Sabtu, 30 April 2011

Wireless Broadband Tebar Janji Semu, Wireline Broadband di Indonesia Tumbuh Terlalu Lambat


Baru baru ini ZTE sebagai vendor telekomunikasi memaparkan survey pengguna jaringan broadband wireline atau internet pita lebar berbasiskan jaringan kabel di beberbagai Negara Asia.  Menurutnya penetrasi pelanggan broadband wireline di Indonesia masih kurang dari 8% dari jumlah populasi penduduk Indonesia.

 Akan tetapi Indonesia tidak sendirian di Asia, masih ada Cina sebagai Negara maju yang ternyata hanya 6% pengguna broadband wireline dari total penduduk di Cina.

ZTE menganggap pangsa pasar broadband di Asia Pasifik diperkirakan 60 – 70 % sesuai dengan besarnya populasi penduduk di Negara-negara Asia Pasifik.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan sebuah lembaga riset bisnis dan konsultan terkemuka di dunia, mencatat tingkat penetrasi broadband di Indonesia merupakan yang terendah di Asia Tenggara. Mereka memprediksi penetrasi broadband di Indonesia hingga tahun depan masih rendah dengan kenaikan hanya 3% sampai 5% Bagaimana penetrasi pelanggan broadband di Indonesia ?

Lalu bagaimana dengan penetrasi pelanggan broadband secara keseluruhan ? Merujuk data yang dipaparkan oleh vendor ZTE dan Frost & Sullivan Indonesia, bisa jadi penetrasi pelanggan Broadband tidak sampai  8% dari populasi Indonesia. Bahkan hasil dari lembaga riset di Korea menunjukkan jumlah pelanggan broadband di Indonesia hanya 1.3 %. Wow, sangat mengejutkan untuk Negara Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

Belum diketahui operator mana yang saat ini memiliki jumlah pelanggan terbanyak untuk broadband. Tapi berdasarkan klaim dari beberapa operator maka bisa dipastikan TELKOMSEL dengan produk FLASH sebagai leader untuk bisnis broadband dengan total 4 juta pelanggan di awal tahun 2011. Sedangkan TELKOM dengan produk SPEEDY nya mampu membuntuti dengan jumlah 1.7 juta pelanggan.


2010
2011
IM2
755.6 K
543.2 K
TSEL
1.4M
4M
AHA
0
75K
Smart
300ribu
450ribu
Jumlah pelanggan Broadband Wireless
 

2010
2011
Speedy
1.2M
1.7M
First Media
300K
500K
Jumlah pelanggan Broadband Wireline

Penetrasi Rendah
Ternyata penetrasi pelanggan di masing-masing operator masih sangat rendah bila dibandingkan dengan pelanggan telepon selular. Sebagai acauan saja untuk penetrasi pelanggan selular di Indonesia sudah mencapai 62 %.
 
Terkait Tarif
Senior Consultant Information & Communication Technologies Frost & Sullivan Indonesia, Iwan Rachmat menambahkan rendahnya pentrasi broadband masih terkendala harga yang tinggi. Menurut Iwan penetapan harga untuk 2MBPS di Indonesia merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan harga yang diterapkan di pasar negara-negara lain.

Sebagai perbandingan, harga paket 2 MBPS di Indonesia harganya mencapai US$ 87,03 per bulan dengan rata-rata menawarkan diskon 5 persen. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia harganya hanya US$ 51,64 per bulan dengan bundling modem gratis.Sementara itu harga paket 2 MBPS di Filipina hanya US$ 43,27 per bulan dengan tawaran gratis preview IP TV dan dengan diskon panggilan telepon internasional. Paling murah di Thailand dengan harga US$ 21,32 per bulan ditambah potongan harga 2-5 persen."Dengan distribusi fiber yang lebih luas dan meningkatnya kompetisi, harga tinggi yang ditawarkan melalui paket-paket yang tersedia diperkirakan akan mengalami penurunan di masa mendatang," Iwan menyimpulkan.

Terkait Kecepatan
Dari sisi kecepatan yang dijanjikan oleh operator broadband 3.5 G dengan teknologi HSDPA mencapi 3.6 Mbps. Demikian dengan teknologi EVDO rev.0 yang katanya mampu mencapai kecepatan downlink 3.1 Mbps. Tapi apakah benar demikian ? 

Nyatanya tidak, di Indonesia yang memiliki banyaknya operator broadband baik GSM maupun CDMA banyak yang mengkampanyekan mampu mengusung 3G – 3.5G dengan layanan seperti video call, video on demand dan lain-lain tapi hanya memberikan kecepatan setara GPRS yaitu 56 – 114 kbps.  Jadi bisa dibilang untuk kecepatan yang ada tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Terkait kebutuhan?
Bagaimana dengan kebutuhan internet di Indonesia ? apakah berarti dengan penetrasi yang kecil berarti penduduk disini memang belum memerlukan internet broadband. Dari  data pelanggan-pengguna Internet versi APJII. Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia itu mencatat pengguna-pelanggan Internet tahun 2005 sebesar 16 juta 2006 (20 juta), 2007 (25 juta), 2008 (27 juta), dan 2009 (30 juta). Berarti jumlah pelanggan internet yang menggunakan broadband hanya sekitar 10 % saja dari pengguna internet.

Berdasarkan riset presentasi yang dibawakan oleh Regional Director Effective Measure untuk Asia Tenggara, Russell Conrad, pada acara panel diskusi Effective Measure – PPPI, di Jakarta, Jumat 1 April 2011.

Dari hasil riset teranyarnya, Effective Measure, firma yang memiliki spesialisasi dalam pengukuran statistik web, sebanyak 61,88 persen dari pengguna Internet Indonesia mengakses melalui ponsel. Sementara 38,12 persen lainnya mengakses Internet bukan dari ponsel.
Mengacu pada data Effective Measure, pengguna Internet Indonesia tahun 2011 yang mencapai 39.100.000 atau tingkat penetrasi Internet sebesar 17 persen. Berarti pengguna Internet mobile Indonesia mencapai 24.195.080 orang.

Di Asia Tenggara, pengguna mobile web Indonesia ini adalah yang terbesar. Negara-negara lainnya, seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia, semua pengguna Internetnya mayoritas mengakses melalui perangkat bukan ponsel.

Potensi broadband Wireline
Saat ini memang masih lebih banyak peminat pelanggan broadband wireless dibandingkan broadband wireline. Tapi melihat penetrasi penduduk Negara lain yang lebih memilih broadband wireline, bisa jadi penetrasi di Negara ini juga akan mengikutinya. Hal ini bisa disebabkan karena layanan yang diberikan oleh jaringan broadband wireless masih sangat jauh dari harapan seperti kecepatan akses, ketersediaan jaringan yang tidak merata bahkan masih banyaknya blankspot untuk beberapa area tertentu.

Wireline sendiri masih menjadi primadona untuk penggunaan Hot Spot –Hot Spot kecil diberbagai tempat seperti SOHO (Small Office Home Office) sebagai backbone dari Fixed Wireless Access. Kekuatan utama dari wireline adalah kestablilan jaringan yang tidak dipengaruhi oleh noise frekuensi. Kebutuhan akan akses data yang cepat dan stabil memang hanya bisa didapat melalui pipa koneksi yang stabil dan dedicated. Dan itu belum bisa dipenuhi secara maksmal oleh koneksi wireless yang tersedia meskipun sudah memasuki era 3G, 3.5G bahkan bersiap ke 4G.

Kebutuhan akan penggunaan internet oleh penduduk Indonesia memang besar, hanya saja masih dibawah kouta Negara lain. Apalagi pengguna internet di Indonesia masih lebih banyak menggunakan ponsel dari pada menggunakan perangkat lain. Selain karena praktis dan efisien dari sisi biaya, pemanfaatannya pun masih jauh dari harapan.

Lalu, manakah yang ada akan menjadi pemenangnya ? Tentunya tidak lepas dari pelayan yang diberikan oleh masing-masing operator atau mungkin juga karakter dan sifat penduduk Indonesia.


Penulis,
Bima Indra Gunawan, S.T., M.T.
bimaindra@gmail.com




Artikel Terkait

1 komentar:

  1. informasi yang sangat berharga pak Bima b(^_^)d

    BalasHapus

Membuat Link Pada Komentar Anda
Agar pembaca bisa langsung klik link address, ketik:
<a href="link address">keyword </a>
Contoh:
Info terkini klik <a href="www.manajementelekomunikasi.org"> disini. </a>
Hasilnya:
Info terkini klik disini.

Menambahkan Gambar Pada Komentar
Anda bisa menambahkan gambar pada komentar, dengan menggunakan NCode berikut:

[ i m ] URL gambar [ / i m ]

Gambar disarankan memiliki lebar tidak lebih dari 500 pixels, agar tidak melebihi kolom komentar.

---

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger