Thursday, October 11, 2012

STUDI KASUS #2: NOKIA (kelompok 5)



Cause of Failure Nokia (web version)

KELOMPOK 5


Sekilas NOKIA

Nokia Corporation adalah perusahaan terbatas terbuka yang tercatat di bursa saham Helsinki, Frankfurt, dan New York, memainkan peran yang sangat besar dalam perekonomian Finlandia dan sejauh ini merupakan perusahaan terbesar Finlandia, terhitung sekitar sepertiga dari kapitalisasi pasar dari Bursa Efek Helsinki (OMX Helsinki) pada 2007.
Bergerak dalam bidang perangkat mobile, konvergen internet dan industri komunikasi. Memiliki lebih dari 132.000 karyawan di 120 negara, penjualan di lebih dari 150 negara dan pendapatan tahunan global lebih dari € 42 milyar dan laba usaha sebesar € 2.000.000.000 di tahun 2010, menawarkan layanan internet seperti aplikasi, games, musik, peta, media dan pesan melalui platform OVI nya. jaringan telekomunikasi peralatan melalui Nokia Siemens Networks, dan informasi peta gratis melalui Navteq, anak perusahaannya.


Logo NOKIA dari waktu ke waktu

Latar Belakang Masalah 

Dilansir dari Reuters, Sabtu (28/7/2012), Nokia telah sampai pada keputusan final untuk mengakhiri pabrik di sana. Lebih lanjut diwartakan bahwa produksi di Salo telah berhenti dan selama sisa tahun ini, 780 orang akan dirumahkan.
Meski sudah berhenti berproduksi, namun secara resmi penutupan pabrik di Salo akan dilakukan pada September tahun ini. Persaingan dengan Apple, Samsung dan Google tak pelak menjadi alasan lesunya bisnis yang dijalankan Nokia.

Penyebab Kegagalan Nokia

Identifikasi Faktor Eksternal sebagai penyebab

  1. Perkembangan OS Android yang pesat didukung oleh berbagai developer content dari berbagai negara dan menjadi daya tarik utama handphone versi Android.
  2. Harga jual handset ber OS Android cenderung lebih murah dengan spesifikasi yang sama dibandingkan handset Nokia.
  3. Kegagalan Lumia 900 di Amerika menjadi dasar gugatan atas Nokia. Lumia 900 LTE tidak menarik minat masyarakat Amerika, yang lebih tertarik pada Android dan iPhone tentunya.
  4. Robbins Geller Rudman & Dowd, sebuah lembaga bantuan hukum, secara resmi melayangkan gugatan class action pada Nokia. karena Nokia telah melakukan pernyataan menyesatkan pada para investor dengan janjinya bahwa Windows Phone OS akan mampu mengembalikan kejayaan Nokia dan menguasai pasar smartphone di Amerika, tapi tidak terbukti, dianggap sebagai pernyataan menipu.
  5. Dikutip detikINET dari ZDNetAsia, Kamis (8/9/2011), Gary menilai kegagalan WebOS adalah karena platform tersebut tidak terlalu mendukung para developer dalam menghasilkan uang

Identifikasi Faktor Internal sebagai penyebab

  1. Kurangnya penguasaan dua bidang sekaligus yaitu hardware design dan software.
  2. Terlena dengan keberhasilan sebagai pemimpin perusahaan ponsel
  3. Kurang berinovasi dan tidak belajar dari kegagalan brand sebelumnya seperti Siemens dan Sony Ericsson.
  4. Nokia sangat lamban merespon pergerakan para kompetitornya.. 
  5. Nokia tidak melakukan kolaborasi dengan perusahaan lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk saling melengkapi, baik untuk menciptakan produk maupun membentuk standar baru dalam pasar.
  6. Nokia terlalu memaksakan bertahan dalam OS Windows nya sementara user lebih senang menggunakan Android dengan berbagai aplikasinya yang free. Dari segi handset, handset keluaran Nokia relatif sama yang berbasis Android.
  7. Dalam menjalankan strategi bertahannya Nokia kurang dan lamban berinovasi dan tidak belajar dari kegagalan brand sebelumnya seperti Siemens dan Sony Ericsson.
  8. Tidak memahami keinginan pasar yang menginginkan ponsel murah dengan fitur canggih bukan ponsel yang tergabung dengan kemewahan maupun kamera.
  9. Melakukan benchmarking ke dalam, Windows Phone versi terbaru dengan Windows Phone versi sebelumnya. Seharusnya benchmarking juga dilakukan ke luar yaitu dengan OS Android.

Strategi Nokia 

Di masanya

  1. Mendesain beragam jenis ponsel untuk semua jenis segmen pasar. Dengan menjalankan strategi multi product for multi market segment maka Nokia bisa melakukan penetrasi ke semua lapiran pasar ponsel.
  2. Desain produk yang memang menarik dan elegan.
  3. Produk Nokia juga relatif memiliki tingkat keawetan yang bagus sehingga bisa digunakan dalam waktu relatif lama.
  4. Nokia juga memperkenalkan ragam produk yang menyasar pada kebutuhan gaya hidup, misal ponsel music, ponsel khusus untuk chating, ataupun ponsel yang memiliki mutu kamera yang bagus.

Ke depan

  1. Melakukan Perombakan manajemen dilakukan untuk meningkatkan model operasi serta mendukung pertumbuhan penjualan ponsel.
  2. Melakukan peningkatan pada layanan berbasis lokasi,  investasi pada layanan berbasis lokasi pada area kompetitif untuk produk Nokia dan memperluas platform berbasis lokasi untuk industri yang baru
  3. Menginvestasikan secara kuat dalam produk dan pengalaman yang menjadikan smartphone Lumia berjaya serta tersedia untuk konsumen yang luas
  4. Meningkatkan daya saing dan profitabilitas pada bisnis fitur ponsel.

Analisis

Faktor Dominan sebagai Penyebab

Matriks Analisis

Competitiveness:

Matrik Kompetitif
Menurut http://www.networkworld.com/news/ 2011/021411-smartphone-survey.html bahwa 3 pertimbangan utama orang membeli handphone adalah kualitas network, operating system dan aplikasi.

Data Pendukung
Di Negeri Cina, Nokia mengalami penurunan dalam penguasaan market dan terlihat bahwa user di Cina mengalami pergeseran dari pengguna Nokia menjadi pengguna Android.

Dari data yang kami peroleh dari www.gsmarena.com ditemukenali bahwa Lumia900 terlambat diluncurkan (Februari 201) dibandingkan Iphone 4S (Oktober 2011). Nokia kembali mengulangi kesalahan ini terhadap Nokia Lumia 920 (September 2012) sementara para pesaing sudah memasuki teknologi Quad Core lebih awal.

Rasio Keuangan

Quick Ratio: 1.75 merupakan salah satu yang terbesar di industri telekom
Average Collection Ratio: terjadi penurunan menjadi 68.31 hari (tahun 2010 sebesar 65.43 hari)
Inventory Turnover: tidak mengalami perubahan yang berarti dan masih lebih tinggi dibanding rata – rata industri
Total Assets Turnover: mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yaitu 3.6 tapi tetap masih lebih kecil dibanding ratio industri sebesar 4.13
Debt to Asset Ratio: mengalami peningkatan yaitu sebesar 61.6 % dibanding tahun sebelumnya dengan nilai 58.5 %.
Kerugian: mengalami kerugian yang disebabkan oleh adanya Non Recurring Cost sebesar $ 1,415,000,000.

Catatan:

Dari semua data – data tersebut dapat dilihat bahwa secara umum perusahaan masih cukup bagus dengan nilai Quick Ratio yang bagus. Tinggal bagaimana memanfaatkan sumber dana tersebut untuk dapat lebih meningkatkan competitiveness perusahaan

Prediksi the Company will Follow (data , fakta, analisis)

Berdasarkan analsis dan data dapat diprediksikan perusahaan yang akan menyusul adalah Blacberry.
Blackberry amat lamban merespon dinamika yang ada. Terlalu banyak analisa. Terlalu lamban mengambil decision. Dan ketika keputusan diambil semuanya sudah terlambat. RIM produsen Blackberry juga membentangkan berita kelam : mereka juga akan mem-PHK 5000 karyawannya. Penjualan mereka anjlok 50 % dibanding tahun lalu.

Kesimpulan dan Saran

Innovation Lesson # 1 : Core Competencies will Win. Inovasi akan selalu dimenangkan oleh mereka yang menguasai core competency dalam industrinya. Dalam kasus industri gadget, core competencies itu adalah pada penguasaan dua bidang sekaligus : hardware design dan software.
Innovation Lesson # 2 : Collaborative Innovation. Kalau kita tidak menguasai core competencies yang dibutuhkan dalam sebuah bisnis, tak ada salahnya kita melakukan kolaborasi dengan mereka yang memilikinya.
Innovation Lesson # 3 : Speed. Speed. Speed. Dalam derap perubahan yang melaju dengan kencang, respon yang lamban (atau apalagi penuh birokrasi) akan membuat perusahaan tewas dilibas pesaing.

Catatan:

Nokia dan Blackberry amat lamban merespon dinamika itu. Terlalu banyak analisa. Terlalu lamban mengambil decision. Dan ketika keputusan diambil semuanya sudah terlambat. Selanjutnya adalah sebagai berikut:
  1. Hanya mereka yang menguasai aspek software dan hardware sekaligus yang akan menguasai dunia digital masa depan.
  2. Apabila ingin berhasil harus selalu berinovasi, bergerak cepat dan berkolaborasi dengan perusahaan lain
  3. Untuk menyempurnakan strategi harus berkolaborasi dengan perusahaan lain.
  4. Sumbangsih GDP Nokia terhadap Finlandia menurun sehingga hanya 2.9 % pada tahun 2011.
  5. Dari hasil analisa kompetitif yang meliputi Inovasi, Aplikasi, Efektivitas dan Efisiensi, Interest Nokia terhadap dua pesaingnya yaitu Apple dan Samsung maka Nokia berada di posisi terbawah.
  6. Dari sisi analisa keuangan, kondisi Nokia masih menarik untuk para investor. Dapat dilihat bahwa secara umum perusahaan masih cukup bagus dengan nilai Quick Ratio yang bagus. Tinggal bagaimana memanfaatkan sumber dana tersebut untuk dapat lebih meningkatkan competitiveness perusahaan
  7. Dari hasil analisa perusahaan yang akan menyusul maka kemungkinan hal yang serupa akan terjadi pada blackberry.

Referensi

  1. http://www.kaskus.co.id/showthread.php?p=743710212
  2. http://inet.detik.com/read/2012/07/28/153042/1977367/319/nokia-tutup-pabrik-di-kandang-sendiri?i991102105
  3. http://inet.detik.com/read/2011/09/08/130842/1718171/317/kembangkan-windows-phone-nokia-pelajari-kegagalan-webos
  4. http://strategimanajemen.net/2012/07/02/kenapa-nokia-dan-blackberry-di-ambang-kehancuran/
  5. http://padanggurungersang.wordpress.com/
  6. http://www.deplu.go.id/helsinki/Pages/TipsOrIndonesiaGlanceDisplay.aspx?IDP=1&IDP2=3&l=id
  7. http://rajapresentasi.com/2009/08/strategi-pemasaran-ponsel-nokia/
  8. http://indobikermags.com/2012/07/04/blackberry-nokia-hingga-iphone-serta-kegagalan-yang-sama/
  9. http://techno.okezone.com/read/2012/06/15/57/647965/redirect
  10. http://strategimanajemen.net/2012/07/02/kenapa-nokia-dan-blackberry-di-ambang-kehancuran/
  11. http://inet.detik.com/read/2012/06/30/145820/1954705/319/perusahaan-memburuk-bos-nokia-malah-dipuji?id771108bcj
  12. http://wisnudewobroto.com/nokia-strategi-bisnis-dan-strategi-it/
  13. http://www.teknoup.com/news/10481/penjualan-smartphone-apple-2011-diprediksi-ungguli-nokia-dan-samsung/
  14. http://www.google.co.id/imgres?start=40&num=10&um=1&hl=id&biw=1920&bih=989&tbm=isch&tbnid=3zaMN4RGMP3muM:&imgrefurl=http://mynokiablog.com/2012/01/11/morganstanley-estimates-20m-q4-sales-for-nokia-1m-lumia-40m-symbian-37m-wp-2012-64m-2013/&docid=xMYuo5UxbnoQLM&imgurl=http://mynokiablog.com/wp-content/uploads/2012/01/research-estimates.png&w=572&h=468&ei=g-VbUMDyHYf5rQe_jIHICw&zoom=1&iact=hc&vpx=709&vpy=555&dur=8612&hovh=203&hovw=248&tx=138&ty=110&sig=104397114412542664453&page=2&tbnh=147&tbnw=176&ndsp=50&ved=1t:429,r:11,s:40,i:116
  15. http://technode.com/2011/11/15/android-rules-58-of-china%E2%80%99s-smartphone-market/
  16. http://www.newsflaps.com/2011/02/20/nokia-ovi-store-apple-app-store-google-android-market-blackberry-app-world-revenue-comparison/
  17. http://seekingalpha.com/article/641771-nokia-it-is-time-to-buy-this-severely-undervalued-stock
  18. http://ringoflife.wordpress.com/2011/11/15/rasio-aktivitas/
  19. http://shelmi.wordpress.com/2009/03/04/rasio-%E2%80%93-rasio-keuangan-perusahaan/
  20. http://hp-handphone.com/berita/perbandingan-samsung-galaxy-s-iii-iphone-4s-htc-one-x-dan-nokia-lumia-900.html
  21. http://conversations.nokia.com/2009/08/12/nokia-and-microsoft-partnership-delivers-innovation-and-symbian-delight/
  22. http://www.ponsel.org/perang-nokia-n8-vs-iphone-4-siapa-lebih-unggul/
  23. http://beta.fool.com/danielsparks/2012/09/03/apple-2012-50-growth/10776/
  24. http://www.bgr.com/2011/07/29/apples-iphone-accounted-for-66-of-q2-smartphone-profit-among-top-vendors/
  25. www.gsmarena.com
  26. http://technode.com/2011/11/15/android-rules-58-of-china%E2%80%99s-smartphone-market/
  27. http://www.thehindubusinessline.com/opinion/columns/vidya-ram/article3415284.ece

STUDI KASUS #2: NOKIA (kelompok 3)


NOKIA IN TROUBLE (web version)

KELOMPOK 3

1. LATAR BELAKANG MASALAH 

Nokia pernah merajai market mobile phone pada era GSM dan CDMA beberapa tahun lalu, namun beberapa tahun terakhir saham Nokia terus jatuh seiring gagalnya beberapa produk Nokia terbaru melawan competitornya Apple, RIM, dan Samsung.
Sangat miris apabila melihat Nokia yang dahulu memimpin hampir di semua segmen pasar mobile phone harus digeser oleh gempuran competitor, dimana letak kesalahan strategi Nokia?

2. ISSUE/PERMASALAHAN YANG INGIN DIJAWAB

  • Apakah penyebab perusahaan besar seperti NOKIA dapat mengalami kesulitan besar seperti ini (5 faktor eksternal dan 5 faktor internal) ?
  • Apakah strategi yang dijalankan dan temukan 3 penyebab yang paling dominan, yang menjadi penyebab utama kesulitan ini ?
  • Berapa besar kontribusi NOKIA terhadap perekonomian Finlandia dan apa strategi NOKIA ke depan ?
  • Apakah ada perusahaan lain yang akan menyusul?

3. DASAR TEORI

Ada tiga aktivitas dasar dalam mengevaluasi strategi yang pertama adalah memeriksa dasar/latar belakang dari dibuatnya strategi organisasi, membandingkan antara kejadian aktual dengan yang diharapkan oleh organisasi, dan Identifikasi aksi-aksi perbaikan yang terjadi untuk memastikan bahwa performansi yang diperoleh sesuai dengan rencana semula. Dasar teori selengkapnya dapat dilihat di CASE # 2 - NOKIA in Trouble (Laporan Akhir) - Kelompok 3 - Versi Lengkap.doc halaman 2 – 4.

4. VARIABLE PENGUKURAN UNTUK ANALISIS

  1. Margin Laba
  2. Pangsa Pasar
  3. Pertumbuhan Aset
  4. Pertumbuhan Penjualan
  5. Laba per saham
  6. Delphi survey

5. PENYEBAB KEGAGALAN NOKIA 

Internal 

  1. Absennya produk yang popular terlalu lama, sehingga menurunkan pamor Nokia dan tergantikan oleh pesaingnya.
  2. Nokia terlalu fokus mengembangkan symbian tanpa memberikan inovasi yang berarti. 
  3. Nokia tidak fokus pada pengembangan hardware (phone) saja, usaha Nokia untuk mengambangkan software (Symbian, Megoo) malah membuat Nokia tidak fokus. 
  4. Strategi mengganti symbian dengan Windows 8 (Microsoft) tidak berhasil, dan membuang hasil R&D symbian yang telah memakan banyak biaya. 
  5. Keputusan Board CEO lamban dalam menyikapi tren terbaru. Birokrasi yang kompleks dan divisi yang gemuk menyebabkan pengambilan keputusan yang relative lama. 
  6. Selain vendor ponsel, Nokia juga merupakan vendor penyedia jaringan infrastruktur (lewat NSN-Nokia Siemens network), kadangkala ponsel yang dihasilkan mengikuti produk teknologi yang diciptakannya, namun kurang mengakomodasi dari produk teknologi vendor jaringan infrastruktur yang berbeda.
  7. Nokia seringkali menjadi pelopor dalam meluncurkan produk terbaru namun tanpa prospek masa depan yang lebih baik. Nokia gagal mengantisipasi, memahami atau mengatur diri untuk menghadapi perubahan zaman. Bahkan bisa dibilang ponsel Nokia terbaru adalah fitur yang siap, namun tidak siap di masa depan.
  8. Salah satu produknya yakni Lumia 900 yang merupakan smartphone berbasis Windows Phone 7 tidak diberi opsi upgrade ke Windows Phone 8, dimana ada perbedaan arsitektur yang sangat mendasar antara Windows Phone 7 dan Windows Phone 8.

Eksternal 

  1. iPhone & Android smart phone (Samsung, HTC, LG, dll) dan RIM berhasil mengambil market - Nokia gagal mengambil momentum Smart Phone Booming.
  2. Ketidakunikan Nokia dibanding mobile phone competitor. Smartphone yang berbasis Apple punya keunikan (user experience, high lifestyle), atau smartphone berbasis Android (kaya akan applikasi dan game gratis), demikian pula Smartphone Blackberry (push email, messaging, BBM dan social media). Dan keunikan itu merupakan kekuatan yang menyebabkan mereka dilirik oleh pasar dan akhirnya mampu menggeser Nokia sebagai raja. Nokia yang menyediakan produk produk untuk melayani semua segmen pasar menjadi tidak unik dan ditinggalkan customer/pembeli.
  3. Vendor ponsel China (Huawei, ZTE) dan Korea (Samsung, LG) mengeluarkan smart phone low cost untuk menyaingi kerajaan Nokia di negara berkembang.
  4. Smartphone Ecosystem, Banyaknya Application developer di iPhone dan Android, sehingga user dapat meng-customize aplikasi sesuai kebutuhan. Hal ini tidak ada di Nokia symbian / windows 8. OVistore (kini Nokia Store) tidak mampu menarik para developer untuk menciptakan aplikasi dan game terbaiknya disana.
  5. Transisi customer dari mobile phone ke smart phone sangat cepat.
  6. Persaingan bebas, membuat semua perusahaan termasuk Nokia harus bersaing ketat dengan perusahaan lain. Yang tercepat, termurah dan terbaiklah yang akan menang.
  7. Telat melakukan antisipasi menghadapi gempuran vendor ponsel China dalam penyediaan low cost dual sim card phone. Nokia merilis sejumlah ponsel dual sim card murah seperti Nokia X1-01, C2-01 atau Asha 200 dengan harga terjangkau namun hal tsb dilakukan ketika penetrasi market dual sim card sudah saturasi, dan image ponsel China dengan dual sim card (bahkan dengan fitur lain, misalnya tivi) sudah mengakar kuat di benak konsumen.
  8. Tidak adanya Collaborative Innovation yang kuat di Nokia (meskipun akhirnya menggandeng Microsoft), tidak seperti Samsung yang sedari awal sadar ia tak akan mampu melawan kompetensi software Apple. Karena itu ia segera melakukan kolaborasi dengan software Android milik Google.

6. STRATEGI YANG DIJALANKAN SEBELUMNYA

  1. Fokus pada pengembangan symbian
  2. Berkolaborasi dengan Microsoft (namun telat, karena iPone dan Android telah menguasai pasar)
  3. Inovasi di smartphone gadget vendor lain sangat tinggi, sedangkan Nokia tidak banyak perubahan. Di Q1/2012 menjadi kuartal pertama Samsung mengalahkan Nokia dalam total jumlah pengiriman ponsel, namun Samsung sudah menyalip Nokia dalam volume penjualan dan profitabilitas sejak tahun 2010.

7. KONTRIBUSI NOKIA TERHADAP FINLAND 

NOKIA contribution to Finland economy
Nokia menyumbang 1,6 % GDP Finland dan 14% total export Finland. Hal ini membuktikan bahwa peran Nokia terhadap negara Finlandia sangat significant.

8. STRATEGI BARU NOKIA 

  1. Perampingan Divisi, Nokia menghapus divisi penjualan.
  2. Memutuskan untuk fokus pada customer.
  3. Meningkatkan transparansi dan memotong cost.
  4. Nokia Lumina – Berkolaborasi dengan Microsoft – 
  5. Connecting another billion, merambah market baru (Nokia.com).
  6. Melayangkan gugatan penyalahgunaan hak paten atas produk pesaing.

9. PERUSAHAAN LAIN YANG AKAN MENYUSUL

Kinerja Perusahaan lain
Berdasarkan nilai saham, Research In Motion (RIM) dan mungkin HTC sepertinya mengalami hal serupa, sedangkan Apple Inc. sedang Berjaya.

10. DATA PENDUKUNG ANALISIS DAN SUMBER DATA

a. Data penjualan Nokia quarter pertama tahun 2012 menurun 26 %

Data Penjualan Nokia
Financial Position
Total Q1 cash burn lebih dari €700 million dan penjualan smartphones & mobile phone secara keseluruhan anjlok

b. Mapping penjulan Nokia mengikuti/hampir sama dengan vendor serupa yang gagal beberapa tahun lalu.

Selected player performance

c. Nokia marketshare going down 

Nokia market share menurun disemua negara.

d. Delphi Survey

Delphi survey merupakan interactive forecasting method (peramalan metode interaktif) yang bergantung pada sebuah panel tenaga ahli di bidangnya.
Reuters meminta pendapat dari 30 ahli analisa keuangan. Lumia 900 mendapat pasar yang baik, tetapi belum tentu menyelamatkan Nokia dari krisis keuangan.

e. Litigasi Paten

Nokia melayangkan gugatan penyalahgunaan hak paten atas produk pesaing yang dirasa menjiplak teknologi Nokia, berupa desain panel, dual function antenna, power management dan radio multimode radio.
Nokia menggugat HTC, RIM dan Viewsonic (vendor Android) untuk pelanggaran 45 paten di AS dan Jerman.

11. ANALISA POSISI NOKIA DALAM VENDOR PONSEL DUNIA

Matrix IFE 

IFE matrix
Skor bobot untuk matriks IFE bernilai 1,6 ini mengindikasikan posisi internal perusahaan Nokia sangat lemah.

Matrik EFE

EFE matrix
Skor bobot untuk matriks EFE bernilai 2.0 mengindikasikan organisasi belum berhasil memanfaatkan peluang eksternal yang ada dan belum berhasil menghadapi ancaman eksernal.

Kedua bobot skor Matrik IFE dan EFE yang diperoleh kemudian di petakan ke matriks IE
IFE vs. EFE map
Jenis strategi yang sesuai sesuai kuadran IX untuk NOKIA adalah Harvest atau Divest

Matrix Profile Competitive

Profile Competitive
Dengan menggunakan Matriks Profil Kompetitif, posisi Nokia terlihat kurang baik dengan poin 2.15 berada di posisi kedua dari bawah setelah vendor ponsel lokal di Indonesia, Nexian

Matrix SWOT 

Analisa lengkap matrix SWOT dapat dilihat di file: halaman 8
CASE 2 - NOKIA_in_Trouble_(Laporan_Akhir)_-_Kelompok_3_-_revised.doc

12. DIAGRAM TULANG IKAN

Diagram Tulang Ikan untuk permasalahan NOKIA
Diagram di atas menggambarkan sumber permasalahan Nokia yang jika tidak dilakukan kegiatan korektif tentu akan berujung kepada kebangkrutan.

13. KESIMPULAN DAN SARAN 

  1. Nokia management dalam masalah, penjualan terus menurun dan kerugian perusahaan bertambah besar.
  2. Dengan menggunakan Matriks Profil Kompetitif, Nokia dibandingkan dengan vendor mobile phone yang lain. Posisi Nokia sangat jelek, dengan poin 2.15 berada di posisi kedua dari bawah setelah vendor ponsel lokal di Indonesia, Nexian.
  3. Dengan Menggunakan Matrix IFE-EFE, Internal Nokia lemah, belum berhasil memanfaatkan peluang eksternal dan gagal menghadapi ancaman eksternal.
  4. Nokia harus memberikan/memaksimalkan inovasi-inovasi terbaru dan tercanggih terhadap permintaan masyarakat yang tinggi akan gengsi produk terbaru untuk dapat terus bertahan di bisnis ini.
  5. Strategi lain yang dapat dilakukan oleh Nokia adalah memberikan edukasi dan pemahaman kepada pasar terhadap pemakaian  produk yang kualitas tinggi agar meminimalkan penguasaan pasar oleh produk dari Cina yang murah. 
  6. Kompetisi dengan China dapat dimenangkan salah satunya dengan cara meminimalkan harga agar produk-produk murah dari Cina tidak sepenuhnya menguasai pasar. 
  7. Usaha yang lain adalah Litigasi Paten, dimana Nokia melayangkan gugatan penyalahgunaan hak paten atas produk pesaing yang dirasa menjiplak teknologi Nokia, seperti HTC, RIM dan Viewsonic untuk pelanggaran 45 paten di AS dan Jerman.

Wednesday, September 26, 2012

Studi Kasus #1: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 Mengenai Telekomunikasi


Lahirnya Undang-Undang (UU) No. 36 Tahun  1999 tentang Telekomunikasi sebagai pengganti UU No. 3 Tahun  1989 bukannya tanpa alasan. Mencuatnya  pandangan bahwa regulasi yang ada saat  itu  dinilai  sudah  tidak  memadai  lagi merupakan  titik  awal dilakukannya  peninjauan kembali terhadap UU No. 3 Tahun 1989, dimana salah satu hasil utamanya adalah dihapuskannya  sistem  penyelenggaraan  telekomunikasi yang bersifat  monopolistik. Namun lahirnya  UU  No.  36 Tahun  1999 pun  tidak  membuat   masalah  di  sektor  telekomunikasi berhenti. Saat ini terdapat banyak indikasi akan perlunya UU tersebut untuk  direvisi. Perbandingan yang dapat diketahui secara ringkas terkait kedua UU tentang telekomunikasi tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :


Sumber : UU Telekomunikasi No.3 Tahun 1989 dan UU No.36 Tahun 1999

Laporan ini berusaha menginventarisasi  faktor-faktor yang mendorong  lahirnya UU No. 36 Tahun  1999, membuat  analisa kebijakan pada UU No. 36 Tahun 1999 terkait dengan model bisnis baru serta memberikan  saran yang relevan terkait dengan perubahan  tersebut.
Permasalahan yang Ingin Dijawab
Laporan  Akhir  ini  mencoba  menjawab  beberapa  permasalahan  mengenai  perubahan   UU Telekomunikasi, yaitu:
1.  Mencari fakta pemicu lahirnya UU No. 36 Tahun 1999;
2. Melakukan analisis untuk menilai keterbatasan UU No. 36 Tahun 1999 saat ini sesuai dengan tema ICT Outlook  2012; dan
3. Menyusun kesimpulan dan saran yang dapat diterapkan


Dasar Teori

Laporan ini menggunakan model analisis kebijakan Weimer-Vining dengan kerangka berikut.


Model Analisis Kebijakan Weimer-Vining

Analisa

Pemicu Lahirnya UU No. 36 Tahun 1999
Menurut beberapa sumber, faktor yang memicu lahirnya UU No. Tahun 1999 adalah:
1.  Perubahan teknologi;
2. Krisis Ekonomi, Sosial dan Politik; serta
3. Dominasi pemerintah dalam penyelenggaraan telekomunikasi dan proyek Nusantara21;
4. Perubahan nilai layanan telekomunikasi dari barang publik menjadi komoditas;
5. Teledensity  rendah;
6. Masuknya modal asing di sektor telekomunikasi;
7. Keterbatasan penyelenggara pada era monopoli dalam hal pembangunan  infrastruktur;
8. Pergeseran  paradigma  perekonomian dunia,  dari  masyarakat  industri  menjadi  masyarakat informasi;
9. Praktik  bisnis yang tidak sehat di sektor telekomunikasi; dan
10.Kurangnya sumber daya manusia di sektor telekomunikasi.

Keterbatasan UU No. 36 Tahun 1999 saat  ini
Untuk mengidentifikasi  permasalahan,  Weimer-Vining  menawarkan  penggunaan  pohon keputusan  dengan model berikut:


“Pohon Keputusan” Analisis UU No. 36 Tahun 1999 Saat Ini


Dalam kasus yang menjadi tema utama ICT  Outlook  2012, beberapa variable diperlukan  dalam menggunakan  model  “pohon  keputusan”  tersebut antara  lain ARPU  operator   dan  revenue OTT  dan  teledensitas [1] , perkembangan  teknologi [2] serta regulasi. Ketiga  variabel  tersebut apabila diimplementasikan ke dalam “pohon keputusan” akan menghasilkan skema berikut
Hasil dari penggunaan “pohon keputusan”  diketahui  bahwa terjadi market failure dan goverment failure  di mana  saran  yang  sesuai adalah menemukan kebijakan yang unggul dan membandingkan cost dari implementasi  kebijakan tersebut terhadap market failure. Indikasi dari market failure terlihat dari ARPU  operator  yang kian  menurun.  Hal  ini berbanding  terbalik dengan  peningkatan  teledensitas dan revenue  bisnis OTT  yang terus terjadi. Sementara  itu, pemerintah juga turut  serta memberikan  warna terhadap fenomena  market failure. Government failure yang terjadi disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam mengantisipasi  perkembangan teknologi.
Perkembangan teknologi, seperti  teknologi IMS, dapat  merubah  model bisnis telekomunikasi secara  keseluruhan.   Sebagai  contoh,   sebuah  pelang gan  dapat  membeli  atau  menyewa infrastruktur  dari  sebuah  penyelenggara  dan  berlangganan  sebuah  atau  beberapa  layanan kepada penyelenggara lainnya. Hal ini tentunya dapat menyebabkan  model bisnis yang tadinya berupa  intergrasi  vertikal, dimana  penyelenggara menguasai bisnis dari hulu ke hilir, berubah menjadi  integrasi  horisontal  untuk mereduksi  CAPEX  dan  TCO   serta mengoptimalisasi OPEX  sehing ga penyeleng gara  dapat  bersaing  dalam  sistem  kompetisi  penuh.  Selain disebabkan  oleh market failure, kegagalan regulasi dalam mengadopsi  perubahan  model bisnis juga  menjadi  sebab  utama  dalam  perma salahan  ini.  UU  No.  36  Tahun   1999  ga gal mendefinisikan dengan jelas batasan dan jenis jasa telekomunikasi sehingga banyak bisnis OTT yang menjamur dengan menumpang “secara gratis” kepada pelenggara jaringan telekomunikasi.



Kesimpulan

Dalam  laporan  awal ini disampaikan  sebuah  kesimpulan,  yaitu terjadi perulangan  fenomena antara  yang terjadi  di  jaman  UU  No.  3  Tahun  1989  dan  UU  No.  36 Tahun  1999  yaitu ketidakmampuan regulasi dalam mengadopsi  perkembangan teknologi dan pergeseran  model bisnis telekomunikasi.

Saran

Dalam laporan awal ini disampaikan beberapa saran, yaitu:
1.  Diperlukannya  sebuah  regulasi baru  yang dapat  mengadopsi  model  bisnis  baru  di sektor telekomunikasi yang memisahkan  antara  layer layanan dan  infrastruktur sehingga sebuah penyelenggara  dapat  mereduksi  TCO  serta  bersaing  dan bersimbiosis  mutualisme  dengan jenis penyelenggara layanan baru; dan
2. Diperlukannya  sebuah model interaksi  dalam regulasi untuk  mengatur  mekanisme  interaksi antar  penyelenggara telekomunikasi, baik itu penyelenggara layanan maupun  infrastruktur. Sehingga terdapat mekanisme bisnis yang sehat antar penyelenggara telekomunikasi.

Penulis,

Kelompok 7

Referensi :

1 Data ARPU bersumber dari http://mtel.mercubuana.ac.id/wp-content/uploads/2010/09/paper04.pdf
2 Perkembangan teknologi yang dimaksud adalah perkembangan teknologi yang berkaitan dengan konvergensi
TIK, antara lain adalah teknologi IMS (IP Multimedia Subsystem) yang bersumber dari http://www.rennes.enst-bretagne.fr/~gbertran/files/IMS_an_overview.pdf)

Monday, September 10, 2012

Penggunaan Alokasi Pita Frekuensi di Indonesia



Alokasi frekuensi merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam industri telekomunikasi. Terutama untuk komunikasi mobile, frekuensi menjadi sumber daya utama yang harus tersedia. Tetapi pentingnya alokasi frekuensi tersebut tidak didukung dengan jumlahnya yang sangat terbatas. Di Indonesia. Hampir semua alokasi frekuensi untuk kebutuhan seluler telah digunakan untuk berbagai macam teknologi. Berikut ini adalah beberapa gambaran mengenai kondisi saat ini untuk beberapa alokasi frekuensi di Indonesia.

Pita frekuensi 700 MHz.

Pada gambar dibawah ini memperlihatkan kondisi pita frekuensi di 700 MHz. Pita frekuensi ini digunakan untuk analog TV. Dengan lebar pita selebar 336 MHz dan digunakan oleh beberapa stasiun broadcast TV. Saat ini telah ada kebijakan pemerintah untuk mengganti analog TV menjadi digital TV. Dengan kebijakan ini maka penggunaan frekuensi untuk broadcast TV akan semakin kecil sehingga dapat menyisakan alokasi frekuensi yang nantinya akan dapat digunakan untuk layanan mobile broadband. Alokasi frekuensi yang dapat digunakan untuk mobile broadband sangat besar yaitu sekitar 112 MHz. Alokasi selebar ini akan dapat digunakan untuk implementasi LTE tetapi masalahnya harus menunggu hingga tahun 2018 dan pada tahun tersebut perkembangan teknologi broadband akan lebih berkembang lagi.



Pita frekuensi 850 MHz.

Pada gambar dibawah ini memperlihatkan kondisi saat ini di pita frekuensi 850 MHz. Pita frekuensi ini digunakan untuk layanan FWA CDMA. Operator yang menggunakan frekuensi ini ada 4 operator dengan memiliki lebar alokasi frekuensi yang berbeda beda. Lebar pita untuk keseluruhan alokasi frekuensi ini adalah 20,25 MHz. Dengan melihat perkembangan teknologi telekomunikasi saat ini dimana semakin lama membutuhkan lebar pita frekuensi yang semakin lebar maka frekuensi ini belum dapat memenuhi kebutuhan lebar pita frekuensi di masa mendatang.



Pita Frekuensi 900 MHz.

Pada gambar dibawah ini memperlihatkan kondisi saat ini di pta frekuensi 900 MHz. Pita frekuensi ini digunakan untuk layanan GSM 2G. Operator yang terdapat pada frekuensi ini ada 3 operator. Masing-masing operator memiliki lebar pita yang berbeda, Indosat memiliki 10 MHz, Tsel dan XL memiliki 7,5 MHz. Lebar pita secara keseluruhan pada alokasi frekuensi ini adalah 25 MHz. Dengan jangkauan yang lebih luas, frekuensi 900 Mhz diharapkan mampu mengusung layanan mobile broadband. Sebagai contoh, Saat ini 3G di Indonesia berjalan di frekuensi 2100 Mhz dengan bandwidth 5 Mhz. Sedangkan bila 3G diadopsi pada frekuensi yang lebih rendah, 900 Mhz, maka jangkauan akan meningkat lebih jauh. Dengan kelebihannya itu, 3G di 900 Mhz mulai banyak diadopsi operator di luar negeri. Berdasarkan rilis dari GSA (Global mobile Suppliers Association) tahun 2010 lalu, sudah 10 operator yang mengadopsi solusi ini. Elisa dari Finlandia menjadi yang pertama meluncurkan 3G 900 Mhz pada tahun 2007, dan terakhir Digitel dari Venezuela pada tahun 2009. Untuk wilayah Asia, beberapa operator di Thailand, Singapura, Filipina dan Hong kong juga sudah mulai mengadaptasi 3G 900 Mhz.



Pita Frekuensi 1800 MHz.

Pada gambar dibawah ini memperlihatkan kondisi pada pita frekuensi 1800 MHz. Pita frekuensi ini digunakan untuk layanan GSM 2G dengan 5 operator yang beroperasi pada alokasi frekuensi ini. Lebar pita secara keseluruhan adalah 75 MHz. Untuk masing-masing operator mempunyai lebar pita yang berbeda, XL memiliki 7,5 MHz, Tsel memiliki total 22,5 MHz dengan 3 blok frekuensi yang terpisah, Isat memiliki total 20 MHz dengan 2 blok frekuensi yang terpisah, HCPT-Tri memiliki total 10 MHz dan Axis Memiliki 15 MHz.

 

Pita Frekuensi 2100 MHz.

Pada gambar dibawah ini merupakan kondisi pada pita frekuensi 2100 MHz. Pita frekuensi ini digunakan untuk layanan UMTS dan terdapat 5 operator yang menggunakan frekuensi ini dengan masing-masing memiliki lebar pita 10 MHz atau 2 blok alokasi frekuensi. Total lebar pita frekuensi ini adalah 60 MHz. Pita frekuensi ini memiliki 12 blok frekuensi dengan masing-masing lebar pita 5 MHz. Dari 12 blok frekuensi ini masih terdapat 2 blok frekuensi yang masih kosong. HCPT(3), NTS (Axis), XL, Indosat dan Telkomsel masing-masing memiliki 2 blok frekuensi sebesar 2 x 5 MHz. Lokasi frekuensi ini berdasarkan pemetaan hasil lelang tahun 2006-2008. Pemberian blok frekuensi kedua telah dilakukan pada tahun 2009 kepada Telkomsel dan Indosat dan pada tahun 2010 untuk XL. Pada bulan Desember 2011 lalu pemerintah memberikan blok frekuensi kedua untuk HCPT (3) dan Axis. Adanya pengalokasian gabungan antara PCS-1900 (Smart Telcom) yang beroperasi sejak tahun 2007 dan UMTS ini akan berpotensi terjadi interference.

 

Pita frekuensi 2300 MHz.

Berdasarkan Peraturan Menkominfo nomor 08/PER/M.KOMINFO/01/2009 tanggal 19 Januari 2009 tentang Penetapan Pita Frekuensi Radio Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel Pada Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz ditetapkan bahwa pita ini menggunakan moda TDD (Time Division Duplex)yang terdiri dari 15 nomor blok dimana nomor blok 1 sampai dengan nomor blok 12 masing-masing lebar frekuensinya 5 MHz sedangkan nomor blok 13 dan nomor blok 14 masing-masing lebar frekuensinya 15 MHz dan nomor blok 15 lebar frekuensinya 10 MHz. Pada blok 13 dan 14 ini telah digunakan untuk layanan WiMAX yang telah dilakukan tender untuk beberapa wilayah regional.

 

Pita Frekuensi 2600 MHz.

Pada gambar dibawah ini menunjukkan kondisi pita frekuensi 2600 MHz. Pita ini digunakan untuk layanan broadcasting service satelite (BSS) yang dilaksanakan oleh Indovision dan terdapat alokasi untuk layanan BWA. Lebar pita untuk frekuensi ini secara keseluruhan adalah 184 MHz. Total lebar pita tersebut terbagi yaitu pada pita frekuensi 2520 – 2670 MHz (150 MHz) digunakan untuk penyelenggaraan infrastruktur telekomunikasi bagi layanan penyiaran berbayar melalui satelit Indostar II yang dilaksanakan oleh MNC Sky Vision dan pada pita 2500 – 2518 (18 MHz) dan 2670 – 2686 MHz (16 MHz) digunakan untuk keperluan BWA.


Penulis,
Satrio Hendartono
g3rry_satrio@yahoo.com
 

Monday, August 27, 2012

Evolusi core network dalam sistem telekomunikasi selular.


Telekomunikasi selular telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dewasa ini. Salah satu bagian penting dari sistem telekomunikasi selular adalah core network. Core network semakin disadari pentingnya berkat hal berikut:

  1. Pertumbuhan penggunaan smartphone, yang mengakibatkan pertumbuhan trafik baik voice maupun data;
  2. Peningkatan penggunaan fixed broadband maupun mobile broadband, yang membawa kepada arsitektur all-IP networks;
  3. Semakin beragamnya layanan telekomunikasi saat ini dan ke depan yang memerlukan Quality of Service (QoS) yang berbeda-beda; dan
  4. Trend ke depan menuju konvergensi dan LTE memerlukan platform yang mendukung, platform yang dimaksud adalah di sisi core.

Bagaimana core network berevolusi?

Sebagaimana sistem telekomunikasi seluler yang berevolusi dari waktu ke waktu, core network pun mengalami evolusi. Evolusi tersebut bertujuan untuk adaptasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Evolusi besar pertama yang terjadi di sisi core network adalah pergeseran arsitektur core network dari 3gpp release 99 menuju 3gpp release 4.




Perubahan ini ditandai dengan pemisahan trafik userplane (suara) dan control plane (signaling), dimana pada 3gpp release 4, userplane ditangani oleh Multimedia gateways (MGW) dan control plane ditangani oleh Mobile Switching Centre Server (MSS).




Adaptasi berikutnya adalah pengenalan IP Multimedia Subsystem (IMS) untuk mendukung proses konvergensi antara circuit core dan packet core (internet). IMS ini menandai proses evolusi  berikutnya yang dikenal dengan nama 3pp release 5.




Masa depan core network

Lantas bagaimana masa depan core network? Berikut ada beberapa kriteria yang penting bagi perkembangan core network di masa depan:

*      Memenuhi roadmap menuju LTE network

*      Ukuran yang lebih kecil (hemat space)

*      hemat power (efisiensi power yang tinggi)

*      Harga murah (low cost) dan pengembangan yang cepat (fast deployment)

*      Peluncuran produk ke pasar yang lebih cepat (Faster time to market)

*      Availability tinggi (99.999%) dan redundancy.

*      Kapasitas dan performansi yang lebih besar à solusi untuk kenaikan jumlah pelanggan yang bertambah pesat.

*      Modular designà terdiri dari beberapa modul yang bisa dibongkar pasang tanpa downtime.

*      Open hardware architecture à arsitektur hardware yang terbuka, yakni terbuka terhadap teknologi dari vendor lain, maupun terbuka terhadap elemen jaringan yang lain.

*      Interoperability antar beberapa komponen dari beberapa vendor àmenggunakan konsep COTS (Commercial Off The Shelf), yakni produk SW atau HW yang sudah jadi dan tersedia untuk dijual ke public dan didesain untuk bisa diimplementasikan dengan mudah kepada system yang ada tanpa membutuhkan penyesuaian (SW or HW products that are ready-made and available for sale to the general public and  are designed to be implemented easily into existing systems without the need for customization).

*      Memenuhi persyaratan regulatory (ETSI).
Seperti apakah core network di masa datang? Sebagai gambaran berikut ada ilustrasi evolusi core network dari salah satu vendor telekomunikasi global.


Bagaimana implementasinya? Mari kita nantikan dan amati bersama perkembangan core network pada telekomunikasi di Indonesia.

 

Penulis :
Raden Kurnia Supriadi
kurnia.supriadi@gmail.com

Tuesday, August 14, 2012

Antara Nokia dan Research In Motion

Siapa yang tidak mengenal merk telepon genggam yang satu ini, Nokia. Merk telepon genggam asal Finlandia ini sempat menjadi gadget jutaan manusia. Popularitas nya merebak dengan cepat, dengan berbagai model terbaru yang selalu hadir dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, mulai dari handphone dengan teknologi CDMA, GSM hingga smartphone merk Nokia sempat menjadi primadona. Popularitas nya sempat membuatnya memiliki istilah "handphone sejuta umat".

Tak banyak berbeda dengan Nokia, smartphone dengan feature exclusive 'blackberry massenger' dari produsen smartphone asal Kanada yang memberi nama produknya Blackberry juga memiliki popularitas yang sempat meroket dalam waktu singkat.

Apa yang terjadi dengan kedua (mantan) raksasa penguasa gadget tersebut saat ini ?

NOKIA


Gambar 1. Pergerakan Saham Nokia

Mari belajar dari Nokia. Pergerakan harga sahamnya berlawanan dengan pasar dan kita tahu apa yang sedang terjadi pada perusahaan telekomunikasi besar dari Finlandia ini.

Gambar 1 menunjukkan pergerakan nilai saham Nokia dibandingkan dengan Nasdaq, S&P500, dan Dow Jones. Harga saham Nokia bergerak dalam arah yang berbeda dan hal ini telah menimbulkan situasi yang sulit bagi perusahaan dan pihak-pihak terkait lainnya.

 Coba kita perhatikan sejumlah peristiwa berikut ini. Selama bulan Juli 2012 Nokia telah menutup pabrik  miliknya di negerinya sendiri. No more “Made in Finland”. Kemudian Nokia menutup sejumlah kantor di luar negeri seperti Brisbane , Teheran, dan Cina. Selain itu, Nokia juga mencatat kerugian yang besar pada Q2/2012  ini dibandingkan periode yang sama tahun 2011.



Berita ini menimbulkan sejumlah pertanyaan. Faktor-faktor apa yang menyebabkan Nokia mengalami situasi sulit seperti ini?

RESEARCH IN MOTION
Gambar 2. Pergerakan Saham RIM

Produsen smartphone Blackberry ini sepertinya juga sedang mengalami masalah dengan kinerja. Gambar di sebelah ini berikut informasi seputar perusahaan ini di berbagai sumber memberi gambaran kepada. bisa tentang apa yang sedang terjadi.
RIMM memiliki total aset yang lebih rendah dibandingkan NOKIA.
 Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah industri ini sedang di persimpangan jalan?  Bagaimana kondisi industri telekomunikasi dalam negeri saat ini? ( lihat Halo-Halo Bandung )

Monday, August 6, 2012

LTE, Dimanakah Alokasinya ?


Perkembangan LTE di Indonesia saat ini masih dalam tahap uji coba. Operator telekomunikasi di Indonesia mulai giat untuk mempersiapkan jaringan untuk mengakomodir teknologi 3.9G ini. Operator telekomunikasi di Indonesia lebih memilih menggunakan LTE dalam mempersiapkan jaringan mereka untuk menuju era 4G di masa mendatang. 3 operator besar di Indonesia telah melakukan ujicoba LTE. XL Axiata telah melakukan uji coba LTE pada bulan Desember 2010 lalu dan hingga saat ini XL Axiata masih meneruskan mengkaji dan melakukan uji coba. Selain XL Axiata, Telkomsel dan Indosat juga telah mempersiapkan percobaan awal untuk LTE ini. Saat ini para operator telah siap untuk implementasi LTE tetapi masih menunggu adanya regulasi dari pemerintah tentang penyelenggaran LTE di Indonesia. Saat ini, pemerintah belum memutuskan pita frekuensi yang akan digunakan untuk LTE sehingga para operator belum dapat memberikan layanan LTE ini ke pelanggan. Terkait dengan pengembangan teknologi LTE, pada bulan Mei tahun 2010 lalu pemerintah melalui Dirjen Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informasi telah menerbitkan White Paper “Study Group Alokasi Pita Frekuensi Radio Untuk Komunikasi Radio Teknologi 4G” yang merupakan konsep regulasi/kebijakan pemerintah dalam penataan spektrum frekuensi radio layanan akses pita lebar berbasis 4G. Konsep ini disusun berdasarkan sejumlah masukan pada konsultasi publik Penataan Frekuensi 4G yang diadakan pada awal tahun 2010, maupun sejumlah masukan dari berbagai pihak, serta referensi-referensi pada beberapa forum internasional seperti APT (Asia Pacific Telecommunity) Wireless Forum, ITU study group, dan sebagainya.
Pada gambar dibawah ini menunjukkan beberapa alokasi frekuensi yang akan digunakan untuk implementasi LTE. Tetapi kondisi saat ini alokasi beberapa alokasi frekuensi tersebut telah digunakan untuk teknologi-teknologi yang lain.






Dengan kondisi alokasi frekuensi di Indonesia saat ini membutuhkan pertimbangan yang matang dalam implementasi LTE di suatu alokasi frekuensi tertentu. Pada frekuensi 700 MHz terdapat alokasi frekuensi untuk analog TV sehingga implementasi LTE akan tergantung dari perkembangan pelaksanaan digital devidend di Indonesia. Padahal roadmap dari digital devidend baru akan selesai pada tahun 2018 sehingga penggunaan teknologi mobile broadband pada alokasi frekuensi ini baru dapat dilaksanakan setelah tahun 2018. Pada frekuensi 850 MHz dialokasikan untuk FWA (Fixed Wireless Access) yang dahulu telah dipindah dari pita frekuensi 1900 MHz dan hampir tidak mungkin untuk dipindah kembali. Pada pita frekuensi 2600 MHz terdapat alokasi frekuensi untuk BSS (Broadcasting Satelit Service) yang telah mempunyai lebih dari 700 ribu pelanggan dan agak sulit untuk dipindahkan. Pada pita frekuensi 900 dan 1800 terdapat alokasi frekuensi untuk GSM. Dimana pembagian lebar pita yang tersedia untuk operator pada kedua alokasi frekuensi ini tidak sama satu sama lain dan memiliki lebar pita yang sempit. Terutama pada pita frekuensi 900 MHz yang hanya memiliki lebar pita 25 MHz. Sedangkan untuk pita frekuensi 2100 MHz, para operator memiliki lebar pita frekuensi yang sama yaitu sebesar 10 MHz dan masih terdapat 2 blok frekuensi yang masih kosong. Tetapi dalam implementasi LTE di pita frekuensi 2100 MHz harus mempertimbangkan posisi dari blok frekuensi yang telah ditempati oleh masing-masing operator agar dapat berdampingan dan lebar pita yang dapat disediakan untuk implementasi LTE sehingga implementasi LTE dapat optimal untuk layanan broadband dengan kecepatan tinggi. Selain itu terdapat blok frekuensi 2300 yang saat ini digunakan untuk teknologi WiMAX. Penggunaan blok frekuensi ini untuk teknologi LTE juga memungkinkan tetapi harus mempertimbangkan bagaimana perkembangan dari teknologi WiMAX.

Penulis :
Satrio Hendartono
g3rry_satrio@yahoo.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger