Showing posts sorted by relevance for query model bisnis. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query model bisnis. Sort by date Show all posts

Tuesday, September 10, 2013

Studi Kasus 8: MODEL BISNIS

Seri Kapita Selekta

oleh: Djamhari Sirat dan Fajardhani

Mengapa mempelajari model bisnis? Dengannya kita dapat menemukan informasi berharga sejak jauh hari sebelum suatu kejadian benar-benar terjadi. Cukup banyak waktu untuk mengantisipasi suatu kerugian atau memaksimalkan sebuah peluang. Intinya adalah membangun keunggulan.


PEMBUKA

Ada yang janggal jika kita jeli memperhatikan pergerakan harga saham perusahaan operator telekomunikasi (lihat artikel Halo-Halo Bandung).

Di era informasi ini tidak ada industri atau perusahaan yang tidak memanfaatkan layanan operator telekomunikasi untuk kegiatan usahanya. Tetapi ada paradoks disitu. Industri yang memanfaatkan layanan tumbuh dengan baik sementara industri telekomunikasi kinerjanya justru tertinggal jauh.

Apa yang sebenarnya terjadi? Pasti akan ada banyak jawaban yang muncul.

Namun pada topik kapita selekta kali ini kita hanya tertarik pada kemungkinan terjadinya perubahan model bisnis.

Fenomera turunnya pendapatan dan profitabilitas mungkin telah terjadi pada industri lain saat industri telekomunikasi melakukan transformasi bisnis melalui perkembangan teknologi dan deregulasi industri. Dengan kasat mata kita bisa melihat layanan dan operasi di perbankan dan retail telah jauh berubah.

Kini perubahan itu “memukul balik” industri telekomunikasi bersamaan dengan munculnya era konvergensi. Mungkin saja M&A (merger and acquisition) tidak saja terjadi di tingkat perusahaan tetapi terjadi di tingkat industri. Ini berarti lanscape akan berubah drastis.

Model bisnis diharapkan dapat menguak informasi penting yang diperlukan.

Untuk itu kita perlu sebuah tool atau metode sebagai alat bantu. Alat bantu yang dipilih adalah seperti yang dijelaskan dalam buku Business Model Generation. Tentu ada banyak pertimbangan yang telah dilakukan sebelum memutuskannya.

PENDEKATAN

Kita akan mempelajari perubahan model bisnis sejumlah industri atau perusahaan-perusahaan yang menjadi pemimpin di industri tertentu. Sejalan dengan itu, kita juga akan memetakan perubahan model bisnis di industri telekomunikasi dari waktu ke waktu.

TUJUAN, RUANG LINGKUP DAN BATASAN

Tujuannya adalah dalam lingkup akademik, membuat perkiraan model bisnis operator telekomunikasi di masa depan dengan ruang lingkup membangun pemahaman berbagai model bisnis terkait dan jenis layanan terkait tetapi tidak membentuk model bisnis yang lengkap dan siap untuk diimplementasikan.

TAHAPAN

Pertama, mengenal dan memahami model serta trend bisnis mainstream, teknologi, layanan, biaya, regulasi, dan lingkup usaha sektor telekomunikasi termasuk melakukan verifikasi kepada para nara sumber. Kedua, membangun rancangan operasi operator untuk jenis layanan, trend persaingan, harga, lingkup dan fokus usaha.

MANFAAT YANG DIHARAPKAN

Tema kuliah kapita selekta 2013 adalah “the future of telecommunication operators”. Tema ini dipicu oleh adanya “krisis” atau potensi krisis pada operasi berjalan saat ini dimana pertumbuhan usaha sudah semakin menurun. Atau dapat dikatakan bahwa pasar tidak bereaksi seperti apa yang diperkirakan oleh para operator.

Dari sini diharapkan kita dapat menemukan arah perubahan yang lebih jelas berdasarkan sejumalah kajian akademik.

SEKILAS TENTANG TOOL

Bermula dengan mengenal tool utama yaitu KANVAS yang diikuti dengan POLA, DESAIN, dan STRATEGI secara visual.

source: www.businessmodelgeneration.com
Know the customers [CS], value creation [VP] kepada customers, channel atau jalur untuk menyampaikan value [CH], customer relationships untuk membangun dan mempertahankan customer [CR], revenue stream [R$], key resources untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan VP, CH, CR, dan R$ kita [KR], key activities untuk mengetahui aktivitas utama yang diperlukan VP, CH, CR, dan R$ oleh KR kita [KA], key partnerships untuk mengetahui mitra utama [KP], dan cost structure untuk mengetahui biaya terpenting, sumberdaya paling mahal, aktivitas-aktivitas kunci paling penting yang ada dalam model bisnis [C$].

Selain itu perlu memperhatikan kinerja keuangan para pemain utama di dalam model bisnis melalui laporan keuangan.

Sumber: Business Model Generation, Osterwalder & Pigneur, Gramedia, 2012
+++

Mari kita diskusikan lebih lanjut dan membangun kanvas masing-masing.
Model bisnis operator selular di awal pertumbuhannya
Model bisnis operator fixed line sebelum deregulasi industri telekomunikasi
Model bisnis operator fixed line setelah deregulasi industri telekomunikasi hingga saat ini
Model bisnis operator selular plus layanan data saat ini
Model bisnis regulator sebelum deregulasi
Model bisnis regulator paska deregulasi hingga saat ini

Monday, December 10, 2012

GALAU


Di Tengah Perubahan MODEL BISNIS

oleh: Dewi Asri TP (2012)

Dalam era data/internet, para operator domain telekomunikasi selular tentu saja mulai memfokuskan bisnis dan layanannya pada data, yang semula hanya sebagai salah satu value added service (VAS) hingga kemudian menjadi bagian core business para operator. Sayangnya pada era data ini, sepertinya operator harus berbagi “kue” revenue dengan “banyak pemain lain” di luar domain telekomunikasi. Kemungkinan nilai yang didapatkan tidak akan sebesar saat era voice dan SMS masih mendominasi layanan telekomunikasi. Tetapi pertumbuhan pendapatan terus tertekan.

Hal ini sepertinya menimbulkan dampak kepada para insan telekomunikasi baik langsung maupun tidak langsung.

Mengapa ketika voice dan SMS mendominasi, revenue operator relatif besar? Karena pada era tersebut operator telekomunikasi mendapatkan revenue dari dua hal utama yaitu jaringan dan layanan (services). Hal ini karena operator bertindak sebagai penyedia jaringan dan penyedia layanan sekaligus.

Namun di era data, peran operator telekomunikasi tersebut tidak lagi bersifat “monopoli” walau masih mendominasi. Memang melalui jaringan, operator juga menyediakan layanan data namun baru sebatas koneksi ke dunia internet saja dan biasa disebut sebagai dumb pipe. Layanan data yang sesungguhnya masih disediakan dan menjadi peran utama para pemain aplikasi atau OTT (over the top).

Dalam era trend konvergensi antara dunia telekomunikasi, IT/internet dan broadcasting seperti sekarang ini, bisnis yang mendominasi adalah bisnis longtail atau aplikasi dengan model bisnis bersifat open/opensource, berbasis komunitas dan hampir tidak berbayar atau freemium.

Open/opensource adalah bahwa source code atau algoritma aplikasi tidak proprietary dan terbuka untuk umum. Sedangkan berbasis komunitas adalah sebagai akibat dari opensource, dimana karena sifat yang terbuka menjadi pemicu terbentuknya komunitas-komunitas yang akhirnya mengembangkan dan kemudian menggunakan aplikasi tersebut secara massal. Dan yang terakhir adalah gratis atau freemium, dimana para pengguna dapat menggunakan aplikasi tersebut tanpa harus membayar atau hanya akan membayar jika ingin menggunakan aplikasi tersebut pada tingkat manfaat yang lebih tinggi. Ketiga sifat dalam trend bisnis model ini telah dibuktikan dan berhasil dilakukan oleh para raksasa di dunia IT & internet yang ada saat ini seperti Linux, Google, Facebook, Twitter, YouTube hingga Android.

Google Business Model (sumber: www.businessmodelgeneration.com)
Sebenarnya model bisnis yang diterapkan oleh para raksasa di dunia internet ini bukanlah hal yang baru. Model bisnis ini bisa dianalogikan dengan model bisnis broadcasting televisi atau radio yang tidak berbayar. Model bisnis ini tak lekang oleh masa dan tetap bisa survive meski tidak memungut bayaran sepeser pun kepada pelanggan.

Kenapa?

Karena sumber pendapatan utama perusahaan broadcasting tidak berbayar (free to air - FTA) bukanlah dari para pelanggan namun dari pihak ketiga seperti iklan. Pelanggan sebagai komunitas massal dijadikan modal oleh perusahaan broadcasting sebagai ladang bagi perusahaan barang dan jasa yang ingin mengiklankan produknya secara massif. Dan ketika pelanggan ingin mendapatkan layanan siaran yang lebih variatif dan tanpa iklan maka pelanggan dapat memilih broadcasting berbayar yang merupakan bentuk freemium dari bisnis broadcasting.

Model bisnis para raksasa internet dan contoh dari dunia broadcasting tampaknya bisa menjadi solusi bagi kegalauan bisnis di dunia telekomunikasi saat ini. Didasari bahwa komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang sampai kapanpun akan selalu ada dan berbekal komunitas pelanggan yang sangat besar yang telah dimiliki, para operator telekomunikasi dapat  mulai bertransformasi menuju model bisnis baru yang berorientasi pada layanan longtail atau aplikasi dan bersifat open, community-based dan free atau freemium.

Operator telekomunikasi perlu mulai fokus mengembangkan sisi aplikasi yang bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti membangun in-house software sendiri atau memfasilitasi kompetisi pembuatan aplikasi baru atau dimulai dari bekerjasama dengan aplikasi global yang sudah ada untuk memberikan nilai tambah bagi aplikasi tersebut jika diakses menggunakan jaringan operator tersebut. Aplikasi-aplikasi yang dibangun juga perlu dicermati agar sesuai dengan kebutuhan para pelanggan dan forecast terhadap trend global yang akan terjadi.

Selanjutnya adalah aplikasi atau layanan yang ditawarkan oleh operator telekomunikasi lebih fokus pada komunitas pelanggan yang ingin disasar. Ketika suatu layanan atau aplikasi sudah menjadi bagian dari komunitas maka layanan atau aplikasi tersebut akan terus digunakan dan menjadi bagian tidak terpisahkan. Melalui komunitas juga keberlanjutan suatu layanan atau aplikasi dapat terjaga dan berlangsung lebih lama. Selain dalam konteks pengguna atau pelanggan, komunitas juga perlu dibentuk dalam konteks pengembangan layanan dan aplikasi seperti kerjasama dengan developer, insititusi pendidikan dan lembaga riset lainnya.

Dan yang terakhir adalah sifat free atau freemium.

Untuk melakukan hal ini operator telekomunikasi harus mampu melakukan segmentasi dan profiling seluruh pelanggannya dan membangun korelasi antara profil pelanggan dan kebutuhannya. Profiling dan korelasi memang cukup rumit dan bukan pekerjaan yang mudah karena hingga sekarang belum ada operator telekomunikasi yang benar-benar sukses melakukannya. Namun hal ini bukan sesuatu yang mustahil karena sudah berhasil dilakukan oleh para raksasa internet seperti Google dan Facebook yang memiliki jumlah pengguna yang sangat besar hingga mencapai angka 1 milyar pengguna dan berhasil menempatkan iklan atau promosi yang sesuai dengan segmen, profil dan kebutuhan para penggunanya.

Lebih lanjut, untuk aplikasi dan layanan yang lebih advanced atau dengan kualitas yang lebih baik dan terjamin serta bebas dari iklan, operator telekomunikasi dapat menawarkan layanan dan aplikasi yang berbayar (premium). Diharapkan dengan melakukan beberapa hal tersebut, operator dapat mentransformasi model bisnis-nya sehingga dapat tetap survive di era data  dengan pertumbuhan revenue yang sama tinggi seperti pada masa voice dan SMS.

Sekian.
++

PEMIKIRAN ANGKATAN BERIKUTNYA (MT-2013)

oleh: Enov Tikupasang dan kawan-kawan

Model bisnis telekomunikasi harus berubah. 
Implementasi jaringan packet switching oleh operator telekomunikasi ternyata membawa dampak yang sangat serius dan seperti tidak pernah terfikirkan sebelumnya. 
Penurunan pendapatan terjadi di saat traffic meningkat. 
Hal ini sulit dimengerti jika kita berpijak pada konsep jaringan circuit switching dan bisnis model konvensioal.
Akibatnya EBITDA operator terus tertekan tetapi operator tetap melakukan investasi baru secara besar-besaran.
Keberlanjutan usaha operator telekomunikasi menjadi isu sentral di tengah perubahan ini.
Secara teori, apa saja yang mungkin terjadi jika ini tidak diantisipasi dengan baik sejak sekarang?

BAHAN DISKUSI 2014

  1. Apa yang sebenarnya terjadi? Dalam hal ini mengapa PS bisa merubah model bisnis konvensional CS ? 
  2. Apakah gejala ini hanya terjadi di Indonesia atau di seluruh dunia? 
  3. Mengapa situasi ini tidak terbaca sebelumnya? 
  4. Sejauh apa model bisnis operator harus berubah? Apa dampaknya bagi karyawan? Siapa saja yang diuntungkan? Bagaimana mengetahui bisnis model yang dipilih sudah benar? 
  5. Apa betul penggunaan biofuel dapat menurunkan efek rumah kaca dan menurunkan biaya energi? Jika harus menulis ulang Peraturan Presiden di atas, hal apa saja yang harus diperhatikan?
++

Monday, November 4, 2013

Studi Kasus #14: Model Bisnis RETAIL dan Layanan TELEKOMUNIKASI

 Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 5
Zulfadli, Lia Astari, Rinaldy Resinanda

“Every man lives by exchanging” – Adam Smith
Perdagangan atau jual beli merupakan aktivitas sehari – hari manusia. 

Seperti quote yang dinyatakan oleh Adam Smith tersebut, mengandung arti bahwa perdagangan merupakan aktivitas dasar kehidupan manusia. 

Membahas dan mengikuti perkembangannya merupakan hal yang selalu menarik untuk diikuti! Khususnya dari perkembangan layanan telekomunikasi.


Retail sebagai Bagian Channel Distribusi

Retailing merupakan tahapan terakhir dalam suatu channel distribusi, sebagai bagian dari proses transfer kepemilikan barang atau jasa dari produsen kepada konsumen.

Channel Distribusi Barang
Retail berasal dari bahasa Inggris yang berarti eceran. Secara lebih luas diartikan menjual barang eceran kepada masyarakat. 

Definisi retail berdasarkan para pakar adalah:
  1. Retailing is a set of business activities that adds value to the products and services sold to consumers for their personal or family use (Levy, Weitz, 2001)
  2. Retailing consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for their personal, family, or household use (Berman, Evans, 2001) 
  3. Bisnis retail meliputi seluruh aktivitas yang melibatkan penjualan barang dan jasa langsung pada konsumen (Usman Thoyib, 1998) 
  4. Ritel atau eceran (retailing) adalah semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis (Utami, 2006)
Dalam suatu channel distribusi, retailing memainkan suatu peranan penting sebagai penengah antara para produsen, agen dan para konsumen akhir.
Retailer mengumpulkan berbagai jenis barang dan jasa dari berbagai sumber dan menawarkannya kepada konsumen. Retailing tidak harus melibatkan suatu toko. Mail order atau telepon order, penjualan langsung ke konsumen di rumah-rumah dan kantor, mesin-mesin penjaja termasuk dalam scope retailing.
Bisnis Retail merupakan salah satu bisnis yang tumbuh cukup baik di seluruh dunia terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jumlah penduduk yang cukup banyak menunjang perputaran uang yang tinggi terutama untuk kebutuhan konsumsi. 

Dalam perkembangannya, bisnis retail melakukan perluasan jangkauan dari skala kota menuju propinsi, nasional, regional dan pada akhirnya global.

Digital Retailer

Traditional retailer beradaptasi dalam digital environment. 

Digital retailer dapat memberikan beberapa keuntungan bagi retail, dimana physical retail memiliki keterbatasan pada space. Dengan digital retailer, infrastruktur bangunan, perawatan bangunan, staf yang mengurusi store dapat dieliminasi. 
Digital retail dapat memungkinkan melakukan transaksi selama 24 jam setiap harinya. Namun digital retail juga membawa efek lain, yaitu dibutuhkan strategi pricing yang dinamis, di mana dengan sistem online kompetisi merupakan ‘single click away’.

Model Bisnis Retail

Berikut adalah contoh model bisnis dari usaha peritel di Indonesia:


Model bisnis retail memiliki pola long tail dan freemium.

o Pola Bisnis Model Long Tail
Pola bisnis model long tail memiliki karakteristik menawarkan produk / layanan dalam variasi jumlah yang sangat banyak. 
Katalog produk dengan jumlah yang banyak ini dimungkinkan dengan adanya online store yang memudahkan customer untuk mengakses dan meng-update daftar produk dan harga.
o Pola Bisnis Model Freemium
Model bisnis freemium bercirikan penawaran produk yang merupakan kombinasi produk gratis / low price dan berbayar.

Peran ICT dalam Model Bisnis Retail

Kemajuan sektor ICT turut membantu perkembangan bisnis retail, sehingga bisnis retail saat ini dapat dikatakan memiliki ketergantungan kepada teknologi informasi dan telekomunikasi yang tinggi terutama pada supply chain management (logistic, inventory, pembelian, pendistribusian) dan perluasan channel untuk keperluan marketing, serta untuk menambah layanan customer relationship.
Karakter bisnis retail yang berambisi menjangkau sebanyak mungkin konsumen telah membuat peranan e-business menjadi semakin penting. Evolusi skenario kompetisi pada sektor retail ini menjadikan ICT sebagai faktor penentu kemenangan dalam kompetisi. 

ICT telah berperan setidaknya dalam dua hal yaitu:
  • peningkatan laba, dan 
  • efisiensi terhadap keseluruhan proses internal.

Area utama yang membutuhkan bantuan ICT ada pada:
  1. supply chain configurations 
  2. manajemen operasi toko/merchant, 
  3. perbaikan business processes
  4. interaksi dengan pelanggan. 
Framework dari sistem retail yang telah menggunakan ICT dapat dideskripsikan sebagai berikut:



Peranan ICT pada masing-masing stream adalah sebagai berikut:
  1. Upstream supply chain --> e-procurement 
  2. In-house supply chain --> internal ICT systems 
  3. Downstream supply chain --> e-retailing, e-marketing, e-commerce website

Dengan semakin pentingnya peranan ICT terhadap kemajuan sektor retail, terlihat pula kecenderungan perusahaan-perusahaan retail untuk meningkatkan anggaran pemeliharaan dan investasi pada sektor ICT seperti terlihat pada hasil survei di bawah ini. 


Survey dilaksanakan ada tahun 2007 di tujuh negara utama Uni Eropa.

Secara khusus, aktivitas yang mendapatkan dampak positif cukup besar dari penerapan ICT adalah :
  1. logistik 
  2. administrasi dan akuntansi
  3. manajemen dan pengawasan
  4. marketing 
  5. pelayanan pelanggan. 

Peran ICT Pada Peritel Indonesia (Alfamart)

Di Indonesia, peranan ICT terhadap pertumbuhan usaha sektor retail dapat kita amati pada berbagai perusahaan, salah satunya adalah Alfamart. 
Di Alfamart, sistem Teknologi Informasi Komunikasi berfungsi sebagai enabler dalam bisnis perusahaan, baik dalam kegiatan organisasi maupun operasional gerai di berbagai lokasi.
Sistem ICT juga semakin penting dalam menunjang ekspansi Bisnis Value Added Services yang gencar dikembangkan oleh perusahaan, termasuk memfasilitasi layanan pembayaran dan pembelian online, serta Top- Up kartu Prabayar dan pulsa elektronik di kasir gerai Alfamart.

Pada tahun 2012, Alfamart telah melakukan soft launching untuk bisnis Online Shopping untuk area Tangerang dan sekitarnya, mencakup pelayanan pesan dan antar, dalam memenuhi kebutuhan konsumen untuk transaksi belanja kebutuhan sehari-hari dengan menembus batas ruang dan waktu.

Apa yang dapat kita pelajari ?

Mempelajari dan mendiskusikan model bisnis retail lebih lanjut merupakan hal yang menarik mengingat bisnis ini memiliki kemajuan pesat terutama di era e-commerce saat ini. 
Bagaimana Amazon dan Rakuten dapat mencapai kesuksesannya ?
Bagaimana pola bisnis modelnya yang membedakan dengan yang lain ?
Apa yang dapat dipelajari oleh operator telekomunikasi dari bisnis model retail ini?
Sumber:
  1. Alexander Osterwalder & Yves Pigneur. Business Model Generation. PT Elex Media Komputindo. 2013.
  2. ICT and e-Business Impact in the Retail Industry, The European e-Business Market Watch, Study report No. 04/2008
  3. Journal : A case study of retail industry of ICT innovation services - a Happy Life Supermarket, Business and Information 2013 (Bali, July 7-9)
  4. ICT & e-Business in the Retail Sector, The European e-Business Market Watch, Sector Report No.12 II/July 2003
  5. Sumber Alfaria Trijaya, Laporan Tahunan 2012.
  6. http://www.bimbingan.org/perusahaan-retail-adalah.htm
  7. http://www.digitalbusinessmodelguru.com/
  8. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl521/prosedur-mendirikan-toko-ritel-tradisional-dan-ritel-modern
++

Wednesday, December 21, 2016

What is the truth here?

What is the truth here?

oleh: Andreas Pramana Edward, Dwi Laksmana, Mohamad Ilman Hasya, Kharisma Muhammad, Ria Soraya

Sebagian dari kita masih terheran-heran.  

Apa yang sedang terjadi dengan operator telekomunikasi  Indonesia khususnya. Saat traffic naik seharusnya bisnis tumbuh. Itu benar karena saat ini traffic suara dan SMS turun. Bisnis menurun. 

Tetapi bukankah payload data meningkat drastis antara lain berkat keberadaan OTT?

Apa yang sebenarnya terjadi?

TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari studi kasus ini adalah sebagai sarana belajar bagi mahasiswa untuk membangun awareness di bidang telekomunikasi dengan memperhatikan dan mengikuti perkembangan yang terjadi untuk kemudian menarik pengetahuan yang berharga dari artikel dan diskusi yang terjadi.

SITUATION

Tiga perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL
bertindak sebagai operator penyedia jaringan dan layanan telekomunikasi, trend jumlah pelanggannya secara umum mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.  
Gambar 1. Jumlah Pelanggan Operator Indonesia 2006 - 2015
(sumber: laporan keuangan tahunan)
Di sisi lain, trend perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi khususnya jaringan internet di dunia turut mendorong pergeseran pola komunikasi masyarakat tidak terkecuali di Indonesia.


Gambar 2. Mobile Data Traffic
(sumber: laporan keuangan tahunan operator Indonesia)


Tren perkembangan ini telah mendorong perubahan gaya hidup masyarakat untuk selalu terhubung dengan informasi dan jaringan telekomunikasi kapanpun dan dimanapun melalui jaringan seluler (mobile). 
Saat ini, tiap orang tidak hanya mengandalkan layanan suara (voice) dan SMS untuk dapat berkomunikasi, tetapi penggunaan media sosial yang dibangun oleh OTT jauh lebih dominan dan diandalkan karena kemudahan dan harga layanannya yang lebih murah.
Hal yang menggembirakan bahwa ini menyebabkan trafik data pada jaringan seluler terus meningkat.
Akan berdasarkan laporan tahunan dari operator menyebutkan bahwa pendapatan layanan data hanya menyumbang 20-30% dari total pendapatan operator per tahun. 
Sedangkan layanan voice masih menjadi penyumbang revenue terbesar yaitu sebesar 30-50%.
Artinya kehilangan pendapatan operator dari layanan legacy belum bisa ditutupi oleh pendapatan dari layanan data.

Gambar 3. Proporsi Pendapatan XL Axiata Pada  2014 dan 2015
(sumber: laporan keuangan tahunan operator)

Bandingkan dengan Telkomsel.

Gambar 4. Proporsi Pendapatan TELKOMSEL
(sumber: laporan keuangan tahunan operator)

PROBLEM

Peningkatan jumlah pelanggan serta beban trafik data pada jaringan seluler ternyata tidak mendorong pertumbuhan finansial ketiga perusahaan telekomunikasi tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, ketiganya terus mengalami penurunan nilai ARPU.

Gambar 6. Nilai ARPU Tiga Operator Indonesia
(sumber: laporan keuangan tahunan operator)
Sementara itu, operator-operator telekomunikasi seluler masih menjalankan kewajiban  menggelar jaringan telekomunikasi.
Selain untuk menarik pelanggan yang lebih banyak dan  mengisi kebutuhan pasar terhadap layanan data yang diperlukan.
Gambar 7. Perluasan Jaringan Operator Indonesia 2005 - 2015
(sumber: laporan keuangan operator)
Kondisi ini tidaklah ideal bagi para operator.
Dalam usaha ini mereka membutuhkan tambahan modal dan juga menyebabkan kenaikan biaya operasional.
Tetapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan yang memadai.
Pada waktu tertentu krisis mungkin saja terjadi dan hal ini tentu tidak kita inginkan karena akan merugikan semua pemangku kepentingan.

PEMBAHASAN

Kita mencoba membahasnya dari sisi model bisnis.

Model bisnis adalah suatu tata cara bagaimana perusahaan memperoleh pendapatan (revenue) dan menghasilkan keuntungan dari pengoperasian perusahaan.
Suatu model bisnis merupakan penggambaran dasar pemikiran tentang bagaimana perilaku suatu organisasi dalam menciptakan, memberikan, dan menangkap value proposition yang diciptakan.
Model bisnis dapat berubah akibat dari adanya pergeseran kekuatan dari faktor-faktor internal yang selama ini dimiliki mengantisipasi perubahan yang disebabkan faktor-faktor eksternal.
Hal ini akan berakibat pada penurunan kinerja apabila kekuatan internal tidak dapat lagi mengantisipasi perubahan dari eksternal tersebut.
Model bisnis juga merupakan suatu metode manajerial yang setara dengan metode ilmiah,
dimulai dengan hipotesis, yang kemudian hipotesis tersebut diuji dalam tindakan lalu direvisi jika diperlukan. 
Ketika sebuah model bisnis baru mampu mengubah kondisi ekonomi suatu industri maka model tersebut dapat dengan sendirinya menciptakan keunggulan kompetitif yang kuat bagi pemiliknya.
Semakin sulit untuk ditiru tentu semakin lama perusahaan tersebut bertahan dengan keunggulan kompetitifnya,  
Pergeseran tren komunikasi masyarakat ke layanan data cukup merepotkan para operator,
karena teknologi yang digunakan untuk menyediakan layanan tersebut merupakan teknologi 3G/4G yang berbasis Internet Protocol (IP) yang sangat berbeda jauh dengan teknologi yang digunakan untuk layanan suara (voice) dan SMS (2G).
Teknologi yang berbeda yang membutuhkan model bisnis yang berbeda pula. 
Penggunaan teknologi yang berbeda ini masing-masing tetap bertujuan untuk mendatangkan keuntungan ekonomi bagi operator,
hanya saja dengan value proposition yang berbeda.

HIPOTESIS

Model bisnis yang saat ini diterapkan oleh operator-operator penyedia jaringan dan layanan telekomunikasi di Indonesia sudah tidak sesuai untuk dijalankan.
Value proposition yang ditawarkan tidak lagi mampu meningkatkan revenue perusahaan antara lain karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi dan gaya berkomunikasi masyarakat Indonesia sekarang ini.
Faktanya, kenaikan mobile traffic data yang signifikan tidak dapat mengangkat nilai ARPU
Bisnis model di era layanan voice dan SMS tidak cocok lagi diterapkan pada era digital.

QUESTION

  1. Apakah strategi pemasaran (marketing) & operasional yang telah dijalankan oleh operator telekomunikasi di Indonesia sehingga berdampak pada penurunan ARPU yang begitu cepat?
  2. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh operator dan para pemangku kepentingan telekomunikasi di Indonesia agar kondisi ini tidak terus berlanjut?
  3. Apakah dengan konversi perusahaan dari penyedia jaringan dan layanan menjadi digital company dapat membantu? Apa potensi kendalanya?
  4. Bagaimana model bisnis operator telekomunikasi di negara-negara maju dalam menghadapi situasi ini? Bisnis model apa yang mereka terapkan? 
  5. Apa dampak yang harus dihadapi saat perusahaan memutuskan untuk mengganti model bisnis mereka?  
Mari kita diskusikan...
++

Wednesday, September 26, 2012

Studi Kasus #1: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 Mengenai Telekomunikasi


Lahirnya Undang-Undang (UU) No. 36 Tahun  1999 tentang Telekomunikasi sebagai pengganti UU No. 3 Tahun  1989 bukannya tanpa alasan. Mencuatnya  pandangan bahwa regulasi yang ada saat  itu  dinilai  sudah  tidak  memadai  lagi merupakan  titik  awal dilakukannya  peninjauan kembali terhadap UU No. 3 Tahun 1989, dimana salah satu hasil utamanya adalah dihapuskannya  sistem  penyelenggaraan  telekomunikasi yang bersifat  monopolistik. Namun lahirnya  UU  No.  36 Tahun  1999 pun  tidak  membuat   masalah  di  sektor  telekomunikasi berhenti. Saat ini terdapat banyak indikasi akan perlunya UU tersebut untuk  direvisi. Perbandingan yang dapat diketahui secara ringkas terkait kedua UU tentang telekomunikasi tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :


Sumber : UU Telekomunikasi No.3 Tahun 1989 dan UU No.36 Tahun 1999

Laporan ini berusaha menginventarisasi  faktor-faktor yang mendorong  lahirnya UU No. 36 Tahun  1999, membuat  analisa kebijakan pada UU No. 36 Tahun 1999 terkait dengan model bisnis baru serta memberikan  saran yang relevan terkait dengan perubahan  tersebut.
Permasalahan yang Ingin Dijawab
Laporan  Akhir  ini  mencoba  menjawab  beberapa  permasalahan  mengenai  perubahan   UU Telekomunikasi, yaitu:
1.  Mencari fakta pemicu lahirnya UU No. 36 Tahun 1999;
2. Melakukan analisis untuk menilai keterbatasan UU No. 36 Tahun 1999 saat ini sesuai dengan tema ICT Outlook  2012; dan
3. Menyusun kesimpulan dan saran yang dapat diterapkan


Dasar Teori

Laporan ini menggunakan model analisis kebijakan Weimer-Vining dengan kerangka berikut.


Model Analisis Kebijakan Weimer-Vining

Analisa

Pemicu Lahirnya UU No. 36 Tahun 1999
Menurut beberapa sumber, faktor yang memicu lahirnya UU No. Tahun 1999 adalah:
1.  Perubahan teknologi;
2. Krisis Ekonomi, Sosial dan Politik; serta
3. Dominasi pemerintah dalam penyelenggaraan telekomunikasi dan proyek Nusantara21;
4. Perubahan nilai layanan telekomunikasi dari barang publik menjadi komoditas;
5. Teledensity  rendah;
6. Masuknya modal asing di sektor telekomunikasi;
7. Keterbatasan penyelenggara pada era monopoli dalam hal pembangunan  infrastruktur;
8. Pergeseran  paradigma  perekonomian dunia,  dari  masyarakat  industri  menjadi  masyarakat informasi;
9. Praktik  bisnis yang tidak sehat di sektor telekomunikasi; dan
10.Kurangnya sumber daya manusia di sektor telekomunikasi.

Keterbatasan UU No. 36 Tahun 1999 saat  ini
Untuk mengidentifikasi  permasalahan,  Weimer-Vining  menawarkan  penggunaan  pohon keputusan  dengan model berikut:


“Pohon Keputusan” Analisis UU No. 36 Tahun 1999 Saat Ini


Dalam kasus yang menjadi tema utama ICT  Outlook  2012, beberapa variable diperlukan  dalam menggunakan  model  “pohon  keputusan”  tersebut antara  lain ARPU  operator   dan  revenue OTT  dan  teledensitas [1] , perkembangan  teknologi [2] serta regulasi. Ketiga  variabel  tersebut apabila diimplementasikan ke dalam “pohon keputusan” akan menghasilkan skema berikut
Hasil dari penggunaan “pohon keputusan”  diketahui  bahwa terjadi market failure dan goverment failure  di mana  saran  yang  sesuai adalah menemukan kebijakan yang unggul dan membandingkan cost dari implementasi  kebijakan tersebut terhadap market failure. Indikasi dari market failure terlihat dari ARPU  operator  yang kian  menurun.  Hal  ini berbanding  terbalik dengan  peningkatan  teledensitas dan revenue  bisnis OTT  yang terus terjadi. Sementara  itu, pemerintah juga turut  serta memberikan  warna terhadap fenomena  market failure. Government failure yang terjadi disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi  perkembangan teknologi.
Perkembangan teknologi, seperti  teknologi IMS, dapat  merubah  model bisnis telekomunikasi secara  keseluruhan.   Sebagai  contoh,   sebuah  pelang gan  dapat  membeli  atau  menyewa infrastruktur  dari  sebuah  penyelenggara  dan  berlangganan  sebuah  atau  beberapa  layanan kepada penyelenggara lainnya. Hal ini tentunya dapat menyebabkan  model bisnis yang tadinya berupa  intergrasi  vertikal, dimana  penyelenggara menguasai bisnis dari hulu ke hilir, berubah menjadi  integrasi  horisontal  untuk mereduksi  CAPEX  dan  TCO   serta mengoptimalisasi OPEX  sehing ga penyeleng gara  dapat  bersaing  dalam  sistem  kompetisi  penuh.  Selain disebabkan  oleh market failure, kegagalan regulasi dalam mengadopsi  perubahan  model bisnis juga  menjadi  sebab  utama  dalam  perma salahan  ini.  UU  No.  36  Tahun   1999  ga gal mendefinisikan dengan jelas batasan dan jenis jasa telekomunikasi sehingga banyak bisnis OTT yang menjamur dengan menumpang “secara gratis” kepada pelenggara jaringan telekomunikasi.



Kesimpulan

Dalam  laporan  awal ini disampaikan  sebuah  kesimpulan,  yaitu terjadi perulangan  fenomena antara  yang terjadi  di  jaman  UU  No.  3  Tahun  1989  dan  UU  No.  36 Tahun  1999  yaitu ketidakmampuan regulasi dalam mengadopsi  perkembangan teknologi dan pergeseran  model bisnis telekomunikasi.

Saran

Dalam laporan awal ini disampaikan beberapa saran, yaitu:
1.  Diperlukannya  sebuah  regulasi baru  yang dapat  mengadopsi  model  bisnis  baru  di sektor telekomunikasi yang memisahkan  antara  layer layanan dan  infrastruktur sehingga sebuah penyelenggara  dapat  mereduksi  TCO  serta  bersaing  dan bersimbiosis  mutualisme  dengan jenis penyelenggara layanan baru; dan
2. Diperlukannya  sebuah model interaksi  dalam regulasi untuk  mengatur  mekanisme  interaksi antar  penyelenggara telekomunikasi, baik itu penyelenggara layanan maupun  infrastruktur. Sehingga terdapat mekanisme bisnis yang sehat antar penyelenggara telekomunikasi.

Penulis,

Kelompok 7

Referensi :

1 Data ARPU bersumber dari http://mtel.mercubuana.ac.id/wp-content/uploads/2010/09/paper04.pdf
2 Perkembangan teknologi yang dimaksud adalah perkembangan teknologi yang berkaitan dengan konvergensi
TIK, antara lain adalah teknologi IMS (IP Multimedia Subsystem) yang bersumber dari http://www.rennes.enst-bretagne.fr/~gbertran/files/IMS_an_overview.pdf)

Monday, November 4, 2013

Studi Kasus #13: Model Bisnis VENDOR Telekomunikasi

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 2
Ayu Nova, Dewi Asri Tiara Putri, Putu Eka Suarjaya

Kemajuan industri telekomunikasi Indonesia tidak terlepas dari peran vendor telekomunikasi. 

Berbicara industri telekomunikasi tidak bisa terlepas dari peranan vendor telekomunikasi yang mengisi kebutuhan perangkat bagi operator telekomunikasi.

Vendor telekomunikasi umumnya menyediakan solusi bagi operator dalam hal infrastruktur baik untuk komunikasi tetap maupun bergerak.

Pendahuluan

Teknologi telekomunikasi selalu mengalami perkembangan yang semakin canggih dari tahun ke tahun. Perkembangan ini menciptakan adanya tren yang ikut berubah pada industri telekomunikasi global. Tren yang ada tidak hanya berkaitan dengan pengadopsian infrastruktur telekomunikasi terbaru tetapi juga berkaitan dengan gaya pemakaian perangkatnya di masyarakat.
Kemajuan industri telekomunikasi tidak terlepas dari peran vendor telekomunikasi. 
Diantaranya adalah Ericsson yang telah memasok perangkat jaringan seluler (NMT) pada tahun 1987 dan merupakan pelopor dalam menyediakan jaringan bergerak digital (GSM 900) di tahun 1995 diikuti teknologi 3G sampai pada teknologi terbaru seperti LTE yang walaupun sampai saat ini masih dalam tahap ujicoba.

Beberapa vendor penyedia perangkat telekomunikasi diantaranya Ericsson, Nokia Siemens Network, Huawei, Samsung, ZTE, NEC dan Alcatel-Lucent. Saat ini Ericsson dan Huawei merupakan pemasok terbesar untuk kebutuhan perangkat telekomunikasi di Indonesia ataupun global. 

Di Indonesia sendiri Ericsson dan Huawei bekerja sama dengan tiga besar operator seluler Indonesia seperti Telkomsel, XL Axiata dan Indosat. Vendor tersebut mensuplai perangkat kepada operator dengan pembagian area tertentu. 
Di tengah persaingan yang ketat antar vendor dan kondisi industri telekomunikasi dunia ataupun Indonesia yang mulai mengalami titik jenuh dengan ditandai oleh pertumbuhan kinerja keuangan yang mulai menurun.
Namun beberapa vendor seperti Ericsson dalam satu tahun terakhir menunjukkan kinerja yang relatif stabil bahkan cenderung meningkat. 
Hal tersebut bisa dilihat dari kinerja saham Ericsson dibandingkan dengan 3 operator Indonesia seperti gambar di bawah. 


Pergerakan Harga Saham (1 tahun terakhir)
Ericsson dan Operator Telekomunikasi Terkemuka di Indonesia

Bisnis Model Vendor Telekomunikasi (Ericsson)

Posisi Ericsson yang tetap bisa bertahan di dalam persaingan bisnis, walaupun mendapat tantangan dan tekanan berat dari vendor Cina.
Hal ini bisa jadi karena perusahaan ini telah menerapkan model bisnis yang sesuai. 
Berikut Model Bisnis Kanvas Ericsson sebagai penyedia hardware ataupun software bagi industri telekomunikasi dunia. 


Model Bisnis Kanvas Ericsson
Berdasarkan model bisnis di atas terlihat bahwa salah satu revenue stream dari Ericsson adalah License atau ijin penggunaan hak patent baik kepada kompetitor ataupun kepada manufaktur perangkat yang merupakan customer segmentnya. 

Ada kemungkinan memang revenue dari sisi paten ini ikut mengangkat kinerja keuangan perusahaan.

Penutup

Sebagai penutup ada satu hal menarik yang bisa dipikirkan.
Apakah penurunan kinerja keuangan operator seluler Indonesia ini erat kaitannya dengan investasi secara besar-besaran dalam infrastruktur terutama untuk pemenuhan trafik data yang tidak sebanding dengan revenue yang didapatkan yang justru hal ini merupakan revenue dari sisi vendor?  
Ataukah memang model bisnis yang diterapkan oleh operator sudah tidak sesuai? 
Atau mungkin operator dan vendor bisa berkolaborasi dalam menciptakan model bisnis baru yang tentunya menguntungkan kedua belah pihak.

+++


Tuesday, November 12, 2013

Studi Kasus #15: Model Bisnis MEDIA PUBLIK dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 1
Mustain, RintoHariwijaya, Fauzan Baskoro


Media publik yang dikenal adalah koran, majalah, radio, dan televisi. 

Industri ini dalam kesulitan yang besar saat ini. Produksi menurun seiring penurunan pendapatan dan meningkatnya biaya-biaya. Faktor-faktor eksternal mengubah industri ini.  

Sejumlah operator telekomunikasi saat ini juga mengalami gejala yang sama.

Berhasilkah media publik mensiasati situasi ini?

Pengantar

Media massa cetak merupakan alat komunikasi satu arah yang diterbitkan di Eropa pada abad ke-17 dan berkembang sejak alat cetak pertama ditemukan yang mengantikan hand-writing news sheet.

Di Indonesia sendiri, surat kabar berkembang dan mempunyai peranannya sendiri di tengah masyarakat hingga sekarang. Pertumbuhan media massa cetak sangat pesat sebelum datangnya era digital. Kebutuhan manusia akan informasi menjadi salah satu pendorong media cetak berjaya dengan margin laba yang menarik. Sumber utama pendapatan media umumnya berasal dari iklan dan pelanggan.

Namun sejak era digital, ditandai dengan tumbuhnya layanan jaringan internet, media cetak konvensional ini mulai ditinggalkan penggunanya.Masyarakat bukan meninggalkan informasi, namun beralih ke teknologi yang menyajikan informasi dengan cara yang lebih praktis, cepat, up-to-date, dan dua arah.

Berdasarkan informasi dari American Newspaper Association, revenue media cetak terus terjun dari awal tahun 2000-an.

(sumber: Newspaper Association in Amerika - September 2012)

Model Bisnis Media Massa Konvensional (Cetak)

Model bisnis yang ditampilkan di sini berupa model bisnis media massa cetak konvensional.

Model Bisnis Media Massa Cetak Konvensional
Dalam kanvas model bisnis tersebut dapat terlihat bahwa VP yang ditawarkan berupa berita dengan CS masyarakat umum atau lokal suatu daerah dan iklan untuk CS perusahaan atau institusi atau juga perseorangan.

VP dan CS ini menghasilkan pendapatan dari jumlah eksemplar yang terjual ditambah dengan jumlah iklan yang dimuat dalam surat kabar tersebut. 

Aktivitas utama (KA) dan sumberdaya kunci (KR) menghasilkan beberapa jenis biaya sebagai berikut :
  • Biaya untuk jurnalis, editor dan kontributor 
  • Biaya pokok percetakan yang berupa biaya kertas dengan rumus total kertas yang terpakai : (jumlah lembar kertas x panjang x lebar x berat gr/m2) / 10.000 dan juga biaya tinta dengan rumus pemakaian tinta : (A x O x D x V x P x I) / 10.000 = … gram tinta. 
  • Biaya gudang (gaji karyawan bagian gudang, pemeliharaan dan perbaikan gudang) 
  • Biaya penerbitan 
  • Biaya ekspedisi / pengiriman (biaya pengepakan, pengiriman, karyawan bagian expedisi, biaya tidak langsung.
Sedangkan untuk KP terdiri dari :perusahaan periklanan, para kontributor, perusahaan percetakan dan operator telekomunikasi (menggunakan layanan telekomunikasi terutama untuk mendukung kegiatan jurnalistik, pengiriman berita, dan proses percetakan ke beberapa kantor cabang).

Mengapa Media Cetak Kolaps?

Sepanjang tahun 2011, The New York Times (NYT) perusahaan koran tertua di Amerika mengalami penurunan pendapatan luar biasa dari iklan dan dinyatakan kolaps pada akhir 2011. Hal ini menjadi pukulan besar bagi seluruh pengusaha media cetak di seluruh dunia.

NYT akhirnya melego 16 suratkabar daerah miliknya kepada Halifax Media Holdings senilai USD 143 juta. 

Selama 9 bulan pertama 2011, pendapatan perusahaan koran tersebut turun sebanyak 7 persen dan mengalami kesulitan untuk mengendalikan biaya untuk mempertahankan tingkat keuntungan.

Kinerja Keuangan NYT
Penyebab utama kolapsnya media cetak tersebut adalah mahalnya biaya cetak dan biaya untuk mendapatkan informasi (news).

Koran adalah bisnis. Dengan asumsi biaya cetak Rp. 1000 per eksemplar. Ini berarti perusahaan suratkabar membutuhkan 100 juta untukmemproduksi 100.000 eksemplar. Untuk bisa terbit selama satu bulan penuh, maka dibutuhkan modal kira-kira 3 milyar rupiah.

Penyebab lainnya adalah media online.

Sistem yang mengedepankan teknologi internet ini lebih efisien, murah dan efektif dibandingkan dengan media cetak konvensional. Faktor kecepatan dan keakurasian menjadi andalan dari pemberitaan yang berbasiskan pada media online interaktif yang melibatkan publik sebagai sumber berita (citizen journalism) sekaligus pengguna berita.

Disamping itu media online juga lebih ramah lingkungan. (sumber: Kompasiana). Pasalnya media online tidak membutuhkan kertas, yang berasal dari pohon-pohon hutan.

Dan berikut ini kinerja keuangan The Washington Post berdasarkan laporan tahun 2012 :

Ilustrasi Kinerja Keuangan The Washiongton Post 2012

Bahan Diskusi

Berdasarkan fenomena tersebut, muncul sejumlah pertanyaan :
  1. Apakah kejatuhan media cetak konvensional ini benar-benar karena kehadiran media online? 
  2. Seberapa hebat sistem online yang nota bene berdiri di atas jaringan telekomunikasi bisa menjatuhkan sistem konvensional yang sudah beratus tahun eksis? 
  3. Apakah industri telekomunikasi diuntungkan dengan jatuhnya industri media dan tumbuhnya media onlune ini? Jika tidak, apa yang salah?
  4. Sejumlah media konvensional telah mengembangkan media online untuk menyesuaikan diri tetapi ini juga tidak mendorong pertumbuhan pendapatan mereka. Mengapa?
Mari kitadiskusikan.

Sunday, September 29, 2013

Studi Kasus #10: PERBANKAN dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh : Kelompok 2
Ayu Nova, Dewi Asri Tiara Putri, Putu Eka Suarjaya

Perbankan merupakan sebuah industri jasa yang perlu untuk difahami fungsi dan keberadaannya mengingat peran pentingnya di dalam pembangunan. Saat ini semakin banyak bidang ilmu yang terlibat di industri perbankan ini termasuk diantaranya telekomunikasi dan informasi. Layanan keduanya telah lama dimanfaatkan oleh perbankan secara simbiose mutualisme. Namun ke depan situasinya mungkin bisa berubah. Favorable atau unfavorable. Bagaimana hal itu bisa terjadi?


sumber: http://prntscr.com/1tpr1i

Apa itu Bank? 

Semua orang mungkin sudah tahu apa itu bank dan bagaimana fungsi dari bank itu sendiri. Secara singkat yang kita ketahui tentang pengertian bank adalah ‘tempat menyimpan uang atau menabung dan tempat meminjam uang’. 

Menurut Undang–Undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk–bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Fungsi bank selain sebagai penghimpun dana masyarakat melalui simpanan juga sebagai penyalur dana kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit, pembelian surat–surat berharga, dan sebagainya. 

Bagaimana Canvas Model Bisnis Perbankan?

Lalu bagaimana posisi bank di masa sekarang ini? Bagaimana bisnis perbankan bergerak di era informasi yang berubah dengan sangat cepat ini? Mari kita lihat model bisnis perbankan berikut ini:
sumber: http://prntscr.com/1tpqtk (click to enlarge)

Coba perhatikan kotak Revenue Streams, Value Proposition, Customer Segments, Key Resources, dan Cost Structures. Padanya layanan telekomunikasi dan informasi memegang peran yang tidak sedikit.

Peran Teknologi Pada Inovasi dan Kreativitas Layanan Perbankan

Perkembangan teknologi saat ini mendorong inovasi dan kreativitas layanan di sektor perbankan. Ini membuat sektor perbankan dituntut untuk bisa reaktif terhadap perkembangan dan kondisi nasabah dengan tingkat mobilitas yang tinggi. 

Saat ini sektor perbankan ‘melirik’ layanan sektor telekomunikasi sebagai solusi efesiensi delivery layanan perbankan dengan jaringannya yang luas, akses yang mudah, dan harga yang relatif murah.

Sebagai contoh adalah layanan SMS banking, mobile banking, dan telephone banking . Hal ini didukung juga dengan semakin murah dan banyaknya perangkat handphone dan smartphone yang beredar di pasar. 

Apa yang menarik?

Hal yang menarik adalah bisnis perbankan mulai meninggalkan konsep lamanya dan menawarkan layanan dengan konsep baru yang lebih efisien. 

Diantara layanan perbankan yang belakangan banyak dibicarakan dalam kolaborasinya dengan layanan sektor industri telekomunikasi adalah “Branchless Banking” atau perbankan tanpa kantor cabang. Kita dapat membayangkan efisiensi yang terjadi. Lalu bagaiman perbankan melayani para konsumennya?

Secara umum ‘Branchless Banking’ merupakan kegiatan transaksi bank dengan kriteria sebagai berikut:
1. Tanpa melalui kantor cabang
2. Menggunakan agen yang bekerja sama dengan bank
3. Nasabah bisa melakukan transaksi sendiri atau melalui agen
4. Fitur transaksi yang lebih sederhana
5. Layanan yang lebih murah
6. Dapat ditunjukkan khususnya bagi masyarakat segmen bawah atau unbanked
Dari kriteria di atas dapat kita lihat bagaimana layanan perbankan memperluas segmen pelanggannya dengan merangkul masyarakat bawah melalui akses yang lebih mudah dan luas. Secara konsep ini dapat terjadi jika menggunakan layanan sektor telekomunikasi secara lebih intensif.

Dibandingkan transaksi dengan melalui layanan ATM (yang akan menjadi sangat mahal dan belum tentu ada di setiap desa) tentu akan lebih mudah jika dilakukan melalui ponsel. Apalagi sebagian masyarakat segmen bawah umumnya masih berada dalam kategori unbankable untuk layanan perbankan. Dengan harapan akses terhadap layanan perbankan yang lebih luas maka akan dapat meningkatkan perekonomian yang pada akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sejumlah Isu Hangat

Dari paparan di atas, dapat kita fahami kaitan antara perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berikut layanannya dengan perkembangan layanan bisnis perbankan. Walau dalam penerapannya nanti masih akan terbentur beberapa kendala serperti kendala regulasi, keamanan nasabah, dan edukasi nasabah mengenai layanan ini namun dengan tingkat persaingan yang tinggi diperkirakan bahwa ini hanyalah masalah waktu saja. 

Hal yang perlu diperhatikan bahwa penerapan sistem layanan perbankan dengan konsep yang baru ini sebaiknya menguntungkan kedua belah pihak yaitu pelaku bisnis perbankan dan pelaku bisnis telekomunikasi itu sendiri.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan teknologi komunikasi, maka akan terjadi perubahan dalam penyampaian layanan perbankan ke depannya. Apakah karakteristik jasa bank mengalami perubahan ketika dikembangkan layanan baru.

Benarkah dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, pelaku perbankan akan melakukan perubahan besar dalam pemilihan lokasinya. 

Mari kita diskusikan bersama lebih lanjut dampak terhadap sektor teknologi informasi dari perubahan konsep layanan perbankan di atas  untuk masa depan dan mendeteksi berbagai peluang maupun ancaman bagi sektor telekomunikasi terkait perubahan konsep layanan perbankan tersebut. 

Bagaimana pengaruh dari perubahan konsep layanan perbankan ini terhadap peningkatan kinerja keuangan operator seluler Indonesia?

Friday, November 16, 2012

MONETIZING TRANSFORM FROM MINUTES TO BYTES

Usulan Untuk Transformasi Data

oleh: Agoes Koesrijanto

Gambar 1. Global Mobile Device & Subscriber Penetration
Gambar 1, global mobile device dan subscriber penetration, terlihat bahwa mulai di tahun 2014 jumlah perangkat mobile akan menyamai jumlah penduduk dunia. Sementara itu dari Gambar 2, mobile data revenue dan traffic growth,  masih menunjukkan peningkatan sampai dengan tahun 2015.

Meskipun demikian nilai dari revenue mobile voice mulai mengalami ketiadaan pertumbuhan, tetapi untuk nilai revenue mobile data  masih mengalami kenaikan. Nilai dari revenue ini masih dapat diambil oleh operator telekomunikasi dengan semaksimal mungkin untuk meningkatkan keuntungan perusahaan.
Gambar 2. Global Mobile Voice & Data Revenue

Dari kondisi tersebut sebenarnya dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran pengukuran dari menit ke bit. Artinya operator telekomunikasi harus memonetize transformasi dari menit ke bit atau mendefinisikan ulang bisnis model yang sesuai untuk telekomunikasi.

Remodelling bisnis dari basis menit ke bit

Jika sebelumnya semua operator telekomunikasi harus melakukan segala upaya untuk mempertahankan pelanggan sebagai langkah pertama untuk dapat tetap bertahan di bisnis telekomunikasi yang semakin keras dan kompetitif. Saat ini prioritas utama tersebut di atas telah digantikan dengan urgensi untuk mengembangkan dan menjual layanan data baru yang dapat menciptakan sumber revenue baru. Keadaan ini adalah tantangan yang dihadapi oleh operator telekomunikasi di dunia. Hal ini karena perubahan value chain dalam telekomunikasi dan IT.

Operator yang sedang melakukan dalam proses pergeseran strategy legacy untuk mempertahankan pelanggan sering mengabaikan banyak hal, sehingga terjadi proses monetezing demand. Atau dengan kata lain proses mempertahankan pelanggan ini akan menjadikan menit dan bandwidth sebagai komoditas, atau dengan kata lain akan menurunkan value demand tersebut .

Akibat langsung dari proses komoditisasi ini antara lain free upgrade ke broadband, layanan data mobile flat rate atau diskon paket multi-play. Artinya dengan pertimbangan loyalty pelanggan akan menghambat proses penciptaan nilai/value dari bit.

Operator juga sangat gencar untuk meningkatkan nilai dari layanan baru sebagai reaksi dari peningkatan kebutuhan pelanggan. Peningkatan kebutuhan ini, akan membuat pelanggan tereksploitasi ke bisnis model baru, seperti layanan musik, data hosting, file transfer dll, baik yang di layani oleh pemain lain (internet), yang memberikan nilai revenue minimal bagi operator.

Dari beberapa contoh di atas banyak hal yang dilakukan operator yang belum menyiapkan strategi untuk meremodelling bisnis telekomunikasi dari basis menit  ke basis bit (shift business model from minutes to bytes)

Redefinisi Key Performance Indicator

       Operator telekomunikasi sangat membutuhkan informasi yang dapat merubah kebutuhan pelanggan menjadi suatu nilai ekonomi. Hal ini nantinya akan dipakai untuk meyakinkan ke investor dan stakeholder eksternal. Suatu cara baru untuk mengukur dan mengkomunikasikan kemajuan finansial melalui suatu seperangkat KPI (Key Performance Indicator) yang benar-benar baru sangat diperlukan karena adanya pergeseran bisnis telekomunikasi dari basis menit ke basis bit.

KPI pada saat mobile voice bertumbuh meliputi :
Network coverage, subscriber, penetration, customer market share, Minute of Usage (MoU), Average Revenue Per User (ARPU) dan perbandingan antara Pre &Post Paid. Terkadang juga ditambah Revenue per Minute (RPM), Revenue per Subscriber (RPS)

Gambar 3. Evolusi KPI dalam mobile data
Sementara itu untuk KPI kondisi Voice sudah mature dan mobile data growth adalah : Subscriber Acquisition/Retention Cost (SAC/SRC), Churn, Data share of Revenue, Mobile internet page hits, Revenue market share, 3G handset take-up, on-portal visitors and traffic.

Pada kondisi Mobile Data mature, maka KPI yang layak untuk dipergunakan adalah :Cost per bit  transmitted, 3G/4G network,  utilization, Data usage per  subscriber, M2M connections, Mobile payment users, Smartphone take-up, Application store revenue. KPI harus disesuaikan dengan waktu dan kondisi lingkungan operator telekomunikasi tersebut berada.

Transformasi ini membawa perubahan yang besar bagi Bisnis dan SDM. 
Kapan kita siap?

Referensi  :

  1. Global mobile device and subscriber penetration, OVUM UNFPA, 2008 Population Revision Database, Global Telecommunication 25 July 2011 (Gambar 1)
  2. Global mobile voice and data revenue , OVUM Mobile voice and Data forecast 2011-2016, January 2012 (Gambar 2)
  3. Transformasi Menuju Data oleh Hasnul Suhaemi, http://www.manajementelekomunikasi.org/2012/10/transformasi-menuju-data.html
  4. Operators, Ernst & Young Research (Gambar 3)



Tuesday, October 8, 2013

Studi Kasus # 11: MANUFAKTUR dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 3


Manufaktur merupakan salah satu industri yang pertama kali muncul di dunia. Manusia secara alami menghasilkan sebuah alat dengan menggunakan bahan mentah yang tersedia di alam. Industri ini lalu berkembang menjadi sangat maju. Di dalam perkembangannya industri manufaktur menyertakan layanan-layanan dari berbagai keilmuan, agar produksi dapat semakin efisien dan produk yang dihasilkan semakin baik. Salah satu keilmuan yang mendukung industri manufaktur adalah teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT). Saat kini layanan ICT sangat dibutuhkan di industri manufaktur.

Apa Itu Industri Manufaktur ?

Manufaktur adalah proses pengolahan sumber daya mentah menjadi sebuah produk yang memiliki manfaat dan nilai jual, dengan mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga kerja di dalam prosesnya.

Porter Generic Value Chain
Sehingga definisi dari industri manufaktur adalah industri yang bergerak di dalam bidang pengolahan barang mentah menjadi sebuah produk yang memiliki jual dengan memanfaatkan teknologi.

Secara umum manufaktur dapat didefinisikan sebagai 
suatu aktifitas kompleks yang melibatkan berbagai variasi sumberdaya dan aktifitas perancangan produk, pembelian, pemasaran, mesin dan perkakas, manufacturing, penjualan, perancangan proses, production control, pengiriman material, support service dan customer service.

ICT di  Industri Manufaktur

ICT (Information Communication Technology) tidak bisa lepas primary activities dan support activities dilihat dari Porter Generic Value Chain. 

Dengan sistem informasi yang terintegrasi sebagai bagian dari ICT, memungkinkan industri manufaktur melakukan efisiensi di seluruh kegiatan utama dari inbound logistic, operation, outbound logistic, marketing and sales, dan support. Demikian juga di sisi kegiatan-kegiatan pendukung.

Layanan telekomuniksi mendukung sistem produksi yang meliputi seluruh kegiatan yang terkait dari perencanaan dan pengendalian proses untuk memproduksi barang atau jasa melalui sistem informasi.

Dalam industri manufaktur sistem informasi antara lain mencakup perencanaan manufaktur, rencana produksi, rencana tenaga kerja, rencana kebutuhan baku dan sistem pengendalian manufaktur. ERP atau enterprise resource planning merupakan salh satu sistem informasi yang banyak digunakan di industri ini.

Manfaat

Manfaat digunakannya layanan telekomunikasi di dalam industri manufaktur antara lain adalah :

  1. Hasil produksi perusahaan lebih cepat dan tepat waktu karena sisttem jaringan komputer sebagai alat prosesnya.
  2. Perusahaan lebih cepat memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya.
  3. Arsip lebih terstruktur karena menggunakan sistem database.
  4. Sistem informasi manufaktur yang berupa fisik robotic, hasil produksi semakin cepat, tepat dan berkurangnya jumlah sisa bahan yang tidak terpakai.

Perkembangan perusahaan-perusahaan manufaktur saat ini juga menyebar di berbagai daerah. Sejumlah layanan dari perusahaan telekomunikasi dalam membantu mengintegrasikan dan menghubungkan Kantor Pusat dengan kantor cabang dan gudang yang tersebar di sejumlah daerah maupun para pemasok di berbgai lokasi dalam dan luar negeri.

Ada beberapa faktor yang harus dicakup sehingga proses integrasi dapat berjalan, yaitu :

  1. Cakupan produk dan jasa komunikasi data yang dibutuhkan
  2. Coverage wilayah.
  3. Performansi
  4. Biaya

Case Study : Nokia-China Internal Logistic Management

Sejak tahun 1985, Nokia membuka kantor pertama di China, Beijing sebagai fase early development.

Di pertengahan tahun 1990, Nokia mulai merealisasikan aktivitas manufacturing sehingga diharapkan secara bertahap Nokia-China berkembang menjadi production base untuk Nokia di seluruh dunia. Dalam perkembangannya, China tidak hanya menjadi sebagai pasar strategis bagi Nokia tetapi juga merupakan key production, R&D dan inovation base Nokia.

Nokia melanjutkan eksplorasi dan inovasi untuk mengkombinasikan mindset global dengan karakteristik China. Hanya berselang 12 tahun Nokia-China, Beijing dijadikan sebagai multinational corporation yang membawahi semua kantor di seluruh china, beberapa institusi R&D, production base dengan 12.000 staf.

Di dalam struktur fungsi internal Nokia-China mengikuti struktur HQ finlandia yang dapat direpresentatifkan sebagai berikut :



  • Unit Devices bertanggung jawab dalam hal mengembangkan device prototype sesuai dengan kebutuhan market.
  • Unit Services & Software merefleksikan strategi pengembangan dan pertumbuhan layanan yang ditawarkan ke customer.
  • Unit Market bertanggung jawab dalam hal manajemen supply chain, sales, channel serta aktifitas brand dan marketing.
  • Nokia Siemens Networks (sekarang Nokia Solution Network) adalah bagian sub-perusahaan yang fokus pada penyediaan dan pengembangan network infrastructure bagi operator telekomunikasi.

BISNIS MODEL

Bisnis model Nokia hingga akhir 2008 dapat direpresentatifkan sebagai berikut ini.

Model Bisnis NOKIA
Bagan di atas menunjukkan Bisnis model Nokia di tahun 2008 yang merupakan salah satu masa kejayaan Nokia. Pada tahun ini Nokia meluncurkan banyak ponsel-ponsel inovatif, sebagai sebuah langkah dalam mengantisipasi produsen-produsen ponsel berbasi Android dan iOS.

Seluruh produk ini merupaka jawaban Nokia atas segmen pasarnya.

Pada masa ini juga Nokia menyediakan layanan Nokia Music Store dan juga N-Gage Game Service sebagai penunjang layanan multimedia pada handset Nokia. Selain produk handset Nokia juga menyediakan perangkat dan infrastruktur Telekomunikasi melalui Nokia Siemens Network (NSN).

LOGISTIC INFORMATION SYSTEM

Nokia-China sebagai perusahaan yang pelanggannya ada di seluruh dunia, membangun banyak pabrik di beberapa wilayah China. Dibutuhkan sistem yang terintegrasi untuk mengatur logistic dan supply chain dengan tepat sasaran.

Nokia-China menerapkan konsep Logistic Information System berbasiskan ICT sesuai bagan berikut di bawah ini.
Konsep Logistic Information System
Bagi perusahaan, Logistic Information System memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Simplify Management Processes, meningkatkan efisiensi pertukaran informasi internal dan antar perusahaan
  2. Meningkatkan kecepatan operasi dalam perusahaan sehingga barang atau layanan sampai ke pelanggan dengan tepat waktu.
  3. Pengaturan resources utilization lebih optimal
  4. Sangat berguna untuk proses analisis informasi suppliers, customers dan partners dalam proses pengambilan keputusan.

Diagram Keterkaitan Pemanfaatan Logistic Information System

FLOW DIAGRAMS

Berikut flow diagram bagaimana pendistribusian barang yang diterapkan Nokia-China berikut pertukaran dokumen / informasi untuk operasi dalam negeri, tujuan ekspor, dan kepabeanan.

Operasi DalamNegeri

Kegiatan Ekspor

Operasi di Negara Tujuan

Penutup

Sebagai penutup ada satu hal menarik yang semestinya dipikirkan.

Bagaimana mengaitkan kinerja industri telekomunikasi dengan industri manufaktur sebagai pihak yang memanfaatkan layanan. Sebagai gambaran berikut ini kinerja harga saham perusahaan manufaktur otomotif dan operator telekomunikasi terkemuka Indonesia.

Pergerakan Harga Saham
Perusahaan Manufaktur Otomotif dan Operator Telekomunikasi Indonesia
Gambar di atas menunjukkan tren dan perbandingan kinerja saham Astra Autoparts yang mewakili industri manufaktur Indonesia, beserta 3 Operator Telekomunikasi raksasa Nasional.

Dari diagram di atas dapat dilihat ternyata Industri Manufaktur memiliki kinerja saham yang lebih baik dibandingkan operator-operator telekomunikasi Indonesia.

Melihat tren ini barangkali sudah waktunya bagi sektor telekomunikasi untuk memikirkan kembali model bisnisnya yang berjalan saat ini.

Sumber:
http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=5534
http://julianti.blog.binusian.org/2012/12/13/pemanfaatan-ict-pada-bidang-industri/

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger