Selasa, 01 Februari 2011

Menghadang Laju "si Baim"


Om Sule tampaknya tak bisa meremehkan si Baim lagi, karena walau om Sule tidak mau percaya dengan anak kecil, akan tetapi Baim tak pernah bohong soal janjinya untuk mendapatkan ranking 2 di kelasnya. 
Mungkin itulah sekedar joke yang bisa penulis utarakan untuk membuka pembicaraan mengenai pertumbuhan XL yang sangat percaya diri mengumumkan prestasinya menjadi operator terbesar kedua di area bisnis industri telpon seluler Indonesia awal tahun 2011 ini, naik satu peringkat dibanding sebelumnya yang berada di posisi ke-3.

Langkah penting strategis XL yang dimulai tahun 2007 sejak kepemimpinan XL dinahkodai oleh Hasnul Suhaimi (Sep’06) yang menjadi kunci pencapaian ini adalah:
  • XL terus mengeluarkan produk dan layanan yang inovatif, sebagai strategi untuk terus melakukan penetrasi pasar. 
  •  XL sejak 2010 mulai memfokuskan diri terhadap layanan data dimana XL mengalokasikan sekitar 30% dari belanja modal tahun itu untuk jaringan data. 
  • Sepanjang 2010, XL telah membangun 2.842 BTS (2G/3G) sehingga pada akhir 2010 jumlah BTS XL telah mencapai 22.191 (2G/3G) 
  • Untuk tahun 2011, XL akan menganggarkan sekitar Rp 5 triliun untuk belanja modal dimana sekitar sepertiganya akan dialokasikan untuk layanan data/3G.
Berikut adalah highlight pertumbuhan yang telah dilaporkan XL selama tahun fiskal 2010:

- Pendapatan usaha sebesar Rp. 17,6 triliun (27% YoY dan 4% QoQ)
- EBITDA sebesar Rp. 9,3 triliun (50% YoY dan 6% QoQ)
- EBITDA Marjin sebesar 53%
- Laba Bersih sebesar Rp. 2,9 triliun (69% YoY dan 7% QoQ)
- Total Pinjaman sebesar Rp. 10,2 triliun (24% YoY)
- Total pelanggan sebanyak 40,4 juta (28% YoY dan 5% QoQ)
- Jumlah outgoing minutes 81,9 miliar menit (28% QoQ)
- Total ARPU sebesar Rp 34 ribu
- Jumlah outgoing SMS sebanyak 188 miliar SMS (196% YoY dan 23% QoQ)


Gayung bersambut para kompetitorpun berbenah, Telkomsel yang saat ini sebagai operator telpon seluler terbesar di Indonenesia mulai dibanding-bandingkan dengan angka pertumbuhan XL yang sangat prestatif. Dibandingkan dengan Telkomsel yang hanya mampu mencetak pertumbuhan omset hanya di bawah 4% atau sekitar Rp 41,6 triliun dengan pencapaian 95 juta pelanggan. Sedangkan laba bersih hanya Rp 11,326 triliun atau turun 13,6% dibandingkan 2009 sebesar Rp 13,16 triliun. 
Untuk melampaui posisi Telkomsel sebagai no.1 agaknya terlalu berlebihan dan mungkin merupakan suatu target yang muluk, akan tetapi dalam kondisi seperti ini jika XL ingin tetap terus tumbuh maka XL harus membuka demand pasar yang baru atau mengambil pasar yang sudah ada, dan inilah yang harus diwaspadai oleh Telkomsel.

Untuk itu Telkom selaku induk perusahaan melakukan langkah strategis untuk menghadang laju si Baim setelah berhasil menumbangkan komposisi tetap Indosat sebagai pemain no.2 pada masa kejayaan yang lalu, diantaranya adalah:

  • Merombak struktur manajemen Telkomsel dari 5 menjadi 7 jajaran direksi, dimana susunan direksi Telkomsel saat ini adalah:  
a.       Direktur Utama Sarwoto Atmosutarno (Telkom)
b.      Direktur Keuangan Triwahyusari (Telkom)
c.       Direktur Perencanaan & Pengembangan Herfini Haryono (Telkom)
d.       Direktur Operasi Ng Kwon Kee (SingTel)
e.      Direktur Niaga Leong Shin Loong (SingTel)
f.        Direktur Sumber Daya manusia (SDM) – (Rencana Alokasi Direksi Baru)
g.       Direktur Penjualan, dan Teknologi Informasi (TI) – (Rencana Alokasi Direksi Baru) 

  • Pada 2011 ini 65% dari belanja modal sebesar US$ 1,6 miliar akan disediakan untuk Telkomsel,dimana Dana belanja modal 80% didapatkan dari kas internal, dan 20% dari eksternal (Bank).

Sumber: Press Confrence Telkom

Dalam pandangan penulis sebenarnya prestasi XL untuk merebut posisi ke-2 Indosat bukanlah suatu hal yang mengejutkan ditengah kisruh manajemen Indosat yang tak jua menemukan komposisi landskap perusahaannya, XL terus melaju dengan mantap dengan strateginya yang inovatif dengan menunjukkan angka pertumbuhan yang sangat baik. Tentulah kiranya Telkomsel yang lebih harus berhati-hati agar tidak kehilangan komposisi market share-nya ditengah gempuran strategi XL untuk merebut pelanggan.
“XL telah mendekati masa Mature”, demikian yang disampaikan oleh CEO XL Hasnul Suhaimi dalam blog pribadinya mengenai analisis Curva-S yang telah diterapkan manajemen XL dalam melakukan evaluasi pencapaian target seperti yang disampaikan dalam kuliah inovasi beberapa waktu lalu di ITB-Bandung. Untuk dapat terus tumbuh, XL harus segera semaksimal mungkin mencari sumber pertumbuhan baru (second “S Curve”). Bagi perusahaan operator layanan seluler seperti XL, sumber pertumbuhan selain dari layanan voice dan SMS harus segera dicari, atau sepertinya sepak terjang si Baim harus segera berhenti dan mulai memasuki masa penurunan atau setidaknya dapat bertahan dengan kondisi yang ada.

Penulis,

Fadil
fadilde@gmail.com
@fadilblank

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Membuat Link Pada Komentar Anda
Agar pembaca bisa langsung klik link address, ketik:
<a href="link address">keyword </a>
Contoh:
Info terkini klik <a href="www.manajementelekomunikasi.org"> disini. </a>
Hasilnya:
Info terkini klik disini.

Menambahkan Gambar Pada Komentar
Anda bisa menambahkan gambar pada komentar, dengan menggunakan NCode berikut:

[ i m ] URL gambar [ / i m ]

Gambar disarankan memiliki lebar tidak lebih dari 500 pixels, agar tidak melebihi kolom komentar.

---

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger