maka munculnya LTE diharapkan dapat seiring dengan pemenuhan kebutuhan data pelanggan dan mendongkrak profit operator telekomunikasi.

      Hapus
    4. Jika masih mengandalkan bisnis layanan voice dan SMS, operator telekomunikasi di Indonesia kurang menarik bagi investor. Karena trend menunjukkan bahwa revenue dari layanan voice dan SMS cenderung menurun. Disisi lain operator telekomunikasi di Indonesia dibebani berbagai macam cost seperti BHP frekuensi yang jumlahnya tidak sedikit.
      Agar menarik bagi investor, perlu dibuat model bisnis baru yang dapat mengikuti perkembangan teknologi dan dapat menghasilkan profit yang menggiurkan.

      Hapus
    5. Menurut saya masih menggiurkan bagi investor. Kenapa? Dari sudut pandang investor, investor ingin mencari aset yang nilainya jauh di atas harganya dan ingin menerapkan strategi buy low and sell high. Investor bersedia invest diantaranya karena memandang nilainya melebihi harga yang dibayarkan.

      Hapus
    6. Menurut saya bisnis operator telekomunikasi di Indonesia saat ini masih menggiurkan bagi para investor, walaupun saat ini industri telekomunikasi Indonesia memang mengalami perlambatan pertumbuhan. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin melihatnya dari sisi lain. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat impor ponsel Indonesia pada bulan Januari 2014 mencapai 1.321 ton atau senilai USD 303,6 juta. Sedangkan pada 2013 lalu impor ponsel mencapai 16.470 ton atau USD 2,8 miliar. Kemudian jika dilihat dari jumlah pemakaian aplikasi layanan instan messaging seperti tweeter, sebagaimana yang dirilis oleh on device researce pada websitenya (https://ondeviceresearch.com/blog/indonesia-social-media-capital-world) :
      • Jakarta is the most active Twitter city in the world
      • 7.5% of all tweets globally come from Indonesia making it the 3rd largest Twitter country
      • 92.9% of the internet population in Indonesia are using Facebook
      • 75% of Facebook users access it via their mobile phone

      Selain itu pada 1 April 2014 Line mengumumkan pencapaian 400 juta pengguna di seluruh dunia. Dari angka ini, 20 juta di antaranya berasal dari Indonesia (ketiga terbanyak di dunia).
      Data data tersebut, sangat menarik untuk kita amati. Jika ekosistem pendukung yang ada disekitar industri telekomunikasi itu saja masih memiliki trend yang bagus, tentunya industri telekomunikasi itu sendiri masih menggiurkan. Menurut saya perlambatan industri telekomunikasi Indonesia bukan disebabkan oleh menurunnya demand pengguna. Kurangnya variasi layanan yang ditawarkan operator telekomunikasi sehingga layanan antar setiap operator kurang lebih serupa, serta terlalu banyaknya jumlah pemain industri telekomunikasi, memberikan kontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia.
      Dalam hal layanan, misalnya saja pada layanan data. Pemenangnya bukanlah operator yang berhasil menjual dengan harga paling murah, melainkan yang berhasil menawarkan kecepatan yang stabil dan handal. Model bisnis yang dijalankan oleh operator pun harus dapat menyesuaikan dengan trend yang ada. what worked in the past, won't work in the future. Inovasi merupakan kata kunci untuk menghadapi persaingan ketat di bidang telekomunikasi saat ini.

      Dalam hal jumlah pelaku industri telekomunikasi di Indonesia yang cukup banyak, akan memicu persaingan yang tidak sehat. Operator sulit bergerak , alokasi frekuensi sebagai sumber daya yang terbatas pun tidak dapat dimaksimalkan. Akibatnya timbulah persaingan bisnis merugikan operator itu sendiri, dan bisa berujung pada colapsnya operator yang tidak memiliki coverage infrastruktur luas serta yang tidak kuat secara capital. Mengutip pernyataan Bapak Alex J Sinaga, dimana beliau menyatakan bahwa pada tahun 2014 persaingan industri ini sudah mencapai posisi saturasi. Terjadi Zero Sum Game yang artinya ketika satu operator tumbuh, maka akan memakan pangsa pasar operator lainnya. Hal ini disebabkan karena jumlah penetrasi pasar telekomunikasi Indonesia sudah lebih dari 200 Juta Pelanggan, dan telah mencapai jumlah total penduduk di Indonesia. Konsolidasi industri baik secara natural antar operator maupun konsolidasi yang didorong oleh regulasi pemerintah.

      Jika demand yang tinggi pada telekomunikasi di Indonesia dibarengi dengan perbaikan beberapa faktor di atas, maka bisnis operator telekomunikasi di Indonesia akan semakin kompetitif, para pelaku industri telekomunikasi Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan bisnisnya, sehingga pada akhirnya masih diminati oleh para investor.

      Hapus
  17. Q2.2014
    Apa pendapat anda terkait layanan ‘Dump Pipe” di bisnis telekomunikasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bisnis operator telco sejak awal bukan dari “dumb pipe” (yang mereka bangun atau sewa infrastrukturnya) tapi dari transaksi voice call dan SMS yang dapat dihitung dari traffic (erlang) yang terjadi. Kecuali beberapa perusahaan telco yang memang focus terhadap provider infrastruktur untuk transmisi seperti backbone fiber optik, satelit, dll. Pada era CS (circuit switch), effort cost yang dikeluarkan oleh operator untuk dumb pipe tersebut tertutupi oleh revenue yang di generate dari traffic (erlang) yang terjadi, dimana kenaikan 1x traffic dapat memberikan 2x revenue (pendapatan), sehingga di era ini para operator mengejar volume traffic dan berani “price war” untuk mendapatkan profit.
      Di era layanan data (broadband & digital service), price war tidak dapat dilakukan lagi karena traffic (bits) yang ditimbulkan tumbuh sangat significant (asumsi 150%), sementara pertumbuhan revenue tidak terlalu significant (asumsi 30%) yang diterima dari layanan unlimited, quota dan PAYU, sehingga profit tidak terlalu menggembirakan. Apalagi di era ini layanan OTT (over the top) seperti google, facebook, whatsapp, dan lain-lain Memanfaatkan dumb pipe operator telco tanpa harus memasukkan dalam cost structure mereka. Sementara OTT pun tidak memungut revenue dari user telco, tapi dari iklan, provider konten, dan lain-lain.

      Hapus
    2. saya ada dapat artikel menarik untuk dump pipe ini.
      disini membahas tentang dump pipe yang seharusnya dimanfaatkan sebagai solusi untuk meningkatkan revenue sehingga bukan merupakan suatu penghalang untuk meraih sukses dimana tingkat persaingan yang tinggi di dunia telko saat ini.

      dump pipe challenge for carrier

      Hapus
    3. Pada hakikatnya, layanan yang disediakan penyelenggara jaringan telekomunikasi sejak dahulu merupakan dumb pipe karena "jatah" biaya jasa yang dibebankan kepada pelanggan independen terhadap nilai dari informasi yang mengalir antar end-user di jaringannya. Adapun diferensiasi biaya layanan lebih disebabkan pada jaminan kualitas "pengiriman" yang mana hal ini pun independen terhadap nilai informasi yang melewatinya. Dumb Pipe nampaknya tidak menjadi persoalan di era circuit-switched karena biaya layanan dihitung secara time-based, kapasitas sistem memang terbatas, dan jenis layanan menjadi hak prerogatif penyelenggara akibat ekosistem yang "tertutup". Namun demikian, berbeda halnya ketika jaringan packet-switched.

      Hapus
    4. Layanan dump pipe adalah jaringan operator yang digunakan hanya untuk mentransfer byte antara perangkat pelanggan dan Internet. Penggunaan istilah "dump pipe" mengacu pada ketidakmampuan operator untuk membatasi layanan dan aplikasi portal sendiri dan terutama hanya menyediakan bandwidth yang sederhana dan kecepatan jaringan.

      Hapus
    5. Bisnis Telco memang dump pipe. Namun, walaupun dump pipe, sebelum era digital, layanan telekomunikasi berbasis circuit switch tidak memungkinkan pengembangan layanan lain untuk berjalan di atasnya. Di era digital, layanan telekomunikasi berbasis packet switch memungkinkan pengembangan layanan lain bahkan layanan tersebut dapat menjadi produk substitusi karena memiliki fungsi yang sama dengan layanan yang ditawarkan operator, yaitu voice dan messaging yang dikembangkan oleh bisnis OTT. Itulah mengapa dump pipe menjadi isu bagi operator penyelenggara telekomunikasi saat ini.

      Hapus
    6. Pertumbuhan mobile broadband yang besar membuat operator fokus pada bagaimana mengatur traffic dan congestion. Salah satu hal paling mudah adalah dengan membangun jalur (Dumb Pipe) yang lebih besar agar dapat menampung ledakan traffic tsb. Namun, Jika hal yang dilakukan hanya memperbesar pipa, maka itu tidak akan cukup. Karena secara aktual, ARPU yang diperoleh dari Data tidak sebesar pertumbuhan traffic itu sendiri.

      Singkatnya, membangun pipa data saja tidak akan cukup, operator perlu menemukan cara untuk monetize pipa mereka. Hal ini dapat dicapai apabila (dumb pipe) berubah menjadi (smart pipe). Operator harus mengetahui cara untuk mengontrol traffic network berdasarkan tipe, pelanggan dan device yg digunakan. Tidak hanya meningkatkan speed dan throughput saja, akan tetapi juga menyediakan layanan baru kepada user sesuai dengan tipe layanan dan cost yg dikeluarkan.

      Hapus
    7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  18. Q3.2014
    Apakah yang sebenarnya terjadi? Mengapa OTT bisa begitu perkasa dihadapan para operator? Apakah dari awal tidak ada antisipasi yang dilakukan? Mohon dijelaskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. OTT bisa begitu perkasa karena mereka tidak terlalu banyak mengeluarkan cost untuk mendapatkan revenue sehingga profit yang dihasilkan sangat tinggi, dimana mereka menggunakan jaringan operator telco tanpa harus memasukkan ke struktur biaya mereka (free) dan mereka juga memberikan layanan free ke user (pelanggan) telco yang tentunya menjadi daya tarik, padahal traffic yang ditimbulkan bisa sangat tinggi karena media social yang mereka ciptakan yang memungkinkan terjadinya messaging group yang jauh lebih murah dibandingkan SMS, walaupun mereka harus membayar paket misalnya unlimited atau sistem quota. Dan yang membuat OTT lebih perkasa lagi adalah operator tidak dapat menutup layanan OTT disamping karena belum ada regulasi, juga diperlukan oleh operator untuk menambah daya tarik sehingga diharapkan terjadi pertumbuhan jumlah pelanggan/user operator. Padahal operator tidak mendapatkan apa-apa dari OTT, bahkan harus keluar effort misalnya fee dan cost untuk infrastruktur. Di lain pihak OTT mendapatkan revenue streamnya dari iklan yang tertarik dengan user OTT yang sangat besar di seluruh dunia.

      Hapus
    2. Jika ditelusuri, mungkin sepertinya bukan berarti OTT yang begitu perkasa di hadapan operator (MNO-Mobile Network Operator). Sederhananya, OTT mendirikan usahanya sebagai content provider. OTT lalu membutuhkan koneksi internet untuk memasarkan produk sehingga dia berlangganan ke operator di negaranya (misalkan dalam hal ini MNO-A) dan membayar biaya sewa jaringan ke MNO-A tersebut. Sebagai penyelenggara jaringan, maka MNO-A terhubung dengan "internet cloud". Di dalam "cloud" tersebut kemudian ada MNO-B yang terhubung pula. Dan di ujung lain jaringan, suatu end-user berlangganan layanan ke MNO-B. Dikarenakan TCP/IP merupakan "open standard", tentunya end-user pun dapat mengakses produk OTT. Bisnis berlanjut, transaksi produk OTT dengan sekian banyak end-user pun meningkat, ada juga OTT yang menurun transaksinya. Lalu manfaat apa yang diperoleh MNO-A dan MNO-B? Tentunya biasa sewa layanan...saja

      Hapus
    3. Menurut saya OTT ikut juga menyumbang pada peningkatan jumlah pelanggan operator atau peningkatan intentitas pemakaian layanan telekomunikasi dengan mengakses layanan OTT.Tetapi yang jadi persoalan adalah OTT menikmati keuntungan sendiri tanpa di share ke operator telko atau dengan kata lain hanya numpang lewat saluran yang disediakan operator telko. Pemerintah pernah mewacanakan untuk meregulasi OTT, tetapi tidak jadi karena OTT termasuk pada area aplikasi dan berdasarkan hasil Study Group Postel, untuk area tersebut berada pada area unregulated/ less-licensed.
      Kalau ada pihak yang tersakiti tentu saja akan pembalasan bukan? Seperti yang terjadi antara penyelenggara OTT dengan operator telko, tetapi dengan munculnya fenomena baru seperti web.RTC apakah keadaan akan berbalik?

      Hapus
    4. Saya menemukan article berikut tentang OTT:
      Operator telekomunikasi menilai keberadaan Over The Top (OTT) seperti Google, Microsoft, Apple, Yahoo, Facebook, dan RIM bukan merupakan ancaman bagi industri. OTT global dapat menjadi mitra yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatannya.
      Sinergi antara OTT dan operator telekomunikasi menjadi sangat penting karena saling mengisi. Sinergi bisa merupakan kombinasi antara revenue sharing, retention program, co-branding dan up-lift brand. Hal ini diungkapkan Direktur Sales PT Axis Telecom Syakieb A Sungkar, dalam Diskusi Akhir Tahun 2012 bertajuk OTT, Friend or Foe?, di Jakarta, Selasa (18/12).
      OTT itu bukan sekedar layanan nilai tambah (VAS). Tetapi lebih dari itu OTT merupakan suatu peluang bisnis yang bertumpu pada pelanggan operator seluler," tambah Syakieb.
      Masa kejayaan operator telekomunikasi belakangan dalam menyediakan jasa layanan tradisional seperti voice dan SMS makin turun. Hal ini disebabkan akses internet kian mudah didapat dan menjamurnya layanan media sosial. Pelanggan seluler lebih mudah akses internet sehingga banyak beralih ke layanan messaging yang disediakan OTT seperti Whatsapp, BlackBerry Messenger, Skype, Line, Yahoo Messenger, Gtalk, Facebook dan Twitter.
      Alhasil, pendapatan operator dari segmen voice dan SMS jadi tergerus karena sebagian pelanggan lebih mengutamakan komunikasi via OTT messenger. Namun begitu OTT tidak bisa ditolak karena telah menjadi kebutuhan komunikasi. Hal ini terkait perkembangan zaman yang disertai perkembangan kebutuhan konsumen.
      "Ini ibarat kehadiran supermarket yang ditolak sama pedagang tradisional. Walau ditolak, tapi konsumen butuh sebagai tuntutan zaman," tegas Djoko Tata Ibrahim, Deputy CEO Commercial Smartfren.
      Tantangan yang dihadapi ke depan dengan hadirnya OTT adalah isu kecepatan dan kapasitas jaringan yang masih perlu ditingkatkan. Operator Indonesia harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan mengalihkan konsentrasi pada penyediaan layanan data bagi konsumen yang menggunakan layanan OTT.

      Hapus
    5. Pada awalnya OTT dianggap bukan ancaman serius bagi operator. Karena OTT sebenarnya bisa ikut meningkatkan usage layanan data. OTT menjadi ancaman serius ketika ada OTT yang menyediakan layanan substitusi. Adanya OTT yang menyediakan layanan substitusi ini berdampak pada pemakaian layanan voice dan SMS yang menjadi bisnis andalan operator. Hal ini berakibat pada penurunan volume trafik voice dan SMS, dan pada akhirnya berdampak pula pada turunnya revenue operator.

      Hapus
    6. OTT bisa begitu perkasa dihadapan operator karena OTT dapat memberikan layanan serupa yang hampir "gratis".

      Hapus
    7. kalau menurut saya, memang tren OTT ini membuat terlena, karena mereka memberikan layanan tanpa ada tarif yang mengikat,sehingga pelanggan tertarik untuk menggunakannya sepuasnya, setuju dengan mbak shali, kalau dari history, OTT ini tidak diperkirakan oleh para operator, karena tumbuhnya didalam aplikasi yang hanya butuh jalur saja yaitu internet, sehingga ketika traffic naik, baru lah kelabakan karena biaya operasional untuk maintenance juga bertambah, dari awal menurut saya indonesia terlena karena pembangunan ditiap sektor sehingga terlupakan oleh para pengembang software yang saat ini sedang naik daun.

      Hapus
    8. Ada yang pernah mencoba fitur 'facetime audio'? Menarik sekali, beberapa saat yang lalu saya mencoba dan ternyata hasilnya sangat bagus, dan dengan berat hati saya katakan bahwa sebagian besar kualitas suaranya lebih bagus daripada legacy voice yang ditawarkan oleh operator seluler. Dengan melakukan panggilan sekitar 30 menit, hanya 'memakan' sekitar 5 Mbps, dengan kualitas suara yang cukup bagus pula. Ada yang pernah mencoba layanan serupa dari aplikasi lain? Dan salah satu OTT hari ini cukup membuat gempar Indonesia dengan peluncuran iklan barunya yang menggandeng bintang-bintang film legendaris beberapa tahun yang lalu untuk memperkenalkan dan mempromosikan salah satu fitur barunya. Sekali lagi cukup tercengang melihat bagaimana OTT ini dapat menyita perhatian dengan berbagai strategi marketing yang tidak biasa

      Hapus
    9. komentar dari erny cukup menarik, hanya saja aplikasi OTT yang bisa melakukan panggilan suara dengan kualitas setara atau lebih bagus dari layanan panggilan yang berbasis circuit switch belum banyak. Saya mencoba melakukan panggilan telepon melalui layanan google hangout menggunakan smartphone dengan kualitas sinyal HSDPA. Kualitas panggilan yang saya lakukan sangat buruk dan delay suara sampai sekitar 1 menit. Dari pengalaman tersebut saya menyimpulkan bahwa layanan voice call melalui aplikasi OTT masih belum bisa menggantikan layanan voice call legacy operator, ditambah lagi fakta bahwa presentase featured phone di Indonesia masih sekitar 70% dari total handphone yang beredar di Indonesia.

      Hapus
    10. Dari sisi Operator, OTT dapat menjadi komponen threat & Opportunity sekaligus.
      Contohnya dari sisi messaging dan Voice over IP [Skype, Viber, Whatsapp etc.], akan menggerus layanan legacy yang telah diberikan operator. Di sisi lain, layanan OTT adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan traffic data. Dan apabila tidak ada content yang diakses maka tidak ada yg akan menggunakan mobile broadband.

      OTT telah menjadi platform yang terkenal karena tiga hal berikut:
      - features,
      - convenience
      - cost effectiveness

      Operator secara tidak sadar telah membuka opportunity kepada OTT untuk menggantikan legacy mereka. Ketika sekarang operator menyadari hal tersebut, OTT sudah menjadi besar dan sulit dikendalikan.

      Hapus
  19. Q4.2014
    Apakah anda setuju dengan pendapat “Naga sudah tidak di Telko”? Mengapa? Mohon dijelaskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ekosistem telco terdiri dari regulator, vendor, end-user, network provider, service provider, content provider. Untuk membahas ini nampaknya perlu diperjelas dulu sampai di titik mana suatu entitas masih dikategorikan "telco"...dan mana yang bukan lagi "telco" (misalkan: "IT")

      Hapus
    2. Istilah naga sering disebut dengan keberuntungan. Industri telko saat ini sudah satu rated dan profit terus menurun hampir di semua operator di Indonesia. Tentunya hal ini memperlihatkan ketidakberuntungan industri telko saat ini dan tentunya bisa dibilang naga sudah tdk berpihak pada industry telko.
      Lantas kemana naga pergi? hal ini dapat dilihat di beberapa indistri yg berkaitan dengan pemakaian infrastruktur telko itu sendiri seperti: perbankan, manufaktur, OTT dll.

      Hapus
    3. Setuju dengan pendapat Mas Benny. Perlu diperjelas dahulu definisi telko. Apalagi kedepannya teknologi akan corvegence. Batasan-batasan telko yang didefinisikan dahulu mungkin menjadi tidak jelas dimasa mendatang.

      Hapus
    4. Pak Apip, ketidakberuntungan ini maksudnya apa yaa, Pak? Kita lihat memang industri perbankan menggunakan layanan telekomunikasi untuk menunjang bisnisnya, perusahaan-perusahaan di industri manufaktur, retail, advertising pun demikian, dan mereka tumbuh dengan baik, tidak demikian dengan industri telco. Apakah ini murni ketidakberuntungan atau operator telco yang masih belum dapat melihat peluang bisnis dan meramunya dalam model bisnisnya sendiri?

      Hapus
  20. Menurut saya, memang saat ini naganya bukan lagi di Telco tapi di provider konten dan aplikasi yang dimiliki oleh OTT (over the top). Mereka sangat menikmati profit tanpa harus memikirkan kewajiban terhadap operator telco yang memiliki infrastruktur jaringan. Dan yang lebih nyaris lagi seperti layanan blackberry yang dipopulerkan oleh para operator di Indonesia untuk memuaskan pelanggannya, tapi dilain pihak harus membayar fee/subs/bulan USD 0.5, coba bayangkan jika terdapat 30 juta pelanggan aja yang menggunakan layanan blackberry, berarti operator telco tersebut harus membayar fee sebesar USD 15 juta/bulan. Belum lagi effort transmisi infrastruktur yang harus dibangun sendiri oleh operator ke arah RIM (research in motion) Canada.
    Jadi yang terbaik supaya naga tersebut dapat kembali ke Telco adalah harus membuat bisnis model yang tepat terkait trend yang terjadi di era layanan data (broadband dan digital service) tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Setuju dengan pendapat pak enov, untuk meningkatkan revenuenya telco perlu membundling layanan datanya dengan service atau layanan-layanan lain. salah satu contoh yang dilakukan xl adalah menawarkan layanan XL game kredit. Layanan tersebut menawarkan pembelian voucher game menggunakan pulsa xl milik pelanggan.

      Hapus
    2. Dear Pak Enov, apakah restrukturisasi tariff layanan data seperti yang dilakukan operator di India bisa memicu agar naga dapat kembali ke telco, khususnya operator? Bagaimana dengan behaviour pelanggan data yang sudah terbiasa dengan tariff murah?

      Hapus
  21. Jika "Naga" adalah Wonderful Business, maka Naga ada di bisnis yang memiki Return on Invested Capital (ROIC) yang tinggi dan stabil tumbuh sepanjang waktu. Saat ini, margin di industri memang menurun. Namun, beberapa perusahaan di industri Telco masih secara konsisten men-generate profit positif dan stabil tumbuh sepanjang waktu.

    BalasHapus

Membuat Link Pada Komentar Anda
Agar pembaca bisa langsung klik link address, ketik:
<a href="link address">keyword </a>
Contoh:
Info terkini klik <a href="www.manajementelekomunikasi.org"> disini. </a>
Hasilnya:
Info terkini klik disini.

Menambahkan Gambar Pada Komentar
Anda bisa menambahkan gambar pada komentar, dengan menggunakan NCode berikut:

[ i m ] URL gambar [ / i m ]

Gambar disarankan memiliki lebar tidak lebih dari 500 pixels, agar tidak melebihi kolom komentar.

---

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger