Sabtu, 21 September 2013

Studi Kasus #9: PERUBAHAN Teknologi, Layanan, Regulasi dan PERUBAHAN Berikutnya

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 1

Ilmu pengetahuan adalah hal yang tak pernah berhenti tumbuh dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Berbagai inovasi dan penemuan baru dalam teknologi telekomunikasi menjadi jembatan bagi kemudahan mengakses informasi untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Perubahan tersebut dapat menimbulkan peluang baru bagi para pelaku bisnis telekomunikasi dalam memberikan layanan terdepan sekaligus dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan usahanya.

Pendahuluan

Suatu layanan bisa melibatkan dua atau lebih pihak sehingga dibutuhkan regulasi yang dapat mengimbangi perubahan layanan dan teknologi tersebut. 

Perubahan teknologi dan layanan terjadi lebih pada umumnyacepat dibandingkn perubahan regulasi

Maka dari itu mau tidak mau badan regulasi harus memiliki “awareness” mengenai dampak perubahan teknologi dan layanan tersebut sebelumnya, saat ini maupun masa depan, sehingga dapat beradaptasi atau merestrukturusasi diri (jika perlu) dan memfasilitasi beberapa pihak yang berkepentingan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Menurut Wilbur Lang Schramm (1988), perkembangan yang dinamakan revolusi komunikasi dan sebagainya itu merupakan bagian dari serangkaian perubahan yang telah berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia selama ini. 

Revolusi Komunikasi

Revolusi komunikasi adalah satu dari sekian revolusi yang terjadi di berbagai bidang kehidupan manusia, seperti revolusi politik, pendidikan, pertanian, dan industri. 

Layanan pada awal perkembangan telekomunikasi di Indonesia adalah telegram dan teleks yang berkembang menjadi layanan suara fixed line (PSTN). Beberapa lama setelah itu baru ditemukan layanan suara bergerak dan pengiriman data berupa pesan singkat yang disebut dengan SMS, hingga sekitar pada tahun 2000-an berbagai layanan baru di atas layanan data berbasis internet mulai tumbuh pesat hingga sekarang.

Teknologi Switching

Teknologi yang digunakan pada periode awal perkembangan tersebut adalah circuit switching (CS) dimana hanya mampu menghantarkan satu jenis layanan saja, namun seiring berkembangnya teknologi packet switching (PS) yang ditandai dengan hadirnya internet, maka lebih dari satu layanan dapat dihantarkan melalui teknologi tersebut dengan lebih efisien.

Teknologi Modulasi

Teknik modulasi yang digunakan pun mengalami perubahan, pada awal perkembangannya modulasi yang digunakan adalah modulasi analog (Amplitude, Frequency & Phase Modulation) dalam mentransmisikan sinyal informasi dari satu tempat ke tempat lain. Namun karena keterbatasan yang dimiliki (dalam hal ini bandwidth), modulasi digital (FSP, BPSK, QPSK, QAM, dan lain-lain) lebih berkembang karena dapat mentransmisikan sinyal informasi dengan bandwitdh yang lebih lebar sehingga semakin banyak layanan dapat ditangani.

Teknologi Transmisi

Selain dalam hal pengiriman data dan pengolahan sinyal, teknologi dalam hal media transmisi juga perlu kita perhatikan. Di awal perkembangannya media yang digunakan berupa kawat tembaga, lalu setelah ditemukan teknologi wireless maka udara menjadi media transmisinya. 

Namun karena rugi-rugi yang dihasilkan oleh kedua media transmisi tersebut dirasa kurang menfasilitasi tuntutan layanan yang ada, maka ditemukanlah media berupa fiber optik, yaitu sinyal informasi diubah menjadi sinyal cahaya. 

Media fiber optik ini digunakan sebagai link backbone karena kemampuan menghantarkan informasi dengan bandwidth yang jauh lebih lebar dengan rugi-rugi sinyal yang sangat minim.

Salah satu dampak dari perkembangan layanan dari teknologi tersebut antara lain : layanan suara dan gambar bisa dikirimkan dalam satu waktu yang bersamaan, dampaknya telepon fixed line dan televisi dapat digantikan oleh layanan video call / video conference, layanan ini membutuhkan akan bandwidth yang cukup lebar dari 256 kbps hingga 1 Mbps, sehingga suatu hal yang tidak mungkin pada awal era telekomunikasi yang hanya dapat melayani bandwidth maksimal 64 kbps.

Kecepatan dan kemudahan akses internet membuka berbagai peluang bisnis baru. Salah satunya adalah bisnis Cloud Computing, dimana semua data dan informasi disimpan ke dalam suatu data center yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun melalui jaringan internet. Kebiasaan masyarakat yang selalu membawa memori yang berisi data pribadi kemanapun akan berubah karena yang dibutuhkan hanyalah kemudahan akses internet.

Perubahan Regulasi di Indonesia

Era munculnya regulasi untuk layanan telekomunikasi di Indonesia ditandai dengan disahkannya UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. (baca artikel dan diskusi tentang UU 36/1999 disini).

Melalui UU tersebut, telekomunikasi di Indonesia memasuki babak baru, yakni beralihnya era monopoli ke era kompetisi. Hubungan antara layanan, teknologi dan regulasi dapat digambarkan ke dalam bagan sebagai berikut :

Sumber: Menciptakan Lembaga Regulasi Yang Lebih Berdaya

Regulasi adalah seperangkat aturan/kebijakan yang bersumber dari Undang-undang untuk mengatur dan menciptakan ketertiban dalam rangka tetap terpenuhinya hak publik. 

Perbedaannya dengan undang-undang adalah :

Undang-Undang bersumber dari Konstitusi (UUD NKRI) Tahun 1945 :

  1. Bertujuan utk menciptakan ‘keadilan’ dan ‘kepastian hukum’
  2. Bersifat memaksa dan mengatur
  3. Sanksi Pidana selain sanksi administratif

Regulasi :

  1. Regulasi sebagai implementing legislation bersumber dari UU
  2. Bertujuan menciptakan ‘ketertiban’
  3. Bersifat mengatur
  4. Regulasi teknis untuk mendukung operasional teknis
  5. Regulasi Ekonomis utk mendukung industri dan pasar yang sehat
  6. Regulasi sosial utk menjaga tetap terpenuhinya hak publik

Selain itu diatur regulatory framework, yakni metodologi kerja regulasi, yakni:
  • Memastikan adanya transparansi/keterbukaan antara Operator
  • Memastikan independensi lembaga regulasi
  • Melindungi hak konsumen
  • Menangani resource terbatas yang dipunyai oleh negara seperti spektrum frekuensi, orbit satelit, universal service
  • Menerapkan aturan untuk memberikan lisensi bagi layanan baru/new services

Perubahan Ke Depan

Ada sejumlah studi kasus yang terkait dengan perubahan ini disini. Diantaranya adalah Operator Kita (2012), Regulasi Konvergensi (2012), Pokok-Pokok Pemikiran (2012), Faktor Eksternal dan Internal Telekomunikasi Kita (2013).

Penutup

Kondisi industri telekomunikasi telah banyak berubah sejak dikeluarkannya UU nomor 36 Tahun 1999. Kinerja para operator yang bertindak sebagai ujung tombak penyelenggaraan telekomunikasi Indonesia dalam tekanan (baca artikel: Halo-Halo Bandung).Transformasi Menuju Data (2012), 

Perubahan teknologi dan layanan harus diimbangi dengan perubahan regulasi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan teknologi dan layanan (pasar) lebih cepat daripada perubahan regulasi.

Adanya regulasi yang tepat dapat menyeimbangkan kepentingan berbagai pihk terhadap perubahan layanan dan teknologi yang terjadi termasuk regulator. Adaptasi atau restrukturisasi adalah pilihan.

Di era ekonomi berbasis informasi saat ini ,dampak luas dari sinergi ini adalah state competitiveness. Disamping itu memberi kepastian bagi pelaku bisnis dan melindungi konsumen.

+++

Artikel Terkait

20 komentar:

  1. Tulisan yang menarik untuk dibaca dan diikuti.

    Bagaimana dengan pertumbuhan pemain (baca: Operator) penyelenggara layanan-layanan sampai saat ini?

    Mari kita diskusikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah saatnya para pemain 'bermain dengan lebih profesional.

      Menarik bahwa:
      "Perubahan teknologi dan layanan (pasar) lebih cepat daripada perubahan regulasi"
      dan
      "Adaptasi atau restrukturisasi adalah pilihan".

      Saya coba kutip sebuah paper milik Treacy & Wiersema terkait nilai kedisiplinan (dalam hal ini kedisiplinan berbisnis), dimana kunci untuk mendapatkan dan mempertahankan nilai kepemimpinan adalah fokus (pada industri yang sedang dijalani), tetapi manajemen perusahaan yang merupakan seorang pemimpin harus tetap waspada (terhadap persaingan industri).

      Selain itu, perusahaan yang mempertahankan nilai kepemimpinan dalam industri mereka akan dijalankan oleh eksekutif yang tidak hanya memahami pentingnya memfokuskan bisnis pada nilai disiplinnya tetapi juga mendorong tanpa henti untuk memajukan model organisasi operasional.

      Seorang eksekutif, tidak hanya 'muncul' dan merepresentasikan regulasi yang berlaku saat itu, tetapi harus secara objektif dalam menjalankan lini bisnis.

      Hapus
    2. Masukan yang menarik. Barangkali ada contoh perusahaan yang bisa kita jadikan acuan bersama untuk diskusi lebih lanjut.....

      Hapus
  2. Dear Rekans,
    Dari ulasan diatas saya ingin menambahkan terkait hubungan antara teknologi dengan ekonomi,
    Kalau kita melihat perkembangan teknologi seperti yang digambarkan dalam anak tangga diatas , maka kita tidak bisa melepaskan dari satu hal yaitu inovasi.
    Kata kunci inovasi menjadi sangat vital dari pergerakan perkembangan teknologi yang ada saat ini.
    menurut teori Schumpeter , dijelaskan bahwa : "The essential forces behind social and economical changes are innovative technologies".

    Artinya dari terori tersebut bahwa inovasi teknologi menjadi faktor yang sangat penting dalam perkembangan sosial dan ekonomi sutu negara.

    demikian sedikit share dari cuplikan mata kuliah Inovasi.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear All,

      Setuju skali mas Mustain, berbicara mengenai perubahan teknologi mengingatkan saya dengan pelajaran yg kita dapat tempo hari di kelas Inovasi, bahwasanya Teknologi adalah 'Engine of Growth' suatu negara. Lalu bagaimana dengan perkembangan teknologi di Indonesia??

      Jika dibandingkan dengan negara2 lain Indonesia cukup tertinggal jauh, contohnya saja dengan perkembangan teknologi LTE di Indonesia. Hal apa yang dapat kita cermati dalam hal ini? apakah semata - mata operator sebagai penyelenggara telekomunikasi yang kurang peka terhadap perubahan? atau kah ada hal lain yang membuat "tersumbat" nya inovasi teknologi telekomunikasi di Indonesia?

      Menurut saya bukan hanya dari operator saja sebagai penyelenggara telekomunikasi, namun perkembangan ini perlu didukung juga oleh masyarakat (sebagai konsumen) dan pemerintah sebagai regulator.
      "Perubahan teknologi dan layanan harus diimbangi dengan perubahan regulasi" saya sangat setuju sekali dengan statement kelompok satu ini. Intinya adalah penting bagi pemerintah untuk menciptakan ruang bagi inovasi teknologi telekomunikasi di Indonesia.

      Salam Hangat,
      Nova

      Hapus
    2. Contoh yang menarik sekali dari Mbak Nova mengenai perkembangan teknologi LTE di Indonesia, untuk mendiskusikannya kita tetap perlu memandang dari 3 sudut pandang (teknologi, layanan dan regulasi) :

      Regulasi :

      Dari sisi regulasi kita perlu mencermati apa saja kendala yang dihadapi oleh regulator di Indonesia, untuk kasus LTE ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyiapkan beberapa skenario mengenai pita frekuensi yang akan digunakan, yaitu 700 MHz (digunakan untuk UHF alias siaran televisi), 1.800 MHz (digunakan oleh operator telekomunikasi GSM), 2.100 MHz (digunakan oleh operator telekomunikasi GSM untuk layanan 3G), dan 2.300 MHz (digunakan untuk WiMax).

      Menurut Muhammad Budi Setiawan (Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika), yang paling memungkinkan di jangka panjang adalah menunggu penyelesaian frekuensi televisi analog menjadi televisi digital pada 2018. Jika ini selesai, maka frekuensi tersebut bakal kosong dan bisa ditempati oleh frekuensi 4G. Alokasi pita frekuensi 1.800 MHz atau 2.300 MHz bisa digunakan, namun masih butuh proses sekitar 2 atau 3 tahun lagi. Info dari Pak Budi juga bahwa masih perlu kesiapan perangkat seperti ponsel maupun dongle untuk mengakses 4G.

      Teknologi :

      Dari sisi teknologi juga butuh persiapan, menurut Deputy Director Customer Solutions and Sales Support Division Huawei Indonesia, Dani K Ristandi siap memberikan solusi teknologi berupa antara lain : end user terminal (ponsel dan dongle), jaringan akses, jaringan transport, jaringan inti hingga jasa nilai tambah serta sistem pendukung operasi dan bisnis (OSS/BSS). Penerapan teknologi tersebut harus memiliki spektrum frekuensi yang ideal. Sebagai contoh blok 20 MHz adalah ideal. Upgrade teknologi ini butuh diimbangi juga dengan peningkatan layanan broadband di Indonesia. Selain Huawei beberapa vendor lainnya pun sudah menyiapkan handset yang mendukung layanan 4G seperti Sony, Samsung, dll.

      Hapus
    3. Layanan :

      Dalam hal layanan, beberapa operator di Indonesia sudah menyiapkan layanan berbasis LTE :

      1. Telkomsel Uji Coba Teknologi LTE Melalui Smart Car
      - Telkomsel mengembangkan LTE Smart Car, yaitu kendaraan yang memilki konektivitas teknologi LTE untuk mengakses beragam content dan aplikasi seperti LBS (Location Base Sevices), Vehicle Monitoring, Mobile TV, Telkomsel Application Store dan aplikasi bermanfaat lain yang berbasis LTE.

      2. XL Axiata melakukan uji coba LTE dengan layanan Video Conference
      - Uji coba video conference dari Grha XL ke Gedung Ericsson Indonesia di kawasan Pondok Indah, juga dilakukan dengan mendukung aktivitas penyiaran TV (broadcasting) berupa siaran langsung (live report) pertama di Indonesia yang menggunakan perangkat berbasis LTE.

      Menurut Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi, secara keseluruhan layanan LTE diperkirakan bisa secara komersial diberikan kepada masyarakat dalam 2-3 tahun ke depan. "Tergantung frekuensi yang diperoleh. Kami tinggal menyiapkan bisnis model, termasuk penyediaan perangkat teknologinya," info Pak Hasnul.

      3. Indosat uji coba LTE di Laboratorium ITB
      - Komitmen Indosat dalam mendorong tumbuhnya inovasi dan pengembang aplikasi diwujudkan dengan pendirian Indosat Innovation Lab kedua di ITB dengan menyediakan fasilitas penelitian dan pengembangan Aplikasi Cloud Mobile dan Tablet. Lingkup kerja sama yang dilakukan meliputi Laboratorium Penelitian, Jaringan (LTE 100 Mbps), Training dan Edukasi, serta Marketing Plan.

      Baik dari operator (penyedia layanan), vendor (penyedia perangkat & teknologi) dan Kominfo (penyedia regulasi) sudah menyiapkan skenarionya masing-masing, permasalahan dari segi teknologi dan operator relatif sama, yaitu masih belum tersedianya pita frekuensi yang dibutuhkan dari pihak regulator. Sedangkan pihak regulator memiliki statement bahwa dari sisi regulator sudah menyiapkan beberapa skenario yang paling cepat saja sekitar 2-3 tahun lagi. Dari case ini kita bisa melihat bahwa memang perubahan teknologi dan layanan lebih cepat dibandingkan regulasi.

      Yang masih menjadi tanda tanya, bagaimanakah progres regulator dalam menyiapkan pita frekuensi tersebut yang bisa kita monitoring kinerjanya sejauh mana? Silakan jika ada rekan-rekan yang ingin menambahkan.

      sumber :
      http://tekno.kompas.com/read/2011/12/27/13162769/Ini.Dia.4.Skenario.4G.di.Indonesia.
      http://www.telkomsel.com/about/news/855-telkomsel-uji-coba-teknologi-lte-melalui-smart-car
      http://tekno.kompas.com/read/2011/08/22/19581876/Indosat.Uji.Coba.LTE.di.Laboratorium.ITB
      http://www.antaranews.com/print/238655/xl-ujicoba-teknologi-4g

      Salam
      - Kelompok 1 -

      Hapus
    4. Menurut pengamatan bahwa tidaklah semua terobosan teknologi memberi keunggulan dalam jangka panjang. Kalau kita perhatikan artikel Model Bisnis kuncinya adalah apakah teknologi tersebut akan memberi R$ dan C$ yang dibutuhkan bagi pertumbuhan usaha.

      Memang menarik mengikuti perkembangan Nokia, Blackberry, dan terakhir adalah Apple yang saat ini juga dalam kesulitan.

      Hapus
    5. Mari kita perhatikan layanan yang diberikan British Telecom (BT). Apakah BT juga memberi layanan LTE kepada Customernya? Apakah layanan ini memberi value yang diperlukan di sisi revenue atau biaya?

      Hapus
    6. Menanggapi ulasan Mas Rinto tentang perkembangan LTE di Indonesia, Pemerintah tahun ini masih fokus dalam menyelesaikan penataan ulang kanal 3G. Prioritas ini berarti menunda lelang Broadband Wireless Access (BWA) dengan 2,3 GHz dan kanal 4G Long Term Evolution (LTE). LTE sendiri agar bisa berjalan dengan optimal memerlukan lebar pita 20 MHZ. Salah satu solusi yang bisa diambil Untuk mendapatkan lebar pita yang cukup, pemerintah sebaiknya mendorong konsolidasi antaroperator termasuk skema akuisisi dan merger.

      Pertanyaannya sekarang seberapa pentingkah LTE harus diimplementasikan di Indonesia?,
      Sejujurnya, LTE tidak bisa memecahkan permasalahan bandwidth bottleneck dari traffic internet di jaringan selular provider-provider tersebut. Bahkan yang terjadi LTE hanya menjadi jargon pemasaran ketimbang layanan jasa yang sesungguhnya. Mengapa? Karena untuk jaringan HSPA + saja yang bekecepatan 21 Mbps, idealnya sudah lebih dari cukup untuk transfer video streaming youtube kualitas 1080p dan 720p, karena video youtube rata-rata bitrate full hd nya tidak lebih dari 18 Mbps. Kebanyakan hanya sekitar 10 Mbps. Yang perlu dilakukan oleh para provider selular untuk meningkatkan kecepatan akses layanan data dan jumlah pelanggan layanan data, adalah melakukan manajemen bandwidth baik secara sistem, software maupun hardware dan terutama ketersediaan jumlah BTS yang memadai dengan rasio user pengguna di daerah tersebut.

      Salam,
      Eka

      Hapus
    7. Menambahkan sedikit komentar Mas Mustain terkait Inovasi :

      Dalam setiap tahap perkembangan sebuah perusahaan, harus dilakukan inovasi agar terjadi pertumbuhan perusahaan yang berkualitas dan tahan lama. Hal ini ditunjang oleh sumber daya manusia di perusahaan mulai dari pegawai hingga ke pimpinan tertinggi. Bila lingkungan kondusif maka inovasi akan memberi keunggulan bersaing yang terus menerus kepada perusahaan dimana hal ini pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan bangsa Indonesia tentunya. Jadi Inovasi erat kaitannya dengan keunggulan kompetitif yang harus dibangun oleh suatu perusahaan (dalam hal ini operator telekomunikasi) agar bisa tetap bertahan terhadap perubahan teknologi, layanan dan regulasi.

      Regards,
      eka

      Hapus
    8. Dear Pak Fajar

      Menanggapi pertanyaan di atas, sampai saat ini dari literatur-literatur yang sudah saya baca, saya menemukan bahwa sampai saat ini BT belum melepas layanan LTE atau 4G kepada pelanggannya. Saya juga sudah memeriksa di dalam daftar layanan yang disediakan oleh BT sampai saat ini masih menyediakan layanan broadband tercepatnya adalah HSDPA. Namun kabar terakhir yang saya baca, BT telah memenangkan spektrum 4G ketika lelang spektrum 4G Ofcom. Dalam lelang terseut BT melalui anak perusahaannya Niche Spectrum Ventures Ltd, memenangkan spektrum 2.6 GHz sebesar £ 186 juta. Diperkirakan BT akan meluncurkan layanan jaringan 4G nya di tahun 2014, yang nantinya akan ditawarkan dengan harga yang lebih murah dari pesaingnya. Kabar yang tersiar selain BT akan menyediakan layanan jaringan 4G kepada penggunanya, BT juga akan menciptakan layanan OTT yang akan berjalan di atas jaringan 4G tersebut.

      Silahkan apabila ada yang ingin menambahkan

      Regards

      Wendhy Munthe
      (Kelompok 3)


      Sumber :
      http://www.trefor.net/2013/05/28/analysis-of-who-bought-what-in-the-ofcom-4g-spectrum-auction-o2-bt-merger/

      http://www.computerweekly.com/blogs/the-full-spectrum/2013/07/bt---the-next-ott-provider-tha.html

      http://www.productsandservices.bt.com/

      Hapus
    9. Dear All,

      Mencoba menanggapi komentar dan pertanyaan dari Pak Fajardhani mengenai tidak semua terobosan teknologi memberikan keunggulan jangka panjang dengan contoh adalah British Telecom (BT). BT adalah salah satu operator selular di Eropa yang masih belum me-launch LTE. Dari informasi di internet, BT masih menjajaki/trial teknologi LTE ini dengan perusahaan bernama Everything Everywhere untuk menyediakan layanan Broadband di daerah rural. Dari contoh ini, terobosan teknologi seperti evolusi mulai dari 1G, 2G, 3G hingga akhirnya 4G/LTE yang merupakan bagian dari Key Resources (KR) dalam tool Canvas, dapat memberikan keunggulan jangka panjang bagi operator jika memiliki Value Proposition (VP) yang jelas, kuat serta tidak mudah ditiru oleh pesaing dan yang memberikan banyak manfaat lebih bagi pelanggan sehingga bisa menjadi keunggulan untuk jangka panjang.

      Salam,
      Dewi

      Hapus
    10. Mohon maaf sebelumnya, saya ingin menambahkan mengenai layanan LTE di Indonesia. Menurut saya, perlu dianalisa lagi apakah saat ini kita memang butuh LTE atau masih 2-3 tahun lagi. Karena beberapa operator yang jaringan 3Gnya overload, hanya terjadi overload di sisi radio, sedangkan di transmisinya (Iub) belum, rata-rata utilisasi Iub masih di bawah 10Mbps, memang ada beberapa site yang utilisasi Iubnya sudah mencapai lebih dari 10Mbps tapi jumlahnya sangat sedikit. Hal ini berarti banyaknya user yang mengakses ke jaringan lebih dominan dibandingkan dengan kecepatan yang akses user. Atau bisa dikatakan jika hanya ada 1 user yang mengakses layanan data, kecepatan aksesnya tidak lebih dari 10Mbps, sedangkan HSDPA sekarang umumnya bisa melayani sampai kecepatan 14,4Mbps
      Selain kebutuhan akan speed yang belum besar, masalah harga jual layanan harusnya juga menjadi pertimbangan operator dalam menjual layanan. Dengan investasi LTE yang sepertinya cukup besar (karena LTE butuh network baru tidak seperti 3G yang bisa menggunakan beberapa core milik GSM), sedikit banyak akan berpengaruh terhadap harga jual layanan. Jika ingin menjual layanan yang murah, operator tentu berusaha menggaet pelanggan dengan jumlah tertentu supaya tidak mengalami kerugian dan jika jumlah pelanggan yang menggunakan jaringan sangat banyak (karena tariff murah), tentunya akan mempengaruhi ke kecepatan layanan LTE itu sendiri dan permasalahan di jaringan 3G di atas tentu akan terjadi.
      Jadi sebelum operator berevolusi ke LTE, ada baiknya operator juga mengedukasi pelanggan bahwa jaringan LTE akan lebih bermanfaat untuk akses data kecepatan tinggi dibandingkan hanya untuk mengakses social media supaya demand akan kecepatan layanan bertambah. Atau bisa juga perlu regulasi mengenai biaya minimum layanan supaya pelanggan yang benar-benar butuh saja yang menggunakan layanan LTE sehingga jaringan LTE terutilisasi secara optimal :)

      Hapus
    11. Terkait inovasi, yang merupakan faktor utama yang mempengaruhi perkembangan/pertumbuhan ekonomi, dan tehnologi merupakan mesin pendorong perkembangan/pertumbuhan ekonomi tersebut. Sehingga, untuk tehnologi sendiri, sudah sebaiknya pemerintah kita mulai mendukung dan mengarahkan operator-operator kita untuk lebih berinovasi, mulai melirik pada aktifitas R&D sehingga bisa mengembangkan tehnologi yang sudah ada, layanan serta produk-produknya, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang swakarya.

      Hapus
  3. Dear Kelompok 1,

    Ulasan yang diberikan cukup menarik dan memancing kita untuk merenungi dampak perubahan teknologi ini.
    Di luar aspek perubahan regulasi yang mengikuti setiap perubahan teknologi, barangkali perlu kita cermati juga dampak perubahan teknologi terhadap keunggulan kompetitif suatu perusahaan dan pada akhirnya suatu negara.

    Dalam 3 tahun terakhir ini kita menyaksikan betapa cepatnya perubahan sekaliber Nokia (asal Finlandia) harus dijual kepada Microsoft, dan terakhir BlackBerry (asal Kanada) yang terpaksa merumahkan 40% karyawannya dan pada akhirnya dijual seharga 4,7 milyar USD kepada sebuah perusahaan finansial.

    Kedua perusahaan memiliki kesamaan, sama-sama bertumpu pada teknologi, sama-sama menjadi keunggulan kompetitif dari negaranya masing-masing, namun gagap menghadapi perkembangan teknologi yang terlampau cepat dan diperparah dengan kesalahan memilih strategi kelangsungan bisnis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih info study case dari Mas Fadli yang menjadi topik hangat saat ini. Kalau dihubungkan dengan topik yang sedang kita bahas mengenai perubahan teknologi, layanan dan regulasi :

      Nokia

      Perusahaan ini merupakan perusahaan penghasil teknologi handset (hardware) "paling awet" sehingga bisa bertahan dari tahun 90an hingga sebelum Samsung booming sekitar tahun 2011. Namun terjadi perubahan tren layanan yang awalnya hanya digunakan menelpon, sms dan bermain game, menjadi banyak yang gemar aktif di jejaring sosial, sehingga teknologi software lebih maju dibandingkan teknologi hardware.

      Blackberry

      Awal masuknya BB ke Indonesia menjadi tren tersendiri, namun BB hanya memiliki satu layanan aplikasi andalan saja yaitu Blackberry Messaging (BBM), untuk aplikasi yang lain bisa didapatkan walaupun tidak menggunakan Blackberry. Perusahaan ini sepertinya ingin menyaingi Apple yang memiliki aplikasi eksklusif serupa namun gagal.

      Nokia sebagai perusahaan teknologi (hardware) tidak bisa hanya mengandalkan kehebatan teknologinya saja, begitu juga dengan Blackberry tidak bisa hanya mengandalkan aplikasi layanan saja. Dibutuhkan kerja sama dengan para OTT dan model bisnis yang tepat agar proses bisnis bisa terus berlangsung. Zaman sudah berubah!

      Hapus
    2. Mas Fadli Yth,
      Yang menjadi konsen anda sangat layak untuk kita diskusikan lebih lanjut. Sepeti yang di sampaikan Pak Fajar , bahwa terobosan teknologi belum tentu akan memberikan dampak jangka panjang. Kalau kita melihat dari model bisnis , kedua perusahaan tersebut (Nokia dan Blackberry) menurut saya ada satu faktor yang menyebabkan mereka tidak bisa bertahan dalam persaingan industri , karena sedikit melupakan Customer Segmentnya . CS disini ternyata kalau kita perhatikan berubah dari masa ke masa atau dengan kata lain CS dimanis. Nah ..model bisnis memang harus senantiasa ada pembaharuan jika peusahaan tersebut mau terus bertahan dan bersaing dalam industri.
      Melihat kasus nokia dan blackberry , jika tidak mau dikatakan tidak memperhatikan CS nya ..maka boleh dikatakan kedua perusahaan tersebut terlambat dalam mereposisi CS sesuai dengan perkembangan diluar.
      mohon koreksinya ..
      salam

      Hapus
    3. dear mas Mustain,

      Saya setuju sekali dengan pendapat anda, bahwa BB dan nokia melupakan Customer Segment (CS) mereka. Dimana kebutuhan pelanggan mereka sudah berubah dan pihak BB dan Nokia tidak melakukan peningkatan Value Propositions (VP) untuk memenuhi kebutuhan CS

      Hapus
    4. Menarik membahas tentang Nokia dan Blackberry,

      Sedikit menambahkan

      Ada tiga pelajaran tentang inovasi bisnis dari drama limbungnya Nokia dan Blackberry ini yang bisa diambil,

      1 Core Competencies will Win. Inovasi akan selalu dimenangkan oleh mereka yang menguasai core competency dalam industrinya. Dalam kasus industri

      gadget, core competencies itu adalah pada penguasaan dua bidang sekaligus : hardware design dan software. Siapa yang menguasai dua aspek ini akan menang.

      2 Collaborative Innovation. Kalau kita tidak menguasai core competencies yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis, tak ada salahnya kita melakukan kolaborasi dengan mereka yang memilikinya.

      Contoh : Samsung sadar ia tak akan mampu melawan kompetensi software Apple. Karena itu ia segera melakukan kolaborasi dengan software Android milik Google.

      Kolaborasi atau aliansi strategis tak pelak merupakan salah satu taktik kunci untuk memenangkan persaingan bisnis yang kian dinamis.

      3 Speed. Speed. Speed. Dalam derap perubahan yang melaju dengan kencang, respon yang lamban (atau apalagi penuh birokrasi) akan membuat perusahaan kalah dilibas pesaing.

      Kasus : Samsung beruntung cepat mengambil keputusan untuk aliansi dengan Android. Samsung juga cepat merespon gadget touch screen yang kini jadi tren global.

      Nokia dan Blackberry amat lamban merespon dinamika itu. Terlalu banyak analisa. Terlalu lamban mengambil decision. Dan ketika keputusan diambil, semuanya sudah terlambat.

      Sumber :
      http://strategimanajemen.net/2012/07/02/kenapa-nokia-dan-blackberry-di-ambang-kehancuran/#sthash.LD583nr5.dpuf

      Hapus

Membuat Link Pada Komentar Anda
Agar pembaca bisa langsung klik link address, ketik:
<a href="link address">keyword </a>
Contoh:
Info terkini klik <a href="www.manajementelekomunikasi.org"> disini. </a>
Hasilnya:
Info terkini klik disini.

Menambahkan Gambar Pada Komentar
Anda bisa menambahkan gambar pada komentar, dengan menggunakan NCode berikut:

[ i m ] URL gambar [ / i m ]

Gambar disarankan memiliki lebar tidak lebih dari 500 pixels, agar tidak melebihi kolom komentar.

---

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger