Sunday, May 27, 2012

Ketika Telekomunikasi Merubah Perangai Masyarakat

Gambar sisip 1 

Malam yang tenang dalam tidur yang nyenyak, hanyut dalam mimpi yang indah, tiba-tiba saja Hp berdering dari seorang sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa. Khawatir sesuatu yang penting, dengan mencoba menyatukan nyawa (red: istilah untuk keadaan setengah mengantuk), Hp pun dijawab... 

A: "Halo, hai.. ada apa nelpon malam begini?, ada hal penting kah?"
B: "Eh, hai.. ah gak papa,, hanya ingin silaturrahmi aja, mumpung gratis nih dapat tarif promo setelah jam 12 malam..hehe"
A: "....... oh no?! kirain ada apa gitu, bikin kaget aja... !!"

Begitulah percakapan yang terjadi, dalam percakapan tersebut kemudian menjadi dimaklumi bahwa seseorang kemudian melakukan silaturrahmi ditengah malam buta.
Fenomena-fenomena yang tak biasa seperti percakapan diatas, terbentuk pada kehidupan sosial masyarakat seiring dengan berkembangnya layanan telekomunikasi dari waktu ke waktu. Ada fenomena atau hal-hal yang mendapat apresiasi baik dari masyarakat, dan ada juga yang mendapat tentangan keras dari masyarakat, yang pada akhirnya harus berakhir di ranah hukum. 

Dalam pengamatan penulis, pada dekade yang berlalu pada rentang Tahun 2001 - 2011 ada banyak fenomena yang sering diabaikan/diamini saja oleh masyarakat, namun mau tidak mau harus diterima dan kemudian berkembang membentuk kondisi sosial masyarakat. Fenomena-fenomena ini dibentuk oleh suatu kebijakan aturan, penetapan tarif, atau diakibatkan oleh perkembangan teknologi. Penulis mencoba meringkaskan beberapa fenomena yang cukup mencuri perhatian pada masa-masa tersebut:

Fenomena yang berkaitan dengan Tarif
  • Fenomena telp 3 detik. Yaitu mematikan panggilan sebelum 3 detik, hal ini dikarenakan operator memberlakukan skema charging setelah 3 detik pertama. Tentu saja hal ini dilakukan pelanggan untuk meng-akali biaya komunikasi yang cukup mahal pada saat itu. Perilaku ini diduga dapat merusak kesehatan akibat radiasi ponsel yang dilakukan akibat melakukan inisiasi panggilan yang terlalu sering, disamping konsumsi baterai ponsel yang lebih boros.
  • Fenomena Paket TM. Banyak orang ingin berlama-lama untuk berbicara, dengan alasan ingin menghabiskan kuota Paket TM yaitu paket bicara yang dikeluarkan oleh sebuah operator, untuk membebaskan pelanggan menggunakan layanan suara total 1-2 Jam hanya dengan membayar beberapa ribu rupiah yang cukup murah.
  • Fenomena Telpon Tengah Malam. Banyak dari pelanggan yang melakukan telpon tengah malam untuk menikmati tarif gratis setelah jam 12 malam, hingga pagi menjelang.
  • Fenomena SMS sampah. Penawaran kartu kredit, pinjaman tanpa angunan, promo tempat makan, terus menerus membanjiri hp pelanggan tanpa bisa dicegah. Hal ini dimungkinkan karena operator-operator kecil memberlakukan sms gratis puluhan ribu sms setelah mengirim beberapa sms. Hal ini juga dipicu oleh kebijakan biaya interkoneksi sms yang berdasarkan sender keep all, yang dinilai tidak adil bagi operator-operator besar.
  • Fenomena Internet Unlimited. Hanya dengan membayar beberapa puluh ribu hingga ratusan ribu, pelanggan internet bergerak, bebas untuk menggunakan layanan internet selama sebulan hingga 3 bulan berikutnya. Belakangan skema tarif ini dikenal sebagai strategi bunuh diri operator dan mulai ditinggalkan karena merugikan operator, dan tentu juga termasuk pelanggan, kualitas layanan turun secara drastis karena alokasi yang tersedia habis akibat perilaku pelanggan data yang sangat boros bandwidth.
  • Fenomena SMS Premium. Hanya dengan melakukan konfirmasi melalui sms, pelanggan dapat menikmati berbagai konten sms yang menarik, namun tidak dapat dicegak kemudian fasilitas ini disalah gunakan oleh beberap oknum. Fenomena ini berakhir dengan menyeret beberapa petinggi operator ke ranah hukum dengan tuntutan pencurian pulsa. Layanan ini pun akhirnya diberangus oleh regulator.

Fenomena yang berkaitan dengan Teknologi
  • Fenomena SMS Alay. Keterbatas sms dengan 160 karakter membuat pelanggan terpaksa menyingkat kata-kata dalam beberapa huruf, huruf tertentu juga diganti dengan angka untuk menambah daya tarik dan sekedar seru-seruan. Beberapa pihak mengkritik budaya ini dan menilai sebagai kekacauan berbahasa. 
  • Fenomena BlackBerry. Tiba-tiba saja gadget ini menjadi parameter kemapanan dan derajat yang lebih tinggi, BlackBerry diburu bagai kacang goreng dengan melesat sebagai perangkat paling fenomenal yang membuat heboh disetiap peluncuran model barunya, BlackBerry Messager sebagai salah satu fasilitas chatting dengan ID berupa PIN adalah sesuatu yang harus diinfokan ketika sama-sama memiliki gadget ini.
  • Fenomena Group Facebook dan Invitation. Kawan-kawan lama berjumpa saling tag photo dan saling komentar mengenai kenangan, hobi, kesukaan, bahkan bisa sebagai petisi dukungan yang mampu menggoncang kedaulatan sebuah negara. Tak ada lagi lembar undangan ketika mengadakan hajatan, dengan beberapa kali klik, semua saudara, sahabat, dan kenalan sudah diundang melalui fasilitas invitation. 
  • Fenomena Statement Tweeter. Orang menulis apa saja yang dipikirkannya dan hanya dengan satu statement kicauan yang salah/tidak disukai banyak orang, seseorang bisa kehilangan pekerjaan, kehilangan kredibilitas, dan hei... tiba-tiba semua orang menganggap serius semua yang ditulis ditweeter, bahkan beberapa pejabat negara mengeluarkan kicauan yang dianggap statement nyaris resmi oleh media massa, dan tidak ada satupun yang mencegah tweeter menjadi media komunikasi yang serius saat ini.
Bagaimanapun perubahan pada sistem telekomunikasi, kebijakan dan regulasi yang diberlakukan akan disertai oleh perubahan sikap dari Masyarakat sebagai pengguna layanan telekomunikasi, hal ini akan merubah kondisi sosial Masyarakat. Namun hal ini sering diabaikan sehingga masalah yang muncul dikemudian hari sering tak terbendung dan terlambat untuk diatasi. Selain dari beberapa fenomena diatas, tentu masih banyak lagi fenomena yang terjadi dikehidupan sehari-hari kita.

Ironi, jika mengingat operator dalam hal ini dalam membuat kebijakan hanya memikirkan pertumbuhan bisnis atau ambisi mencetak laba, tanpa kemudian memikirkan bahwa ada hal-hal yang lebih penting dalam kehidupan interaksi manusia, yaitu untuk membuat komunikasi sebagai salah satu kebutuhan fitrah yang harus dipenuhi dengan cara dan tujuan yang baik. Teknologi yang pada awalnya diciptakan untuk menyelesaikan masalah manusia, berkembang menjadi masalah baru yang merusak tatanan sosial masyarakat. 

Pertanyaannya, apakah kita harus menyerah pada sistem yang ada dengan membiarkan fenomena-fenomena terjadi, berkembang tanpa adanya pembelajaran secara menyeluruh sebelum kebijakan terkait sistem telekomunikasi tersebut ditetapkan. Fenomena ini berkembang dan dianggap lumrah. Efek sosial masyarakat yang buruk ikut tumbuh bersama pembangunan sistem komunikasi, yang tentu saja pada awal tujuannya adalah untuk mengangkat manusia pada peradaban yang lebih tinggi. Namun beberapa hal kemudian malah tanpa disadari telah merubah tatanan sosial masyarakat menjadi lebih kompleks. 

Penulis mendorong ahli-ahli manajemen telekomunikasi, regulator, vendor, dan operator untuk tidak melupakan kajian sosial masyarakat dalam setiap membuat kebijakan. Dan kepada masyarakat luas untuk turut ikut serta mengawasi pembangunan lingkungan telekomunikasi yang lebih baik di masa depan, dengan pengendalian teknologi yang bermartabat bagi kehidupan masyarakat seluruhnya.

--
FADIL                 @fadilblank | fadilde@gmail.com
IEEE Member 91296760 MASTEL Member 100427

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger