Showing posts sorted by date for query model bisnis. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query model bisnis. Sort by relevance Show all posts

Wednesday, December 21, 2016

What is the truth here?

What is the truth here?

oleh: Andreas Pramana Edward, Dwi Laksmana, Mohamad Ilman Hasya, Kharisma Muhammad, Ria Soraya

Sebagian dari kita masih terheran-heran.  

Apa yang sedang terjadi dengan operator telekomunikasi  Indonesia khususnya. Saat traffic naik seharusnya bisnis tumbuh. Itu benar karena saat ini traffic suara dan SMS turun. Bisnis menurun. 

Tetapi bukankah payload data meningkat drastis antara lain berkat keberadaan OTT?

Apa yang sebenarnya terjadi?

TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari studi kasus ini adalah sebagai sarana belajar bagi mahasiswa untuk membangun awareness di bidang telekomunikasi dengan memperhatikan dan mengikuti perkembangan yang terjadi untuk kemudian menarik pengetahuan yang berharga dari artikel dan diskusi yang terjadi.

SITUATION

Tiga perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL
bertindak sebagai operator penyedia jaringan dan layanan telekomunikasi, trend jumlah pelanggannya secara umum mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.  
Gambar 1. Jumlah Pelanggan Operator Indonesia 2006 - 2015
(sumber: laporan keuangan tahunan)
Di sisi lain, trend perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi khususnya jaringan internet di dunia turut mendorong pergeseran pola komunikasi masyarakat tidak terkecuali di Indonesia.


Gambar 2. Mobile Data Traffic
(sumber: laporan keuangan tahunan operator Indonesia)


Tren perkembangan ini telah mendorong perubahan gaya hidup masyarakat untuk selalu terhubung dengan informasi dan jaringan telekomunikasi kapanpun dan dimanapun melalui jaringan seluler (mobile). 
Saat ini, tiap orang tidak hanya mengandalkan layanan suara (voice) dan SMS untuk dapat berkomunikasi, tetapi penggunaan media sosial yang dibangun oleh OTT jauh lebih dominan dan diandalkan karena kemudahan dan harga layanannya yang lebih murah.
Hal yang menggembirakan bahwa ini menyebabkan trafik data pada jaringan seluler terus meningkat.
Akan berdasarkan laporan tahunan dari operator menyebutkan bahwa pendapatan layanan data hanya menyumbang 20-30% dari total pendapatan operator per tahun. 
Sedangkan layanan voice masih menjadi penyumbang revenue terbesar yaitu sebesar 30-50%.
Artinya kehilangan pendapatan operator dari layanan legacy belum bisa ditutupi oleh pendapatan dari layanan data.

Gambar 3. Proporsi Pendapatan XL Axiata Pada  2014 dan 2015
(sumber: laporan keuangan tahunan operator)

Bandingkan dengan Telkomsel.

Gambar 4. Proporsi Pendapatan TELKOMSEL
(sumber: laporan keuangan tahunan operator)

PROBLEM

Peningkatan jumlah pelanggan serta beban trafik data pada jaringan seluler ternyata tidak mendorong pertumbuhan finansial ketiga perusahaan telekomunikasi tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir, ketiganya terus mengalami penurunan nilai ARPU.

Gambar 6. Nilai ARPU Tiga Operator Indonesia
(sumber: laporan keuangan tahunan operator)
Sementara itu, operator-operator telekomunikasi seluler masih menjalankan kewajiban  menggelar jaringan telekomunikasi.
Selain untuk menarik pelanggan yang lebih banyak dan  mengisi kebutuhan pasar terhadap layanan data yang diperlukan.
Gambar 7. Perluasan Jaringan Operator Indonesia 2005 - 2015
(sumber: laporan keuangan operator)
Kondisi ini tidaklah ideal bagi para operator.
Dalam usaha ini mereka membutuhkan tambahan modal dan juga menyebabkan kenaikan biaya operasional.
Tetapi tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan yang memadai.
Pada waktu tertentu krisis mungkin saja terjadi dan hal ini tentu tidak kita inginkan karena akan merugikan semua pemangku kepentingan.

PEMBAHASAN

Kita mencoba membahasnya dari sisi model bisnis.

Model bisnis adalah suatu tata cara bagaimana perusahaan memperoleh pendapatan (revenue) dan menghasilkan keuntungan dari pengoperasian perusahaan.
Suatu model bisnis merupakan penggambaran dasar pemikiran tentang bagaimana perilaku suatu organisasi dalam menciptakan, memberikan, dan menangkap value proposition yang diciptakan.
Model bisnis dapat berubah akibat dari adanya pergeseran kekuatan dari faktor-faktor internal yang selama ini dimiliki mengantisipasi perubahan yang disebabkan faktor-faktor eksternal.
Hal ini akan berakibat pada penurunan kinerja apabila kekuatan internal tidak dapat lagi mengantisipasi perubahan dari eksternal tersebut.
Model bisnis juga merupakan suatu metode manajerial yang setara dengan metode ilmiah,
dimulai dengan hipotesis, yang kemudian hipotesis tersebut diuji dalam tindakan lalu direvisi jika diperlukan. 
Ketika sebuah model bisnis baru mampu mengubah kondisi ekonomi suatu industri maka model tersebut dapat dengan sendirinya menciptakan keunggulan kompetitif yang kuat bagi pemiliknya.
Semakin sulit untuk ditiru tentu semakin lama perusahaan tersebut bertahan dengan keunggulan kompetitifnya,  
Pergeseran tren komunikasi masyarakat ke layanan data cukup merepotkan para operator,
karena teknologi yang digunakan untuk menyediakan layanan tersebut merupakan teknologi 3G/4G yang berbasis Internet Protocol (IP) yang sangat berbeda jauh dengan teknologi yang digunakan untuk layanan suara (voice) dan SMS (2G).
Teknologi yang berbeda yang membutuhkan model bisnis yang berbeda pula. 
Penggunaan teknologi yang berbeda ini masing-masing tetap bertujuan untuk mendatangkan keuntungan ekonomi bagi operator,
hanya saja dengan value proposition yang berbeda.

HIPOTESIS

Model bisnis yang saat ini diterapkan oleh operator-operator penyedia jaringan dan layanan telekomunikasi di Indonesia sudah tidak sesuai untuk dijalankan.
Value proposition yang ditawarkan tidak lagi mampu meningkatkan revenue perusahaan antara lain karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan teknologi dan gaya berkomunikasi masyarakat Indonesia sekarang ini.
Faktanya, kenaikan mobile traffic data yang signifikan tidak dapat mengangkat nilai ARPU
Bisnis model di era layanan voice dan SMS tidak cocok lagi diterapkan pada era digital.

QUESTION

  1. Apakah strategi pemasaran (marketing) & operasional yang telah dijalankan oleh operator telekomunikasi di Indonesia sehingga berdampak pada penurunan ARPU yang begitu cepat?
  2. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh operator dan para pemangku kepentingan telekomunikasi di Indonesia agar kondisi ini tidak terus berlanjut?
  3. Apakah dengan konversi perusahaan dari penyedia jaringan dan layanan menjadi digital company dapat membantu? Apa potensi kendalanya?
  4. Bagaimana model bisnis operator telekomunikasi di negara-negara maju dalam menghadapi situasi ini? Bisnis model apa yang mereka terapkan? 
  5. Apa dampak yang harus dihadapi saat perusahaan memutuskan untuk mengganti model bisnis mereka?  
Mari kita diskusikan...
++

Telco needs a new engine? Apa spesifikasinya??

Telco needs a new engine? Apa spesifikasinya??

oleh: Asril Irsadi (ME), Eliesa Sandra (ME), Indra Ardhanyudha (ME), Wahyu Raditya (MT)


Pertumbuhan yang tinggi (above the normal growth) di sektor telekomunikasi Indonesia terjadi dalam periode 1999 – 2015 ditunjang oleh mesin UU 36/1999 tentang Telekomunikasi.

Milyaran dolar dana asing masuk yang merubah rasio teledensitas dari 1:48 (berdasarkan Cetak Biru Kebijakan Pemerintah Tentang Telekomunikasi Indonesia No. KM 72 Tahun 1992) menjadi 1:1 untuk lebih dari 200 juta masyarakat Indonesia. 

Kini pertumbuhan usaha sudah rendah pada saat sektor ini kembali memerlukan investasi besar untuk Indonesia masuk ke era broadband.

Apakah UU 36/1999 masih berdaya?

TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari studi kasus ini adalah sebagai sarana belajar bagi mahasiswa untuk membangun awareness di bidang telekomunikasi dengan memperhatikan dan mengikuti perkembangan yang terjadi untuk kemudian menarik pengetahuan yang berharga dari artikel dan diskusi yang terjadi.

SITUATION

Undang – Undang (UU) No. 36 Tahun 1999 tentang telekomunikasi telah membuka pasar dan kesempatan yang besar bagi seluruh pelaku bisnis di bidang telekomunikasi untuk melakukan investasi secara besar – besaran di Indonesia.

Gambar 1. Pertumbuhan Pelanggan Sektor Telekomunikasi
(sumber: www.redwing-asia.com)
Layanan telekomunikasi yang semula berbasis teknologi fixed cable berubah ke arah tekonolgi mobile.
Gambar 2. Pertumbuhan Pelanggan Telekomunikasi Indonesia
(sumber: laporan keuangan operator)
 Di Indonesia hal ini ditandai dengan tingginya pertumbuhan pelanggan operator mobile dan rendahnya pertumbuhan pelanggan fixed cable sejak tahun 1999.

PROBLEM

Pertumbuhan positif di bisnis tidak selamanya terjadi.
Pasar telekomunikasi sudah memasuki masa saturasi sejak beberapa tahun belakangan ini.
Gambar 3. Pendapatan Operator Dari Layanan Voice dan SMS (legacy)
(sumber: laporan keuangan operator)

Industri telekomunikasi saat ini tidak hanya bertumpu pada layanan legacy semata. 
Gambar 4. Pendapatan Operator Dari Layanan Data
(sumber: laporan keuangan operator)

Layanan data mulai menggantikan posisi layanan legacy di sisi traffic.
Namun pertumbuhan pendapatan dari layanan data ini tidak diiringi dengan trend peningkatan di sisi EBITDA yang dibutuhkan oleh investor dan operator.


Gambar 5. EBITDA Margin Operator
(sumber: laporan keuangan operator)
Dapat disebutkan bahwa penurunan traffic dan pendapatan layanan legacy yang terjadi belum dapat dikompensasi oleh layanan data.


DISCUSSION

UU No. 36 Tahun 1999 telah membawa angin segar bagi para investor untuk menanamkan uangnya di sektor telekomunikasi Indonesia khususnya pada teknologi mobile.
Namun bisnis di sektor ini tidak selamanya bagus seperti yang terlihat dari fakta yang menunjukkan layanan legacy (voice dan SMS) yang mengalami saturasi akibat keberadaan layanan data yang ditawarkan sendiri oleh para operator.
Operator dan para pemangku kepentingan perlu berbenah untuk menghadapi situasi seperti ini.
Diantaranya adalah melakukan cost efficiency terhadap operasi yang berjalan untuk mempertahankan daya tarik investasi, melakukan investasi baru untuk penyesuaian teknologi, dan mengkaji ulang kesesuaian dari model bisnis yang sesuai dengan perubahan yang terjadi seperti ekonomi digital dan perilaku pelanggan.
Gambaran pada Gambar 5 di atas perlu diubah agar investasi besar dapat kembali masuk memuluskan implementasi program broadband Indonesia 2019 sebagai penunjang bagi ekonomi digital Indonesia.
EBITDA merupakan salah satu indikator penting pada industri ini.
Dalam situasi pasar yang sudah jenuh maka cost efficiency merupakan pilihan dan di antaranya adalah infrastructure sharing selain pos-pos lainnya yang tidak populer.
Namun pada tingkat pelaksanaannya ada sejumlah kendala baik di sisi bisnis dan aturan. 
Dari saat ini ke depan, gaya hidup (life style) setiap orang akan berubah yang dipicu oleh ketergantungan pada data.

Gambar 6. Semua Sektor Membutuhkan Layanan Data
Segala aktivitas manusia akan bergantung pada layanan data dan konvergensi antara layanan dan penyedia layanan menjadi isu penting.
Pada sisi layanan, konvergensi layanan akan menyatukan layanan telekomunikasi, penyiaran, dan internet menjadi satu.

Gambar 7. Konvergensi Pada Sisi Layanan
(sumber: http://www.manajementelekomunikasi.org/2012/11/studi-kasus-5-regulasi-konvergensi.html)

Ketiga layanan tersebut akan berbasis pada layanan data yang dengan sendirinya akan semakin menekan pendapatan (revenue) dari layanan legacy.
Namun pada tingkat operator dan perizinan, perbedaan antara broadcaster, operator seluler, fixed-line dan broadband provider masih belum jelas. Namun hal ini tidak bisa diselesaikan secara sektoral karena menyangkut pada sektor-sektor lain seperti perdagangan dan industri sebagai salah satu pengguna.

HIPOTESIS

Dengan melihat kondisi yang ada dan nilai strategis industri ini terhadap ekonomi digital Indonesia mungkin sudah saatnya sektor telekomunikasi ini dilengkapi dengan engine baru untuk memperkuat UU No 36. Tahun 1999 guna menunjang kinerja industri kembali seperti semula.

QUESTION

Dengan berbagai permasalahan tersebut, kemudian muncul beberapa pertanyaan:

  1. Apa kiat operator untuk dapat bertahan di tengah perubahan gaya hidup, perubahan teknologi, dan ketatnya persaingan telekomunikasi di bawah UU 36/1999?
  2. Jika infrastructure sharing tidak "direstui" maka pos-pos biaya apa saja yang mampu memberikan cost efficiency cukup besar bagi operator?
  3. Jika UU 36/1999 akan diperkuat atau disesuaikan maka poin – poin apa saja yang pentinng untuk dimasukkan?
  4. Bagaimana gambaran mengenai bisnis telekomunikasi Indonesia ke depan jika UU 36/1999 tetap diaplikasikan?
Mari kita diskusikan...
++

Artikel terkait:
1. Infrastructure sharing. Why?
2. Telecommunication at the crossroad?
3. Renewable energy. We know it but deny it.
4. What is the truth here?



Wednesday, November 19, 2014

WebRTC dan RCS

Era Baru Layanan Telekomunikasi

oleh: Adi Kurnia, Azarya Nimrod Juwono Siahaan, Erny A Sylwana, Renni Ekaputri (MT-2013)

Communication is moving to the web.

Apakah web real-time communication (WebRTC) merupakan ancaman baru yang serius bagi operator telekomunikasi? 

Atau apakah dan Rich Communications Services (RCS) keberadaannya justru yang akan mengancam kedigdayaan OTT saat ini?

Atau kedua itu adalah ancaman bagi keduanya sekaligus?

Mari kita coba temukan jawabannya. Dan membuat perkiraan pihak mana yang akan paling tertekan jika hal itu benar.

Tujuan Penulisan

Tujuan dari pennulisan ini adalah sebagai sarana belajar bagi mahasiswa dan membangun awareness terhadap perubahan lingkungan melalui teknologi untuk menarik pengetahuan yang berharga dari artikel dan diskusi yang terjadi.

Pendahuluan

Konsep jaringan CS (circuit switching) sangat berbeda dengan konsep yang dianut jaringan berbasis PS (packet switching). 
CS atau juga disebut dengan jaringan telepon menggunakan konsep closed system sementara PS menerapkan open system. 
Pada CS, layanan melekat pada jaringan sementara di PS layanan dipisahkan dari jaringan.
Di konsep PS ini siapa saja bisa membuat dan menawarkan layanan apa saja kepada siapa saja di atas jaringan yang digelar operator. 
Muncullah bermacam-macam layanan baru yang inovatif dan dikenal sebagai layanan OTT (over the top). 
Akibatnya kita mengakui produk layanan konvensional milik operator mengalami penurunan nilai di mata para penggunanya.

WebRTC dan RCS

Seiring dengan perkembangan teknologi, proses komunikasi dapat dilakukan melalui teknologi berbasis aplikasi (seperti Skype dan Vonage) dan yang terbaru sekarang dapat dilakukan via web. 
Setiap device dapat melakukan real time communication baik itu voice, video dan transfer data melalui web atau aplikasi mobile. Layanan tersebut dapat melakukan bypass terhadap layanan konvensional pada jaringan telepon.
WebRTC adalah sekumpulan standar dari World Wide Web Consortium (WC3) dan Internet Engineering Task Force (IETF) yang dimulai sejak awal 2011, dimana ia dapat melakukan real-time communication (RTC) dalam web antar browser seperti Chrome, Firefox, dan Opera yang telah mendukung fitur tersebut.
WebRTC memungkinkan user untuk membuat aplikasi dengan HTML5 dan Javascript dan setiap device yang terhubung melalui web (computers, tablets dan smart TV) dapat menjadi media komunikasi.

Temuan Fakta

Operator telekomunikasi yang selama bertahun lamanya masih mengandalkan layanan telephoni sebagai salah satu sumber pendapatan utama mau tak mau harus segera berbenah diri. 
Dengan adanya webRTC yang memiliki kemampuan real-time communication, operator telekomunikasi yang masih berpegang pada bisnis model seperti saat ini akan terancam. 
Revenue yang diperoleh dari service voice dan sms akan semakin tergantikan dengan sendirinya. 
Pelanggan tidak lagi menggunakan layanan mobile operator untuk menikmati existing services, akan tetapi hanya menjadikannya sebagai jalur untuk menikmati layanan berbasis mobile WebRTC. 
Namun, salah satu karakteristik penting dari WebRTC adalah kurangnya signaling layer yang terstandarisasi dimana hal ini diserahkan kepada pihak penyelenggara untuk mensolusikan hal ini. 
Disinilah RCS datang. 
RCS atau Rich Communication Suite sendiri awalnya lahir berdasarkan inisiatif atau konsorsium dari beberapa operator telekomunikasi dan vendor produk telekomunikasi pada Februari 2008 untuk membuat fitur-fitur atau layanan komunikasi yang lebih kaya (rich communication) yang dapat saling beroperasi antar provider (interoperability) dengan berbasis pada standar yang ada.
Dengan RCS, operator telekomunikasi dapat menawarkan berbagai layanan, termasuk layanan voice, video, transfer data, chatting dan lainnya yang terstandarisasi untuk menjamin keandalan dan kualitas dari layanan yang ditawarkan.
Sebelum ini komunikasi juga sudah dapat dilakukan melalui teknologi berbasis aplikasi (Skype & Vonage) dan yang terbaru sekarang komunikasi dapat dilakukan via web (tanpa download aplikasi terlebih dahulu).
WebRTC sudah didukung oleh berbagai peralatan akses. Setiap device dapat melakukan real time communication baik itu voice, video dan transfer data melalui web atau aplikasi mobile.
WebRTC Capable Device
source: Disruptive Analysis WebRTC Report Update (March 2014)

Berikut ini proyeksi pertumbuhan user pada tahun 2019.

Potential Web Users (ibid)

Opportunities: from Device Centric to Access Centric Solution

Source: trilogy-lte.com
Diagram di atas menunjukkan bahwa dari existing service milik operator, aplikasi OTT yang saat ini ada dan future webRTC, terdapat irisan mengenai opportunity bisnis yang dapat dikembangkan oleh setiap pihak.

  • Operator current service & webRTC: Kekuatan network operator dapat menjadi gateway
  • Operator current service & OTT Apps: Operator dapat mengembangkan aplikasi OTT sendiri agar untuk menghadapi OTT existing
  • Aplikasi OTT & webRTC: Operator dapat bekerjasama sebagai penyedia API dan Toolkit penghubung OTT dan WebRTC bagi developer
Kehadiran WebRTC dapat dianggap sebagai opportunity maupun ancaman bagi bisnis telephoni yang saat ini djalankan oleh operator telekomunikasi. 
Penting untuk digarisbawahi adalah operator telekomunikasi harus dapat menangkap potensi bisnis yang dapat diperoleh dengan hadirnya WebRTC. 
Ini dapat melalui perubahan model bisnis, menghadirkan aplikasi RCS untuk melengkapi WebRTC, ataupun solusi-solusi lainnya.



Tuesday, November 12, 2013

Studi Kasus #15: Model Bisnis MEDIA PUBLIK dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 1
Mustain, RintoHariwijaya, Fauzan Baskoro


Media publik yang dikenal adalah koran, majalah, radio, dan televisi. 

Industri ini dalam kesulitan yang besar saat ini. Produksi menurun seiring penurunan pendapatan dan meningkatnya biaya-biaya. Faktor-faktor eksternal mengubah industri ini.  

Sejumlah operator telekomunikasi saat ini juga mengalami gejala yang sama.

Berhasilkah media publik mensiasati situasi ini?

Pengantar

Media massa cetak merupakan alat komunikasi satu arah yang diterbitkan di Eropa pada abad ke-17 dan berkembang sejak alat cetak pertama ditemukan yang mengantikan hand-writing news sheet.

Di Indonesia sendiri, surat kabar berkembang dan mempunyai peranannya sendiri di tengah masyarakat hingga sekarang. Pertumbuhan media massa cetak sangat pesat sebelum datangnya era digital. Kebutuhan manusia akan informasi menjadi salah satu pendorong media cetak berjaya dengan margin laba yang menarik. Sumber utama pendapatan media umumnya berasal dari iklan dan pelanggan.

Namun sejak era digital, ditandai dengan tumbuhnya layanan jaringan internet, media cetak konvensional ini mulai ditinggalkan penggunanya.Masyarakat bukan meninggalkan informasi, namun beralih ke teknologi yang menyajikan informasi dengan cara yang lebih praktis, cepat, up-to-date, dan dua arah.

Berdasarkan informasi dari American Newspaper Association, revenue media cetak terus terjun dari awal tahun 2000-an.

(sumber: Newspaper Association in Amerika - September 2012)

Model Bisnis Media Massa Konvensional (Cetak)

Model bisnis yang ditampilkan di sini berupa model bisnis media massa cetak konvensional.

Model Bisnis Media Massa Cetak Konvensional
Dalam kanvas model bisnis tersebut dapat terlihat bahwa VP yang ditawarkan berupa berita dengan CS masyarakat umum atau lokal suatu daerah dan iklan untuk CS perusahaan atau institusi atau juga perseorangan.

VP dan CS ini menghasilkan pendapatan dari jumlah eksemplar yang terjual ditambah dengan jumlah iklan yang dimuat dalam surat kabar tersebut. 

Aktivitas utama (KA) dan sumberdaya kunci (KR) menghasilkan beberapa jenis biaya sebagai berikut :
  • Biaya untuk jurnalis, editor dan kontributor 
  • Biaya pokok percetakan yang berupa biaya kertas dengan rumus total kertas yang terpakai : (jumlah lembar kertas x panjang x lebar x berat gr/m2) / 10.000 dan juga biaya tinta dengan rumus pemakaian tinta : (A x O x D x V x P x I) / 10.000 = … gram tinta. 
  • Biaya gudang (gaji karyawan bagian gudang, pemeliharaan dan perbaikan gudang) 
  • Biaya penerbitan 
  • Biaya ekspedisi / pengiriman (biaya pengepakan, pengiriman, karyawan bagian expedisi, biaya tidak langsung.
Sedangkan untuk KP terdiri dari :perusahaan periklanan, para kontributor, perusahaan percetakan dan operator telekomunikasi (menggunakan layanan telekomunikasi terutama untuk mendukung kegiatan jurnalistik, pengiriman berita, dan proses percetakan ke beberapa kantor cabang).

Mengapa Media Cetak Kolaps?

Sepanjang tahun 2011, The New York Times (NYT) perusahaan koran tertua di Amerika mengalami penurunan pendapatan luar biasa dari iklan dan dinyatakan kolaps pada akhir 2011. Hal ini menjadi pukulan besar bagi seluruh pengusaha media cetak di seluruh dunia.

NYT akhirnya melego 16 suratkabar daerah miliknya kepada Halifax Media Holdings senilai USD 143 juta. 

Selama 9 bulan pertama 2011, pendapatan perusahaan koran tersebut turun sebanyak 7 persen dan mengalami kesulitan untuk mengendalikan biaya untuk mempertahankan tingkat keuntungan.

Kinerja Keuangan NYT
Penyebab utama kolapsnya media cetak tersebut adalah mahalnya biaya cetak dan biaya untuk mendapatkan informasi (news).

Koran adalah bisnis. Dengan asumsi biaya cetak Rp. 1000 per eksemplar. Ini berarti perusahaan suratkabar membutuhkan 100 juta untukmemproduksi 100.000 eksemplar. Untuk bisa terbit selama satu bulan penuh, maka dibutuhkan modal kira-kira 3 milyar rupiah.

Penyebab lainnya adalah media online.

Sistem yang mengedepankan teknologi internet ini lebih efisien, murah dan efektif dibandingkan dengan media cetak konvensional. Faktor kecepatan dan keakurasian menjadi andalan dari pemberitaan yang berbasiskan pada media online interaktif yang melibatkan publik sebagai sumber berita (citizen journalism) sekaligus pengguna berita.

Disamping itu media online juga lebih ramah lingkungan. (sumber: Kompasiana). Pasalnya media online tidak membutuhkan kertas, yang berasal dari pohon-pohon hutan.

Dan berikut ini kinerja keuangan The Washington Post berdasarkan laporan tahun 2012 :

Ilustrasi Kinerja Keuangan The Washiongton Post 2012

Bahan Diskusi

Berdasarkan fenomena tersebut, muncul sejumlah pertanyaan :
  1. Apakah kejatuhan media cetak konvensional ini benar-benar karena kehadiran media online? 
  2. Seberapa hebat sistem online yang nota bene berdiri di atas jaringan telekomunikasi bisa menjatuhkan sistem konvensional yang sudah beratus tahun eksis? 
  3. Apakah industri telekomunikasi diuntungkan dengan jatuhnya industri media dan tumbuhnya media onlune ini? Jika tidak, apa yang salah?
  4. Sejumlah media konvensional telah mengembangkan media online untuk menyesuaikan diri tetapi ini juga tidak mendorong pertumbuhan pendapatan mereka. Mengapa?
Mari kitadiskusikan.

Monday, November 4, 2013

Studi Kasus #14: Model Bisnis RETAIL dan Layanan TELEKOMUNIKASI

 Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 5
Zulfadli, Lia Astari, Rinaldy Resinanda

“Every man lives by exchanging” – Adam Smith
Perdagangan atau jual beli merupakan aktivitas sehari – hari manusia. 

Seperti quote yang dinyatakan oleh Adam Smith tersebut, mengandung arti bahwa perdagangan merupakan aktivitas dasar kehidupan manusia. 

Membahas dan mengikuti perkembangannya merupakan hal yang selalu menarik untuk diikuti! Khususnya dari perkembangan layanan telekomunikasi.


Retail sebagai Bagian Channel Distribusi

Retailing merupakan tahapan terakhir dalam suatu channel distribusi, sebagai bagian dari proses transfer kepemilikan barang atau jasa dari produsen kepada konsumen.

Channel Distribusi Barang
Retail berasal dari bahasa Inggris yang berarti eceran. Secara lebih luas diartikan menjual barang eceran kepada masyarakat. 

Definisi retail berdasarkan para pakar adalah:
  1. Retailing is a set of business activities that adds value to the products and services sold to consumers for their personal or family use (Levy, Weitz, 2001)
  2. Retailing consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for their personal, family, or household use (Berman, Evans, 2001) 
  3. Bisnis retail meliputi seluruh aktivitas yang melibatkan penjualan barang dan jasa langsung pada konsumen (Usman Thoyib, 1998) 
  4. Ritel atau eceran (retailing) adalah semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan penggunaan bisnis (Utami, 2006)
Dalam suatu channel distribusi, retailing memainkan suatu peranan penting sebagai penengah antara para produsen, agen dan para konsumen akhir.
Retailer mengumpulkan berbagai jenis barang dan jasa dari berbagai sumber dan menawarkannya kepada konsumen. Retailing tidak harus melibatkan suatu toko. Mail order atau telepon order, penjualan langsung ke konsumen di rumah-rumah dan kantor, mesin-mesin penjaja termasuk dalam scope retailing.
Bisnis Retail merupakan salah satu bisnis yang tumbuh cukup baik di seluruh dunia terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jumlah penduduk yang cukup banyak menunjang perputaran uang yang tinggi terutama untuk kebutuhan konsumsi. 

Dalam perkembangannya, bisnis retail melakukan perluasan jangkauan dari skala kota menuju propinsi, nasional, regional dan pada akhirnya global.

Digital Retailer

Traditional retailer beradaptasi dalam digital environment. 

Digital retailer dapat memberikan beberapa keuntungan bagi retail, dimana physical retail memiliki keterbatasan pada space. Dengan digital retailer, infrastruktur bangunan, perawatan bangunan, staf yang mengurusi store dapat dieliminasi. 
Digital retail dapat memungkinkan melakukan transaksi selama 24 jam setiap harinya. Namun digital retail juga membawa efek lain, yaitu dibutuhkan strategi pricing yang dinamis, di mana dengan sistem online kompetisi merupakan ‘single click away’.

Model Bisnis Retail

Berikut adalah contoh model bisnis dari usaha peritel di Indonesia:


Model bisnis retail memiliki pola long tail dan freemium.

o Pola Bisnis Model Long Tail
Pola bisnis model long tail memiliki karakteristik menawarkan produk / layanan dalam variasi jumlah yang sangat banyak. 
Katalog produk dengan jumlah yang banyak ini dimungkinkan dengan adanya online store yang memudahkan customer untuk mengakses dan meng-update daftar produk dan harga.
o Pola Bisnis Model Freemium
Model bisnis freemium bercirikan penawaran produk yang merupakan kombinasi produk gratis / low price dan berbayar.

Peran ICT dalam Model Bisnis Retail

Kemajuan sektor ICT turut membantu perkembangan bisnis retail, sehingga bisnis retail saat ini dapat dikatakan memiliki ketergantungan kepada teknologi informasi dan telekomunikasi yang tinggi terutama pada supply chain management (logistic, inventory, pembelian, pendistribusian) dan perluasan channel untuk keperluan marketing, serta untuk menambah layanan customer relationship.
Karakter bisnis retail yang berambisi menjangkau sebanyak mungkin konsumen telah membuat peranan e-business menjadi semakin penting. Evolusi skenario kompetisi pada sektor retail ini menjadikan ICT sebagai faktor penentu kemenangan dalam kompetisi. 

ICT telah berperan setidaknya dalam dua hal yaitu:
  • peningkatan laba, dan 
  • efisiensi terhadap keseluruhan proses internal.

Area utama yang membutuhkan bantuan ICT ada pada:
  1. supply chain configurations 
  2. manajemen operasi toko/merchant, 
  3. perbaikan business processes
  4. interaksi dengan pelanggan. 
Framework dari sistem retail yang telah menggunakan ICT dapat dideskripsikan sebagai berikut:



Peranan ICT pada masing-masing stream adalah sebagai berikut:
  1. Upstream supply chain --> e-procurement 
  2. In-house supply chain --> internal ICT systems 
  3. Downstream supply chain --> e-retailing, e-marketing, e-commerce website

Dengan semakin pentingnya peranan ICT terhadap kemajuan sektor retail, terlihat pula kecenderungan perusahaan-perusahaan retail untuk meningkatkan anggaran pemeliharaan dan investasi pada sektor ICT seperti terlihat pada hasil survei di bawah ini. 


Survey dilaksanakan ada tahun 2007 di tujuh negara utama Uni Eropa.

Secara khusus, aktivitas yang mendapatkan dampak positif cukup besar dari penerapan ICT adalah :
  1. logistik 
  2. administrasi dan akuntansi
  3. manajemen dan pengawasan
  4. marketing 
  5. pelayanan pelanggan. 

Peran ICT Pada Peritel Indonesia (Alfamart)

Di Indonesia, peranan ICT terhadap pertumbuhan usaha sektor retail dapat kita amati pada berbagai perusahaan, salah satunya adalah Alfamart. 
Di Alfamart, sistem Teknologi Informasi Komunikasi berfungsi sebagai enabler dalam bisnis perusahaan, baik dalam kegiatan organisasi maupun operasional gerai di berbagai lokasi.
Sistem ICT juga semakin penting dalam menunjang ekspansi Bisnis Value Added Services yang gencar dikembangkan oleh perusahaan, termasuk memfasilitasi layanan pembayaran dan pembelian online, serta Top- Up kartu Prabayar dan pulsa elektronik di kasir gerai Alfamart.

Pada tahun 2012, Alfamart telah melakukan soft launching untuk bisnis Online Shopping untuk area Tangerang dan sekitarnya, mencakup pelayanan pesan dan antar, dalam memenuhi kebutuhan konsumen untuk transaksi belanja kebutuhan sehari-hari dengan menembus batas ruang dan waktu.

Apa yang dapat kita pelajari ?

Mempelajari dan mendiskusikan model bisnis retail lebih lanjut merupakan hal yang menarik mengingat bisnis ini memiliki kemajuan pesat terutama di era e-commerce saat ini. 
Bagaimana Amazon dan Rakuten dapat mencapai kesuksesannya ?
Bagaimana pola bisnis modelnya yang membedakan dengan yang lain ?
Apa yang dapat dipelajari oleh operator telekomunikasi dari bisnis model retail ini?
Sumber:
  1. Alexander Osterwalder & Yves Pigneur. Business Model Generation. PT Elex Media Komputindo. 2013.
  2. ICT and e-Business Impact in the Retail Industry, The European e-Business Market Watch, Study report No. 04/2008
  3. Journal : A case study of retail industry of ICT innovation services - a Happy Life Supermarket, Business and Information 2013 (Bali, July 7-9)
  4. ICT & e-Business in the Retail Sector, The European e-Business Market Watch, Sector Report No.12 II/July 2003
  5. Sumber Alfaria Trijaya, Laporan Tahunan 2012.
  6. http://www.bimbingan.org/perusahaan-retail-adalah.htm
  7. http://www.digitalbusinessmodelguru.com/
  8. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl521/prosedur-mendirikan-toko-ritel-tradisional-dan-ritel-modern
++

Studi Kasus #13: Model Bisnis VENDOR Telekomunikasi

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 2
Ayu Nova, Dewi Asri Tiara Putri, Putu Eka Suarjaya

Kemajuan industri telekomunikasi Indonesia tidak terlepas dari peran vendor telekomunikasi. 

Berbicara industri telekomunikasi tidak bisa terlepas dari peranan vendor telekomunikasi yang mengisi kebutuhan perangkat bagi operator telekomunikasi.

Vendor telekomunikasi umumnya menyediakan solusi bagi operator dalam hal infrastruktur baik untuk komunikasi tetap maupun bergerak.

Pendahuluan

Teknologi telekomunikasi selalu mengalami perkembangan yang semakin canggih dari tahun ke tahun. Perkembangan ini menciptakan adanya tren yang ikut berubah pada industri telekomunikasi global. Tren yang ada tidak hanya berkaitan dengan pengadopsian infrastruktur telekomunikasi terbaru tetapi juga berkaitan dengan gaya pemakaian perangkatnya di masyarakat.
Kemajuan industri telekomunikasi tidak terlepas dari peran vendor telekomunikasi. 
Diantaranya adalah Ericsson yang telah memasok perangkat jaringan seluler (NMT) pada tahun 1987 dan merupakan pelopor dalam menyediakan jaringan bergerak digital (GSM 900) di tahun 1995 diikuti teknologi 3G sampai pada teknologi terbaru seperti LTE yang walaupun sampai saat ini masih dalam tahap ujicoba.

Beberapa vendor penyedia perangkat telekomunikasi diantaranya Ericsson, Nokia Siemens Network, Huawei, Samsung, ZTE, NEC dan Alcatel-Lucent. Saat ini Ericsson dan Huawei merupakan pemasok terbesar untuk kebutuhan perangkat telekomunikasi di Indonesia ataupun global. 

Di Indonesia sendiri Ericsson dan Huawei bekerja sama dengan tiga besar operator seluler Indonesia seperti Telkomsel, XL Axiata dan Indosat. Vendor tersebut mensuplai perangkat kepada operator dengan pembagian area tertentu. 
Di tengah persaingan yang ketat antar vendor dan kondisi industri telekomunikasi dunia ataupun Indonesia yang mulai mengalami titik jenuh dengan ditandai oleh pertumbuhan kinerja keuangan yang mulai menurun.
Namun beberapa vendor seperti Ericsson dalam satu tahun terakhir menunjukkan kinerja yang relatif stabil bahkan cenderung meningkat. 
Hal tersebut bisa dilihat dari kinerja saham Ericsson dibandingkan dengan 3 operator Indonesia seperti gambar di bawah. 


Pergerakan Harga Saham (1 tahun terakhir)
Ericsson dan Operator Telekomunikasi Terkemuka di Indonesia

Bisnis Model Vendor Telekomunikasi (Ericsson)

Posisi Ericsson yang tetap bisa bertahan di dalam persaingan bisnis, walaupun mendapat tantangan dan tekanan berat dari vendor Cina.
Hal ini bisa jadi karena perusahaan ini telah menerapkan model bisnis yang sesuai. 
Berikut Model Bisnis Kanvas Ericsson sebagai penyedia hardware ataupun software bagi industri telekomunikasi dunia. 


Model Bisnis Kanvas Ericsson
Berdasarkan model bisnis di atas terlihat bahwa salah satu revenue stream dari Ericsson adalah License atau ijin penggunaan hak patent baik kepada kompetitor ataupun kepada manufaktur perangkat yang merupakan customer segmentnya. 

Ada kemungkinan memang revenue dari sisi paten ini ikut mengangkat kinerja keuangan perusahaan.

Penutup

Sebagai penutup ada satu hal menarik yang bisa dipikirkan.
Apakah penurunan kinerja keuangan operator seluler Indonesia ini erat kaitannya dengan investasi secara besar-besaran dalam infrastruktur terutama untuk pemenuhan trafik data yang tidak sebanding dengan revenue yang didapatkan yang justru hal ini merupakan revenue dari sisi vendor?  
Ataukah memang model bisnis yang diterapkan oleh operator sudah tidak sesuai? 
Atau mungkin operator dan vendor bisa berkolaborasi dalam menciptakan model bisnis baru yang tentunya menguntungkan kedua belah pihak.

+++


Monday, October 14, 2013

Studi Kasus # 12: Future MARKETING dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 4


 Menurut Philip Kotler pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Diskusi pada artikel ini menyoroti bentuk layanan telekomunikasi guna memanfaatkan perubahan yang terjadi pada fungsi marketing..

Pendahuluan

Pemasaran (marketing) dalam suatu perusahaan memegang peranan yang sangat penting, karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan usaha, melakukan pengembangan usaha (pertumbuhan) dan untuk pencapaian tujuan perusahaan.

Keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan tergantung dari susunan strategi pemasaran yang ada di perusahaan tersebut. Setiap perusahaan menggunakan sejumlah alat untuk mendapat respon dari konsumen terhadap kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan. 
Salah satu alat yang digunakan perusahaan dalam menyusun strategi pemasaran adalah dengan menggunakan bauran pemasaran (mix marketing) yang terdiri dari 4P yaitu product (produk), price (harga), place (tempat), promotion (promosi). Place yang dimaksudkan di sini ialah distribusi. 

New Wave Marketing

New wave marketing adalah suatu cara marketing yang lebih menekankan untuk mendorong customer ikut andil mempromosikan produk secara tidak langsung.




Disini pihak perusahaan didorong untuk lebih peka terhadap bagaimana mem-Brand produk agar dapat membuat customer loyal terhadap produk atau layanan yang disediakan, terlebih terhadap perusahaan yang penyedia, supaya customer itu nantinya diharapkan dapat menjadi ‘sales’ tak langsung bagi perusahaan dalam memasarkan produk. 

Sadar atau tidak, kita telah melakukan dan merasakannya dalam hal membuat keputusan untuk membeli sebuah produk atau mengkonsumsi suatu layanan. Kita akan lebih menurut dengan rekomendasi dari teman kita (word of mouth) dari pada iklan. 

Perkembangan teknologi dan layanan telekomunikasi berperan sangat  besar dalam melahirkan ‘new wave marketing’, Konsep ini mulai berkembang karena adanya dukungan dari era Web 2.0 dimana orang dapat pertukaran informasi secara lebih mudah (interaktif) jika dibanding dengan era Web 1.0. 

Marketing berkaitan dengan sembilan elemen yang terdiri dari: 
  1. segmentasi, 
  2. targeting, 
  3. positioning, 
  4. diferensiasi, 
  5. marketing-mix, 
  6. selling, 
  7. brand, 
  8. service, dan 
  9. process. 
Sembilan elemen tersebut lahir di zaman serba vertikal. Saat itu belum ada Web 2.0 atau bahkan belum ada Web 1.0. Ketika itu praktek pemasaran yang dilakukan oleh pemasar dan dikendalikan secara top-down, bersifat hirarkis, dari perusahaan ke konsumen. 

Seiring dengan masuknya era  horisontal, yang didorong oleh kekuatan baru teknologi Web 2.0, seakan produsen dihadapkan pada tuntutan untuk bergerak lebih horisontal dan duduk sejajar dengan konsumen, kompetitor dan agen-agen pembawa perubahan. 

Artinya konsumen bukan lagi menjadi objek tapi subjek, karena penciptaan nilai pemasaran akan lebih bertambah kalau melibatkan pelanggan dan melakukan inovasi secara bersama-sama. 

Model pemasaran New Wave ini memang berbeda. Sembilan elemen yang selama ini sudah dikenal mungkin masih tetap berlaku, namun secara praktek kesembilannya harus dirubah ke yang lebih horisontal dimana 9 elemen pemasaran sudah berganti menjadi 12 C dan Marketing Mix (4P) sudah berganti ke New Wave Marketing Mix (co-creation, currency, conversation and communal activation). 

Teknologi ICT Merubah Model Pemasaran 

Era Web 2.0 dan media sosial membuat internet menjadi lebih interaktif, merubah dalam mencari informasi dan berinteraksi dengan orang lain. 

Kini pengguna tidak hanya sebagai pengamat saja, tetapi dapat memberikan feedback kepada pembuat berita, sehingga internet menjadi lebih aktif dari era sebelumnya karena ada keterlibatan pengguna di dalamnya. Dengan pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia yang semakin meningkat dan penggunaanya kebanyakan untuk media sosial dan chatting, operator-operator telekomunikasi menangkap peluang tersebut dengan menyediakan paket-paket layanan internet. 

Melihat fenomena ini, dunia marketing pun lambat laun melakukan penyesesuaian dengan yang terjadi pada saat ini. Sistem marketing yang dulu menerapkan “high cost high impact” sekarang menjadi “low cost high impact”.

Pemasaran produk dapat memanfaatkan media sosial yang biayanya tidak sebesar memasang iklan di televisi, surat kabar, pamlet, dan lain-lain. Dengan pemasaran online akan timbul pemasaran horizontal yaitu customer loyal menjadi sales perusahaan untuk dari produk tertentu. 

Contohnya adalah sebuah bank masuk ke sosial media untuk tujuan customer engagement. Bank tersebut menjalankan konsep “Care” dengan mendengarkan keluhan masyarakat, dengan 113,000+ fans di Facebook dan 44,900+ followers di Twitter. Ini memungkinkan bank memanfaatkan keuntungan dari sosial media dengan tersedianya grup dan news feeding pada facebook misalnya dapat mendorong penyebaran ide inovasi yang dapat dieksekusi dengan cepat apabila sesuai dengan tren. 

Orang-orang menaruh kepercayaan kepada yang memiliki banyak follower dibandingkan brand ambassador di iklan TV.

Model Bisnis Di Era New Wave Marketing 

Perbedaan model bisnis new wave marketing dengan legacy marketing terletak pada “Low Cost, High Impact”, dengan biaya yang sangat rendah bisa didapatkan dampak yang maksimal. 


Dampak dalam hal ini bukan pada besarnya jumlah keuntungan, tapi lebih kepada kepuasan pelanggan yang lebih menjamin “kelanggengan” suatu produk dalam pasar. 

Dengan bekerjasama dengan perusahaan telekomunikasi dan juga IT Developer menandakan pentingnya peranan teknologi ICT dalam new wave marketing ini.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sektor telekomunikasi memanfaatkan peluang ini?

Tuesday, October 8, 2013

Studi Kasus # 11: MANUFAKTUR dan Layanan TELEKOMUNIKASI

Seri Kapita Selekta

oleh: Kelompok 3


Manufaktur merupakan salah satu industri yang pertama kali muncul di dunia. Manusia secara alami menghasilkan sebuah alat dengan menggunakan bahan mentah yang tersedia di alam. Industri ini lalu berkembang menjadi sangat maju. Di dalam perkembangannya industri manufaktur menyertakan layanan-layanan dari berbagai keilmuan, agar produksi dapat semakin efisien dan produk yang dihasilkan semakin baik. Salah satu keilmuan yang mendukung industri manufaktur adalah teknologi informasi dan telekomunikasi (ICT). Saat kini layanan ICT sangat dibutuhkan di industri manufaktur.

Apa Itu Industri Manufaktur ?

Manufaktur adalah proses pengolahan sumber daya mentah menjadi sebuah produk yang memiliki manfaat dan nilai jual, dengan mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga kerja di dalam prosesnya.

Porter Generic Value Chain
Sehingga definisi dari industri manufaktur adalah industri yang bergerak di dalam bidang pengolahan barang mentah menjadi sebuah produk yang memiliki jual dengan memanfaatkan teknologi.

Secara umum manufaktur dapat didefinisikan sebagai 
suatu aktifitas kompleks yang melibatkan berbagai variasi sumberdaya dan aktifitas perancangan produk, pembelian, pemasaran, mesin dan perkakas, manufacturing, penjualan, perancangan proses, production control, pengiriman material, support service dan customer service.

ICT di  Industri Manufaktur

ICT (Information Communication Technology) tidak bisa lepas primary activities dan support activities dilihat dari Porter Generic Value Chain. 

Dengan sistem informasi yang terintegrasi sebagai bagian dari ICT, memungkinkan industri manufaktur melakukan efisiensi di seluruh kegiatan utama dari inbound logistic, operation, outbound logistic, marketing and sales, dan support. Demikian juga di sisi kegiatan-kegiatan pendukung.

Layanan telekomuniksi mendukung sistem produksi yang meliputi seluruh kegiatan yang terkait dari perencanaan dan pengendalian proses untuk memproduksi barang atau jasa melalui sistem informasi.

Dalam industri manufaktur sistem informasi antara lain mencakup perencanaan manufaktur, rencana produksi, rencana tenaga kerja, rencana kebutuhan baku dan sistem pengendalian manufaktur. ERP atau enterprise resource planning merupakan salh satu sistem informasi yang banyak digunakan di industri ini.

Manfaat

Manfaat digunakannya layanan telekomunikasi di dalam industri manufaktur antara lain adalah :

  1. Hasil produksi perusahaan lebih cepat dan tepat waktu karena sisttem jaringan komputer sebagai alat prosesnya.
  2. Perusahaan lebih cepat memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya.
  3. Arsip lebih terstruktur karena menggunakan sistem database.
  4. Sistem informasi manufaktur yang berupa fisik robotic, hasil produksi semakin cepat, tepat dan berkurangnya jumlah sisa bahan yang tidak terpakai.

Perkembangan perusahaan-perusahaan manufaktur saat ini juga menyebar di berbagai daerah. Sejumlah layanan dari perusahaan telekomunikasi dalam membantu mengintegrasikan dan menghubungkan Kantor Pusat dengan kantor cabang dan gudang yang tersebar di sejumlah daerah maupun para pemasok di berbgai lokasi dalam dan luar negeri.

Ada beberapa faktor yang harus dicakup sehingga proses integrasi dapat berjalan, yaitu :

  1. Cakupan produk dan jasa komunikasi data yang dibutuhkan
  2. Coverage wilayah.
  3. Performansi
  4. Biaya

Case Study : Nokia-China Internal Logistic Management

Sejak tahun 1985, Nokia membuka kantor pertama di China, Beijing sebagai fase early development.

Di pertengahan tahun 1990, Nokia mulai merealisasikan aktivitas manufacturing sehingga diharapkan secara bertahap Nokia-China berkembang menjadi production base untuk Nokia di seluruh dunia. Dalam perkembangannya, China tidak hanya menjadi sebagai pasar strategis bagi Nokia tetapi juga merupakan key production, R&D dan inovation base Nokia.

Nokia melanjutkan eksplorasi dan inovasi untuk mengkombinasikan mindset global dengan karakteristik China. Hanya berselang 12 tahun Nokia-China, Beijing dijadikan sebagai multinational corporation yang membawahi semua kantor di seluruh china, beberapa institusi R&D, production base dengan 12.000 staf.

Di dalam struktur fungsi internal Nokia-China mengikuti struktur HQ finlandia yang dapat direpresentatifkan sebagai berikut :



  • Unit Devices bertanggung jawab dalam hal mengembangkan device prototype sesuai dengan kebutuhan market.
  • Unit Services & Software merefleksikan strategi pengembangan dan pertumbuhan layanan yang ditawarkan ke customer.
  • Unit Market bertanggung jawab dalam hal manajemen supply chain, sales, channel serta aktifitas brand dan marketing.
  • Nokia Siemens Networks (sekarang Nokia Solution Network) adalah bagian sub-perusahaan yang fokus pada penyediaan dan pengembangan network infrastructure bagi operator telekomunikasi.

BISNIS MODEL

Bisnis model Nokia hingga akhir 2008 dapat direpresentatifkan sebagai berikut ini.

Model Bisnis NOKIA
Bagan di atas menunjukkan Bisnis model Nokia di tahun 2008 yang merupakan salah satu masa kejayaan Nokia. Pada tahun ini Nokia meluncurkan banyak ponsel-ponsel inovatif, sebagai sebuah langkah dalam mengantisipasi produsen-produsen ponsel berbasi Android dan iOS.

Seluruh produk ini merupaka jawaban Nokia atas segmen pasarnya.

Pada masa ini juga Nokia menyediakan layanan Nokia Music Store dan juga N-Gage Game Service sebagai penunjang layanan multimedia pada handset Nokia. Selain produk handset Nokia juga menyediakan perangkat dan infrastruktur Telekomunikasi melalui Nokia Siemens Network (NSN).

LOGISTIC INFORMATION SYSTEM

Nokia-China sebagai perusahaan yang pelanggannya ada di seluruh dunia, membangun banyak pabrik di beberapa wilayah China. Dibutuhkan sistem yang terintegrasi untuk mengatur logistic dan supply chain dengan tepat sasaran.

Nokia-China menerapkan konsep Logistic Information System berbasiskan ICT sesuai bagan berikut di bawah ini.
Konsep Logistic Information System
Bagi perusahaan, Logistic Information System memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Simplify Management Processes, meningkatkan efisiensi pertukaran informasi internal dan antar perusahaan
  2. Meningkatkan kecepatan operasi dalam perusahaan sehingga barang atau layanan sampai ke pelanggan dengan tepat waktu.
  3. Pengaturan resources utilization lebih optimal
  4. Sangat berguna untuk proses analisis informasi suppliers, customers dan partners dalam proses pengambilan keputusan.

Diagram Keterkaitan Pemanfaatan Logistic Information System

FLOW DIAGRAMS

Berikut flow diagram bagaimana pendistribusian barang yang diterapkan Nokia-China berikut pertukaran dokumen / informasi untuk operasi dalam negeri, tujuan ekspor, dan kepabeanan.

Operasi DalamNegeri

Kegiatan Ekspor

Operasi di Negara Tujuan

Penutup

Sebagai penutup ada satu hal menarik yang semestinya dipikirkan.

Bagaimana mengaitkan kinerja industri telekomunikasi dengan industri manufaktur sebagai pihak yang memanfaatkan layanan. Sebagai gambaran berikut ini kinerja harga saham perusahaan manufaktur otomotif dan operator telekomunikasi terkemuka Indonesia.

Pergerakan Harga Saham
Perusahaan Manufaktur Otomotif dan Operator Telekomunikasi Indonesia
Gambar di atas menunjukkan tren dan perbandingan kinerja saham Astra Autoparts yang mewakili industri manufaktur Indonesia, beserta 3 Operator Telekomunikasi raksasa Nasional.

Dari diagram di atas dapat dilihat ternyata Industri Manufaktur memiliki kinerja saham yang lebih baik dibandingkan operator-operator telekomunikasi Indonesia.

Melihat tren ini barangkali sudah waktunya bagi sektor telekomunikasi untuk memikirkan kembali model bisnisnya yang berjalan saat ini.

Sumber:
http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=5534
http://julianti.blog.binusian.org/2012/12/13/pemanfaatan-ict-pada-bidang-industri/

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger