Senin, 14 Oktober 2013

Studi Kasus # 12: Future MARKETING dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 4


 Menurut Philip Kotler pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Diskusi pada artikel ini menyoroti bentuk layanan telekomunikasi guna memanfaatkan perubahan yang terjadi pada fungsi marketing..

Pendahuluan

Pemasaran (marketing) dalam suatu perusahaan memegang peranan yang sangat penting, karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan usaha, melakukan pengembangan usaha (pertumbuhan) dan untuk pencapaian tujuan perusahaan.

Keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan tergantung dari susunan strategi pemasaran yang ada di perusahaan tersebut. Setiap perusahaan menggunakan sejumlah alat untuk mendapat respon dari konsumen terhadap kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan. 
Salah satu alat yang digunakan perusahaan dalam menyusun strategi pemasaran adalah dengan menggunakan bauran pemasaran (mix marketing) yang terdiri dari 4P yaitu product (produk), price (harga), place (tempat), promotion (promosi). Place yang dimaksudkan di sini ialah distribusi

New Wave Marketing

New wave marketing adalah suatu cara marketing yang lebih menekankan untuk mendorong customer ikut andil mempromosikan produk secara tidak langsung.




Disini pihak perusahaan didorong untuk lebih peka terhadap bagaimana mem-Brand produk agar dapat membuat customer loyal terhadap produk atau layanan yang disediakan, terlebih terhadap perusahaan yang penyedia, supaya customer itu nantinya diharapkan dapat menjadi ‘sales’ tak langsung bagi perusahaan dalam memasarkan produk. 

Sadar atau tidak, kita telah melakukan dan merasakannya dalam hal membuat keputusan untuk membeli sebuah produk atau mengkonsumsi suatu layanan. Kita akan lebih menurut dengan rekomendasi dari teman kita (word of mouth) dari pada iklan. 

Perkembangan teknologi dan layanan telekomunikasi berperan sangat  besar dalam melahirkan ‘new wave marketing’, Konsep ini mulai berkembang karena adanya dukungan dari era Web 2.0 dimana orang dapat pertukaran informasi secara lebih mudah (interaktif) jika dibanding dengan era Web 1.0

Marketing berkaitan dengan sembilan elemen yang terdiri dari: 
  1. segmentasi, 
  2. targeting, 
  3. positioning, 
  4. diferensiasi, 
  5. marketing-mix, 
  6. selling, 
  7. brand, 
  8. service, dan 
  9. process. 
Sembilan elemen tersebut lahir di zaman serba vertikal. Saat itu belum ada Web 2.0 atau bahkan belum ada Web 1.0. Ketika itu praktek pemasaran yang dilakukan oleh pemasar dan dikendalikan secara top-down, bersifat hirarkis, dari perusahaan ke konsumen. 

Seiring dengan masuknya era  horisontal, yang didorong oleh kekuatan baru teknologi Web 2.0, seakan produsen dihadapkan pada tuntutan untuk bergerak lebih horisontal dan duduk sejajar dengan konsumen, kompetitor dan agen-agen pembawa perubahan. 

Artinya konsumen bukan lagi menjadi objek tapi subjek, karena penciptaan nilai pemasaran akan lebih bertambah kalau melibatkan pelanggan dan melakukan inovasi secara bersama-sama. 

Model pemasaran New Wave ini memang berbeda. Sembilan elemen yang selama ini sudah dikenal mungkin masih tetap berlaku, namun secara praktek kesembilannya harus dirubah ke yang lebih horisontal dimana 9 elemen pemasaran sudah berganti menjadi 12 C dan Marketing Mix (4P) sudah berganti ke New Wave Marketing Mix (co-creation, currency, conversation and communal activation). 

Teknologi ICT Merubah Model Pemasaran 

Era Web 2.0 dan media sosial membuat internet menjadi lebih interaktif, merubah dalam mencari informasi dan berinteraksi dengan orang lain. 

Kini pengguna tidak hanya sebagai pengamat saja, tetapi dapat memberikan feedback kepada pembuat berita, sehingga internet menjadi lebih aktif dari era sebelumnya karena ada keterlibatan pengguna di dalamnya. Dengan pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia yang semakin meningkat dan penggunaanya kebanyakan untuk media sosial dan chatting, operator-operator telekomunikasi menangkap peluang tersebut dengan menyediakan paket-paket layanan internet. 

Melihat fenomena ini, dunia marketing pun lambat laun melakukan penyesesuaian dengan yang terjadi pada saat ini. Sistem marketing yang dulu menerapkan “high cost high impact” sekarang menjadi “low cost high impact”.

Pemasaran produk dapat memanfaatkan media sosial yang biayanya tidak sebesar memasang iklan di televisi, surat kabar, pamlet, dan lain-lain. Dengan pemasaran online akan timbul pemasaran horizontal yaitu customer loyal menjadi sales perusahaan untuk dari produk tertentu. 

Contohnya adalah sebuah bank masuk ke sosial media untuk tujuan customer engagement. Bank tersebut menjalankan konsep “Care” dengan mendengarkan keluhan masyarakat, dengan 113,000+ fans di Facebook dan 44,900+ followers di Twitter. Ini memungkinkan bank memanfaatkan keuntungan dari sosial media dengan tersedianya grup dan news feeding pada facebook misalnya dapat mendorong penyebaran ide inovasi yang dapat dieksekusi dengan cepat apabila sesuai dengan tren. 

Orang-orang menaruh kepercayaan kepada yang memiliki banyak follower dibandingkan brand ambassador di iklan TV.

Model Bisnis Di Era New Wave Marketing 

Perbedaan model bisnis new wave marketing dengan legacy marketing terletak pada “Low Cost, High Impact”, dengan biaya yang sangat rendah bisa didapatkan dampak yang maksimal. 


Dampak dalam hal ini bukan pada besarnya jumlah keuntungan, tapi lebih kepada kepuasan pelanggan yang lebih menjamin “kelanggengan” suatu produk dalam pasar. 

Dengan bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi dan juga IT Developer menandakan pentingnya peranan teknologi ICT dalam new wave marketing ini.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sektor telekomunikasi memanfaatkan peluang ini?

Artikel Terkait

26 komentar:

  1. Ada yang mengenal konsep Marketing 3.0? Apakah ini yang disebut sebagai new wave marketing?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, the new wave marketing merupakan konsep marketing 3.0

      Mengutip buku "Marketing 3.0: Values-Driven Marketing” Philip Kotler & Hermawan Kartajaya, konsep marketing 3.0 lebih melekatkan nilai-nilai pada misi dan visi perusahaan. Marketing 3.0 akan terlihat dari seberapa dalam hubungan hubungan produsen dengan konsumen atau stakeholder, dalam hal ini status antara pemasar dan pembeli berada di posisi sejajar dimana pemasar sudah berbaur dengan pembeli.

      Marketing 3.0 lebih banyak dipengaruhi oleh pembeli. Hal ini merupakan cara yang lebih mutakhir dari suatu customer-centric dimana kolaborasi dari kebutuhan pelanggan, 'iconic' atau ke-khas-an, dan pendekatan pemasaran secara mandiri/ berbeda terdapat didalamnya.

      And in my point of view as the customer, marketing 3.0 merupakan cara efektif untuk 'tertarik' terhadap suatu produk / layanan baru, karena kolaborasi antar jejaring konsumen saat ini dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja dengan memanfaatkan layanan telekomunikasi.



      Referensi:
      http://narrativebranding.files.wordpress.com/2010/01/marketing_3-0-values-driven-marketing.pdf

      Hapus
  2. Secara garis besar tujuan dari jenis-jenis marketing :
    - Marketing 1.0 : Connected - IQ (Rasional)
    - Marketing 2.0 : Catalysed - EQ (Emosional)
    - Marketing 3.0 : Civilized - SQ (Spiritual)

    Berbeda dengan marketing 1.0 dan 2.0, marketing 3.0 bertujuan agar suatu perusahaan atau organisasi memiliki faktor pembeda / keunggulan kompetitif. Hubungan perusahaan, customer dan kompetitor sejajar atau horizontal. Tiga elemen utamanya yaitu :
    1. Clarifying your persona - What is your color?
    2. Coding your DNA - What is your authenticity?
    3. Character with charisma - What is your aura?

    Marketing 3.0 inilah yang merupakan cikal bakal pemikiran bahwa pada akhirnya marketing menjadi horizontal, dimana sisi humanisme si pemasar membuat pasar menjadi datar. Artinya, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Consumer.

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/Marketing30_zpsdc7deda7.jpg[/im]

    Dari gambar tersebut akan membentuk unsur-unsur dari new wave marketing sehingga menjadi :

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/newwavemarketing_zpsacd80c05.jpg[/im]

    Menjawab pertanyaan : apakah konsep marketing 3.0 sebagai new wave marketing?
    Pendapat kami : Ya, sesuai dengan informasi yang kami dapat dari beberapa sumber tersebut, marketing 3.0 adalah konsep yang menyusun atau mendasari munculnya new wave marketing dengan tiga komponen utama (clarification, codification, dan character) sebagai tiga faktor keunggulan kompetitif yang menjaga "kelanggengan" hubungan antara perusahaan dengan customer.

    sumber :
    What's Next in Marketing? New Wave Marketing - Hermawan Kertajaya
    http://www.slideshare.net/AndriAdi1/mengenal-konsep-marketing-30-hand-out-inspiring-marketing-class

    - Rinto Hariwijaya, Kelompok 1 -

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ingin Menambahkan informasi diatas.
      Dalam new wave marketing terjadi perubahan elemen seperti yang ditunjukkan pada gambar tersebut . Perubahan ini sangat terkait dengan perubahan platform pada komunikasi yang ada antara perusahaan dengan konsumen. Yang awalnya hanya menggunakan media offline, kini menjadi offline + online, dan dengan adanya perkembangan teknologi web dari web 1.0 menjadi 2.0 membuat perubahan ini menjadi semakin cepat. Berikut gambaran perubahan platform tersebut :

      [im]http://i1277.photobucket.com/albums/y493/mustain_aziz/web20_zpseec1f137.png[/im]

      Dan berikut tiga tahapan dari new wave marketing :

      [im]http://i1277.photobucket.com/albums/y493/mustain_aziz/cbe82bb7-3e67-4c70-936a-934c3b52b896_zps8bfb55a7.jpg[/im]

      Perubahan elemen ini mengakibatkan dalam new wave marketing customer dapat menjadi tenaga “sales” secara tidak langsung dalam mempromosikan produk atau jasa yang diberikan. Customer akan memberi penilaian terhadap kualitas produk / jasa, lalu memberikan testimoninya baik kepada perusahaan maupun rekomendasi terhadap orang-orang di sekitarnya (offline / word of mouth) atau pada publik di media sosial (online). Tentunya hal ini menjadi pisau bermata dua bagi perusahaan itu sendiri. Jika kualitas produk itu bagus maka akan menjadi keuntungan untuk nama baik brand perusahaan itu, namun jika kualitas produk itu dinilai kurang baik maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu : customer akan memberi masukan yang membangun bagi peningkatan kualitas atau justru menjadi kesempatan bagi kompetitor untuk menjatuhkan brand perusahaan tersebut.

      Hapus
    2. Sedikit Menambahkan :

      New Wave Marketing, orde baru pemasaran (new wave marketing) atau marketing 3.0 bukan berarti era pendahulunya sama sekali ditinggalkan dan tidak berlaku lagi. Marketing 3.0 justru merupakan penyempurnaan dari era sebelumnya, sehingga khazanah marketing lebih kaya, lengkap dan mampu memanusiakan konsumen. Produsen dan konsumen berada dalam posisi yang setara, memiliki saling ketergantungan, komunikasi berlangsung dua arah sehingga dapat terbangun kemitraan dan hubungan yang bersifat horizontal. Masing-masing pihak (penjual dan pembeli) mempunyai akses terhadap informasi yang berimbang sehingga dapat terjalin negosiasi yang fair, jujur dan transparan serta win-win solution. Kemajuan teknologi wireless mobile dan internet merupakan driver utama lahirnya konsep marketing 3.0. Eksistensi telepon seluler membuat sebagian besar orang dapat terhubung (connect) dengan siapapun, kapan dan dimanapun mereka berada. Fenomena mobile and connect menjadi lebih bergairah dengan berkembangnya internet web 2.0 dan memicu munculnya social media seperti Facebook, MySpace, Twitter, Kaskus dan sejenisnya.

      Fakta ini membuktikan bahwa era marketing 3.0 sudah tiba dan mengharuskan para marketer untuk memahami dan menggelutinya. Keywords marketing 3.0 adalah mobile and always connect, mampu melebur dalam offline dan online communities dan perusahaan mempunyai platform yang bisa mengakomodasi proses komunitisasi konsumen. Karakter Marketer 3.0 adalah mobile (gaul) sehingga mampu merekatkan diri dengan all stakeholders-nya (konsumen, supplier, regulator, asosiasi, kompetitor, YLK / LSM) melalui community offline dan online.

      Hapus
  3. Menambahkan mengenai bisnis model new wave marketing :

    [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/NewWaveMarketingCanvas_zpscaa0ff80.jpg[/im]

    untuk revenue stream ditambahkan ROI (Return of Investment), yaitu rasio uang yang diperoleh atau hilang pada suatu investasi, relatif terhadap jumlah uang yang diinvestasikan atau dengan rumus :

    ROI = (Gain from Investment - Cost of Investment) / Cost of Investment

    Investasi yang dimaksud di sini tentu saja adalah investasi untuk kegiatan marketing. Dengan new wave marketing maka cost of investment menjadi rendah dan gain from investment meningkat sehingga nilai ROI juga akan meningkat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear mas Rinto,

      Mohon pencerahannya lagi mas untuk key aktivities yg ada di model bisnis diatas kaitannya dengan value prepositionnya seperti apa yah?
      Terima kasih sebelumnya

      Salam,
      Nova - Kelompok 2

      Hapus
    2. Dear Mbak Nova,

      Mari kita ambil satu contoh Key Activities seperti Conversation. Conversation di sini adalah membangun komunikasi yang intens dengan pelanggan agar didapatkan value berupa "feedback" / saran / masukan sehingga bermanfaat untuk perbaikan suatu produk atau value. Key Activities sendiri adalah segala kegiatan yang dapat menghasilkan atau meingkatkan kualitas dari value yang dijual kepada customer. Namun Model Bisnis tersebut menurut saya masih perlu perbaikan lagi karena terlalu general dan kurang spesifik kegiatan marketingnya.

      Terima kasih atas tanggapan dari Mbak Nova.

      - Rinto Hariwijaya -

      Hapus
    3. Dear mas Rinto,

      Sehubungan dengan penjelasan untuk Revenue Stream di atas, apakah bisa dicontohkan perusahaan tertentu yang sudah menggunakan New Wave Marketing ini berhasil mengeluarkan cost yang lebih rendah dan ROI yang meningkat untuk kegiatan marketingnya?

      Terima Kasih

      Hapus
    4. Dear Mas Rinto,

      Terima kasih sebelumnya, menurut saya juga demikian mas... karena masih terlalu general dalam pemaparannya saya masih belum bisa terlalu melihat koneksi antara satu dan lainnya. Mungkin jika diambil satu case aja dalam hal ini akan bisa membantu untuk pendetailan masing2 segment

      Dan tambahan untuk cost structure, saya rasa cost untuk operational di luar aktifitas marketing dan advertisement juga ada. Mungkin bisa jadi tambahan...
      Terima Kasih

      Salam
      Ayu Nova -Klmpk 2

      Hapus
    5. Dear Mas Rinto,

      Apakah model bisnis diatas adalah untuk perusahaan yang menjalankan new wave marketing atau konsep bisnis new wave marketing secara umum?

      Mohon pencerahannya,

      Hapus
    6. Dear Mbak Lia,

      Berikut tren ROI dan Cost of Sales dari Walmart :

      [im]http://i1289.photobucket.com/albums/b503/rhariwijaya/ce0e3c11-503b-447c-940e-3c70c0013a04_zps283bf9b2.jpg[/im]

      Dari tren tersebut memang tampak ROI mengalami penurunan, namun masih tidak terlalu signifikan, hal ini bisa terjadi karena tren cost of sales juga mengalami kenaikan. Hal ini dipengaruhi banyak faktor, jika ingin membandingkan investasi per tahun maka perlu dicari nilai Present Value karena terjadi inflasi setiap tahunnya.

      Dear Mbak Nova,

      Terima kasih atas tambahannya. :)

      Dear Mas Eka,

      Model bisnis tersebut konsep bisnis new wave marketing secara umum mas, masih perlu difokuskan lagi agar lebih jelas.

      Terima kasih.

      - Rinto Hariwijaya -

      Hapus
  4. Dear All,

    Menanggapi artikel ini dan juga diskusi di kelas, pertama saya ingin menanyakan apakah model bisnis Canvas untuk Future Marketing bisa juga dibuat untuk divisi Marketing di internal suatu Perusahaan ataukah hanya untuk Perusahaan yang memang bergerak di bidang Marketing?
    Karena kalau melihat dari definisi elemen Channels di Canvas, bahwa Channels (Saluran) mencakup saluran komunikasi, distribusi dan penjualan yang merupakan penghubung antara perusahaan dan pelanggan. Sehingga menurut pendapat sederhana saya, model bisnis Canvas tidak bisa digunakan untuk menggambarkan divisi marketing internal suatu perusahaan karena divisi Marketing tersebut sudah masuk ke dalam elemen Channels..
    Sedangkan jika digunakan untuk menggambarkan model bisnis dari suatu perusahaan Marketing maka hal tersebut bisa dilakukan karena perusahaan tersebut merupakan suatu organisasi khusus dimana pengertian sebuah model bisnis adalah menggambarkan dasar pemikiran tentang bagaimana "organisasi" menciptakan, memberikan dan menangkap nilai (definisi dalam Business Model Generation)

    Selanjutnya adalah mengenai Future Marketing, menurut saya industri Telekomunikasi memiliki peluang besar untuk menempati posisi penting dalam model bisnis Marketing di masa depan terutama dalam hal data profilling. Dengan basis pelanggan telekomunikasi terutama selular yang sangat besar dan booming Smartphone yang penetrasinya akan terus meningkat, model bisnis Marketing di masa depan dapat lebih personalize dan cepat melalui wireless dan media handset. Industri selular dapat menawarkan kerjasama kepada industri lain yang ingin memasarkan produk/layanannya dengan targeted consumer yang lebih presisi berdasarkan data profiling (segmentasi, interest, spending rate, dll). Saat ini model bisnis yang mirip dengan konsep ini adalah LBA (Location Based Advertisement) tapi LBA baru berdasarkan lokasi/posisi dari customer saja, sedangkan jika pemasaran didasarkan pada data profiling dapat membuat marketing yang dilakukan lebih variatif, comprehensive dan tepat sasaran..
    Tantangannya adalah, sebaik dan secepat apa industri telekomunikasi dapat menyusun database profiling pelanggannya?
    Terima kasih

    -Dewi Asri Klp.2-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Ibu Dewi,
      Mengenai canvas untuk memodelkan divisi marketing, perusahaan marketing atau apapun itu, saya pikir itu bisa dilakukan. Yakni dengan memandang marketing (baik internal/divisi maupun perusahaan) sebagai organisasi

      Kita bisa menggambarkan marketing division/company di canvas melalui apa yg dia kerjakan lalu digambar di key activity di canvas, lalu lanjut ke step lainnya. ini gambaran-simpel menurut saya-maaf CMIIW ya..


      Key Activity:
      1. Promoting
      2. Selling
      3. Coordinating with other division (Managerial, Production, HRD, etc)
      4. Market Monitoring
      3. etc

      Customer Segment:
      1. Management internal/ Direksi
      2. Customer

      Key Partner:
      1. Production Comp/ Divisi Produksi
      2. Outsorce (utk teknis pemasaran)
      3. etc

      Channel:
      1.Media (electronic, social)

      dst..

      Jadi menurut saya, apapun organisasinya bisa dilakukan mapping ke model canvas. Sekali lagi CMIIW..

      Fauzan Baskoro

      Hapus
    2. Menanggapi sedikit masukan dari Mas Fauzan,

      Menurut pendapat saya, Model Bisnis Kanvas untuk Perusahaan Marketing dan Internal/Divisi Marketing tidak bisa disamakan, karena untuk beberapa perusahaan fungsi dan responsibility dari internal/divisi marketing berbeda-beda.
      Contohnya di perusahaan saya (Vendor), Internal/Divisi Marketing menjadi satu dengan Communication Division (Marketing & Communication Division) tetapi dibedakan dengan Sales Division (under Key Account Division), sehingga untuk Key Activities-nya, 'Selling' adalah resposibility Bagian/Divisi Sales (KAM Division) sementara Marketing & Communication Division lebih fokus kepada Market Monitoring & Analysis, Promotion, Sosialization & Information sharing to internal and outside company, etc.
      Mungkin ada masukan dari temen2 lain, mengenai fungsi Divisi Marketing di perusahaannya?

      Hapus
  5. Dear All

    Saya tertarik untuk mengangkat kasus Starbucks Indonesia terkait dengan future marketing. Starbucks merupakan salah satu perusahaan beverage tersukses, bahkan Starbucks Coffee Shop saat ini sudah berjamuran di kota-kota besar yang ada di Indonesia.

    Kunci dari keberhasilan Starbucks adalah memanjakan pelanggan. Starbucks selalu berusaha berinovasi dengan tujuan untuk membuat pelanggannya merasa nyaman dengan cara menata Starbucks Coffee Shop senyaman mungkin. Selain itu Starbucks selalu menciptakan makanan dan minuman dengan cita rasa tinggi, sehingga pelanggannya dapat menikmati sajian yang ada.

    Dalam mempertahankan pelanggannya Starbucks juga melakukan beberapa terobosan, untuk kasus di Indonesia, Starbucks sering memberikan promo dengan bekerja sama degan pihak Bank, ataupun memberikan beverages gratis melalui program Customer Invoicenya. Dan kunci kedekatan Starbucks dengan pelanggannya adalah Starbucks selalu melatih para barista dalam menjaga kualitas, waiternya agar selalu ramah kepada pelanggan, selalu meminta pendapat dari pelanggan (baik secara langsung ataupun melalui web dan social media), dan memanfaatkan layanan social media untuk memberitahukan kepada pelanggannya mengenai informasi produk ataupun promo yang ada.

    Setelah saya mencoba mengumpulkan beberapa informasi tentang Starbucks, akhirnya saya mencoba membangun kanvas dari business model Starbucks. Kanvas model tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah.

    [im]http://img541.imageshack.us/img541/4268/moms.png[/im]

    Bagaimana pendapat dari rekan-rekan lain ?apakah ada masukan dari kanvas di atas ?
    Mari kita diskusikan

    Regards

    Wendhy Munthe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Wendhy,

      Menarik, mencontohkan starbuck sebagai contoh keberhasilan marketingnya, dan mencantumkan merchandise sebagai salah satu value proposition dalam model bisnis di atas.
      Menganalisa kebutuhan konsumen dan melakukan promosi merupakan bagian dari kegiatan marketing secara general. Dan menyediakan merchandise yang berkaitan dengan main product yang dijual (contoh: mug, tumbler) sebagai VP bukan hanya mencoba menawarkan apa yang dibutuhkan customer, tapi juga sekaligus menjadi salah satu bagian dari promosi main product.

      BR

      Hapus
    2. Dear mas Wendhy,

      Benar, hal ini sangat menarik untuk melihat bagaimana starbucks dalam hal ini mengembangkan bisnis modelnya. Yang ingin saya tanyakan, jika kita perhatikan Starbucks selain menjual kopi, pastry, dan merchandise yang menarik pelanggan untuk terus datang ke starbucks adalah service yang ditawarkannya yaitu jika anak muda jaman sekarang menyebutnya "Tempat Nongkrong" dengan disediakan WIFi dan bahkan terkadang ada live music apakah ini bisa dimasukkan sebagai VP di model bisnis ini?

      Jika menurut saya hal ini malah menjadi daya tarik utama dari Starbucks disamping minuman/makanan itu sendiri. Apalagi dari customer segment yang "anak muda/teenager"

      Demikian dan terima kasih

      Salam
      Ayu Nova - Klmpk 2


      Hapus
    3. Saya rasa pendapat Bu Ayu ada benarnya, Starbucks salah satu usaha menarik konsumen adalah mencoba menciptakan trend nongkrong terutama dikalangan anak muda dan eksekutif..

      Saya juga ingin menambahkan mengenai pemasaran socmed starbucks. Mereka betul-betul memanfaatkan seluruh media sosial populer (twitter, facebook, pinterest, google+) untuk memasarkan produknya. Starbucks bisa mendapat ratusan ribu like dan ribuan comment dari sekedar posting gambar beverages-nya. Dan ini marketing yang sangat efektif.

      source:http://econsultancy.com/id/blog/62281-how-starbucks-uses-pinterest-facebook-twitter-and-google

      Fauzan Baskoro

      Hapus
    4. Dear Mas Wendy,

      Pemaparan model yang sangat detail, Mohon sedikit penjelasan key aktivities yg ada di model bisnis diatas kaitannya dengan value propositionnya seperti apa?

      Warm Regards,

      Hapus
    5. Dear Mba Nova san Mas Fauzan

      Saya setuju bahwa sebenernya starbucks juga menawarkan tempat yang nyaman untuk nongkrong, karena menurut pengalaman dan beberapa artikel yang saya baca itulah kunci kesuksesan dari starbucks. Tapi karena VP menurut saya adalah yang mengenerate revenue, maka dari itu 3 item tersebut yang saya golongkan sebagai VP. Dan untuk kenyamanan dan perhatian yang diberikan agar pelanggan merasa nyaman menurut saya, lebih cocok diletakkan ke dalam CR. Terimakasih Mas Fauzan atas tambahannya, memberikan contoh mengenai penggunaan SocMed yang diletakkan dalam CR oleh starbucks. Dan mebuktikan bahwa social media menjadi media yang ampuh dalam memasarkan produknya dan membuat pelanggan mengetahui adanya produk tersebut.

      Dear Mas Eka

      Kaitand dari KA dengan VP adalah, starbucks membuat makanan dan minuman dan ini sesuai dengan VP pada bagian beverage dan pastry, dan dalam mengikuti kemauan pasar dan pelanggan starbucks akan melakukan research agar mendapatkan kebutuhan tersebut dan akan menciptakan produk berdasarkan hasil research, dan juga starbucks selalu mengikuti musim yang ada, sehingga produknya pun disesuaikan. Perhatian pada pelanggan seperti yang disebutkan sebelumnya merupakan kekuatan dari starbucks, karena itu setiap pegawai starbucks selalu dituntut untuk memberikan perhatian kepada pelanggan. Terakhir adalah training kepada barista ataupun waiter dalam menjaga kualitas dari setiap makanan dan minuman, dan juga pelayanan yang diberikan oleh starbucks.

      Regards

      Wendhy Munthe

      Hapus
  6. Dear Kelompok 4,

    Salah satu aspek perubahan yang cukup mencolok dari new wave marketing adalah perubahan cara pandang terhadap customer segment dari segmentation ke communal.

    Kita tahu ada banyak variable yang membentuk communal seperti gender, georgrafis, rentang usia, tingkat pendidikan, bahasa, budaya dsb.

    Bagaimana implementasinya di Telco Operator terutama dalam menjual layanan data dengan berbasis komunal ini?

    BalasHapus
  7. Sebelum lebih jauh, boleh tanya ya.... Apa sih marketing itu? Maksudnya apa yang dihasilkannya dan apa kegiatannya lalu siapa yang melaksanakannya.... Ada yang bisa bantu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada 4 fungsi dari marketing yang juga mencakup 4 kegiatan besar yang dilakukan dalam marketing :

      1. Peran Promosi
      - Sebagai bagian yang memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat, melalui produk yang dibuat oleh perusahaan tersebut.

      2. Peran Sales / Penjualan
      - Marketing bertugas menghasilkan pemasukan bagi perusahaan dengan cara menjual produk perusahaan tersebut.

      3. Peran Komunikasi
      - Divisi marketing berperan menjalin hubungan baik dengan pelanggan dan masyarakat serta menjadi jembatan antara perusahaan dan lingkungan eksternal.

      4. Peran Penelitian dan Pengembangan / R&D
      - Marketing memiliki tugas untuk menyerap informasi dan menyampaikan kepada perusahaan tentang segala sesuatu yang bermanfaat untuk mendukung peningkatan kualitas dan penjualan produk.

      sumber : http://dutapraja.blogspot.com/2012/09/fungsi-marketing-dalam-perusahaan.html

      - Rinto Hariwijaya -

      Hapus
    2. Of course, Sir :)

      Pada kacamata saya, marketing merupakan suatu bentuk komunikasi dua arah, dimana didalamnya terdapat unsur persuasif (ajakan), menggunakan strategi tertentu, agar lawan bicara tertarik dengan apa yang sedang diperbincangkan / ditawarkan. Ini sangat erat kaitannya dengan kegiatan penawaran akan suatu barang / jasa.

      Output yang diharapkan adalah audience (lawan bicara) memahami dengan jelas suatu objek (barang / jasa) dan merasa bahwa objek tersebut memiliki value yang tinggi yang juga sesuai dengan kebutuhannya. Pemahaman akan objek tsb pada kegiatan ini tentu dilakukan secara custom, bisa berupa door to door marketing, event launching, pasang iklan (PrintAds / media elektronik), atau cetak sales tool kit / flyer, dan sebagainya, tentu dengan memperhatikan cara penyampaian yang baik dan menarik untuk audience.

      Biasanya yang menjalankan kegiatan marketing / pemasaran ini adalah tim external corporate communication yang merupakan gateway brand awareness suatu product.

      Hapus
  8. Sesuai hasil diskusi kemaren, untuk mempermudah dalam pemahaman definisi marketing, berikut peran marketing yang dimodelkan dalam bentuk gambar:

    [im]http://astarilia.files.wordpress.com/2013/10/marketing-e1382497096733.jpg?w=450[/im]

    Suatu kegiatan bisnis, secara garis besar terdiri atas company, market, dan competitior. Company mem-provide barang / jasa kepada customer (market) dan sebaliknya mendapatkan profit dari penjualan tersebut yang linear dengan harga dan volume penjualan.

    PRODUCT / SERVICE
    Dalam kegiatan bisnis tersebut, marketing memiliki peran sebagai mediator antara market dan company. Marketing perlu mengetahui kebutuhan dan keinginan customer atas product / service tersebut, dan menginformasikan kepada company untuk kemudian diproses / di-develop menjadi suatu product/service yang siap dipasarkan.

    PRICING
    Dalam hal pricing, marketing berperan dalam menetukan pricing yang tepat atas product/service yang dijual. Tentunya dalam menentuakan harga, perlu diperhitungkan sesuai fungsi bahan baku, keadaan pasar, customer segmen, competitor, dll. Begitu juga dalam penentuan volume product / service.

    PROMOTION
    Activity lainnya yang perlu dilakukan marketing adalah promosi. Promosi diperlukan untuk memperkenalkan product/service (baru), eksistensi terhadap brand, dan tentunya diperlukan dalam strategi menghadapi competitor.

    BR



    BalasHapus

Membuat Link Pada Komentar Anda
Agar pembaca bisa langsung klik link address, ketik:
<a href="link address">keyword </a>
Contoh:
Info terkini klik <a href="www.manajementelekomunikasi.org"> disini. </a>
Hasilnya:
Info terkini klik disini.

Menambahkan Gambar Pada Komentar
Anda bisa menambahkan gambar pada komentar, dengan menggunakan NCode berikut:

[ i m ] URL gambar [ / i m ]

Gambar disarankan memiliki lebar tidak lebih dari 500 pixels, agar tidak melebihi kolom komentar.

---

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger